Diktat Ushul Fikih Genap

Ushul Fiqh

Pengertian dan Pembagian Hukum Syara’

Hukum:  اب الله المتعلق بافعال المكلفين اقتضاء اوتخييرا اووضعاخط

“Tuntutan Allah yang berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan, atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, penghalang, sah, batal, azimah, atau rukhsah”

Khitabullah; hukum harus bersumber dari Syara’ (al-Qur’an dan as-Sunnah)

Perbuatan mukallaf; hanya mukallaf (baligh dan berakal) yang dibebani hukum. Hukum yang berlaku untuk anak kecil hanya sebagai pendidikan, bukan tindakan hukum yang mempunyai resiko, sehingga khitab-syari’ yang berkenaan dengan anak kecil dan orang gila, ditujukan kepada wali atau washi (orang yang diwasiati untuk memelihara mereka).

 

 

 

 

Taklifi: tuntutan Allah berupa perintah berbuat/perintah meninggalkan suatu perbuatan.

Jumhur: ada 5;

Ø      Ijab; ماطلب الشارع فعله من المكلف طلبا حتما,يثاب فاعله ويعاقب تاركه

tuntutan secara pasti untuk melaksanakan, apabila ditinggalkan berdosa. Ijab (khitab-Nya/ayat-hadis=kewajiban sholat, misalnya), wujub adalah akibat khitab (berkaitan dengan mukallaf), dan wajib adalah perbuatan yang dituntut oleh khitab (sifat).

Ø      Nadb; غير جازم,يحمد فاعله ولايذم تاركه = ‘tuntutannya tidak tegas; dilakukan dapat pahala, ditinggalkan tidak dicela’. Al-Baqarah (2): 282-3. Nadb (kewajiban mencatat hutang-piutang), akibatnya nadb, yang dituntut mandub

Ø      Ibahah; ماخير الشارع المكلف بين فعله وتركه, akibatnya ibahah, yang dibolehkan mubah. Contoh al-Jumu’ah (62): 10.

Ø

Ø                  Karahah; ماطلب الشارع تركه طلبا غيرجازم karahah- makruh, contoh hadis tentang kemakruhan cerai.

Ø      Tahrim; ماطلب الشارع تركه على وجه الحتم والالزام, يذم شرعا فاعله

Tahrim, akibatnya hurmah, yang dilarang haram.

Wadh’i, ada lima; sabab, syarat, penghalang/mani’, sah-fasad-batal, dan azimah-rukhsah.

Ø   Sabab: sifat nyata yang dapat diukur yang dijelaskan oleh nash bahwa keberadaannya menjadi petunjuk bagi hukum syara’. Contoh zina penyebab hukuman dera. Sebab sebagai indikator pelaksanaan hukum taklifi.

Ø   Syarat: Sesuatu yang tergantung kepadanya ada sesuatu yang lain, dan berada di luar dari hakikat sesuatu itu; jika syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada, tetapi adanya syarat tidak mengharuskan adanya hukum syara. Contoh wudhu.

Ø   Mani’/penghalang: Sifat nyata yang keberadaannya menyebabkan tidak ada hukum atau tidak ada sebab. Misalnya membunuh menjadi penghalang waris.

*keterkaitan antara ke-3-nya sangat erat. Syari’ menetapkan bahwa suatu hukum yang akan dikerjakan adalah hukum yang ada sebabnya, memenuhi syarat-suaratnya, dan tidak ada penghalang. Contoh mau shalat tapi haid.

Ø   Sah-fasid-batil. Sah: suatu hukum yang sesuai dengan tuntutan syara, yaitu terpenuhinya sebab-syarat dan tidak ada mani. Batil: terlepasnya hukum syara dari ketentuan yang diterapkan dan tidak ada akibat hukum yang ditimbulkan. Misalnya jual-beli khamr. Fasid (Hanafiyyah): terjadinya kerusakan dalam unsur-unsur akad, seperti jual-beli ajal. Menurutnya, rukun dan syarat jual beli memenuhi syarat dan unsur riba dalam jual beli ini bisa dihilangkan, yaitu dengan menjual sepeda motor (misalnya) itu dengan pembayaran tunda, tanpa pebambahan harga sama sekali. Jumhur UF dan Mutakallimin berpendirian bahwa antara batal dan fasid adalah sama, yaitu sama-sama tidak sah.

Ø   Azimah: hukum yang disyari’atkan Allah kepada hamba-Nya sejak semula dan berlaku untuk seluruh mukallaf, sedang rukhshah: hukum yang ditetapkan berbeda dengan dalil yang ada karena ada uzur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedangkan menurut Hanafiyyah, hukum taklifi ada 7; tuntutan untuk mengerjakan ada 3 (iftiradh/fardu, ijab dan nadb), tuntutan untuk meninggalkan ada 3 (karahah tanzih, karahah tahrim, dan tahrim), dan ibahah.

Ø   Fardu; tuntutan pasti yang didasarkan pada dalil qath’i, baik periwayatannya maupun dalalahnya (penunjukan hukumnya). Misalkan kewajiban shalat dan zakat (ayat dan hadis-nya qath’i).

Ø      Ijab; tuntutan pasti, tapi berdasarkan dalil dzanni (relatif benar). Misalnya kewajiban zakat fitrah, membaca Fatihah dalam shalat, dan ibadah qurban (hadisnya hanya ahad).

Ø      Karahah tanzihiyyah; tuntutan untuk meninggalkan dengan tuntutan yang tidak pasti, seperti larangan berpuasa pada hari Jum’at (= karahah Jumhur).

Ø      Karahah tahrimiyyah; tuntutan pasti untuk meninggalkan, tetapi didasarkan kepada dalil dzanni. Jika perbuatan tersebut tetap dilakukan, orang tersebut dikenakan hukuman. Misalnya larangan jual-beli ketika panggilan shalat Jum’at telah terdengar (al-Jumu’ah [62]: 9)

Ø      Tahrim; tuntutan pasti untuk meninggalkan dan didasarkan pada dalil qath’i. misalnya larangan membunuh orang.

Implikasi:

  1. Menurut Hanafiyyah, orang yang mengingkari fardu atau tahrim dihukumi kafir, sedang jika mengingkari yang wajib tidak kafir. Sedangkan menurut Jumhur antara fardu dan wajib sama, jadi mengingkarinya kafir.
  2. Hanafiyyah, meninggalkan fardu, ibadahnya batal dan wajib mengulangi, tapi jika yang ditinggalkan itu pekerjaan wajib, tidak batal hanya tidak sempurna. Jika ketinggalan Fatihah, shalatnya kurang sempurna; boleh mengulangi atau tidak usah, tetapi ia berdosa karena telah meninggalkan yang wajib. Bagi Jumhur, meninggalkan wajib/fardu tetap batal karena tidak ada perbedaan keduanya.
  3. Hanafiyyah, melakukan  karahah tahrim, berdosa sekalipun mengingkarinya tidak dihukumi kafir. Sedangkan karahah tanzih, pelakunya tidak dihukum, tidak dicela dan tidak dikenai dosa. Bagi Jumhur, karahah hanya satu bentuk; pelakunya tidak dikenai hukuman, tetapi dicela.

Catatan:

  1. Jumhur juga membagi hukum mandub dan makruh kepada beberapa tingkatan, namun tidak memasukkannya sebagai bagian tersendiri dari hukum taklifi.
  2. pembedaan antara fardu dan wajib berimplikasi membingungkan. Misalnya, masalah membaca Fatihah. Bagi Rasulullah dan Sahabat yang langsung menerima dan mendengar Hadis, membaca Fatihah fardu (karena dalilnya qath’i), tetapi bagi Sahabat lain yang tidak menerima dan mendengar langsung Hadis tentang Fatihah dan generasi berikutnya, hukumnya hanya wajib (karena Hadis tentang membaca Fatihah dalam shalat hanya hadis Ahad). Ini tentu tidak bisa diterima syara’, karena tidak ada pembedaan dalam melaksanakan ibadah.
  3. hukum-hukum syara’ yang bersifat qath’i, baik periwayatan maupun dalalahnya, sangat terbatas. Hal ini berakibat terbatasnya hukum fardu.
  4. perbedaan lafal fardu dengan wajib secara etimologis tidak berpengaruh dalam hukum dan tidak bisa dikuatkan salah satunya karena pembicaraan para ulama ushul fikih tentang fardu dan wajib adalah dalam pengertian terminology, dan nyatanya perbedaan kedua aliran dalam masalah ini hanya semata-mata perbedaan lafal dan istilah.

 

Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaih

A.       Hakim, ada dua pengertian:

1.    واضع الاحكام ومثبتها و منشئها و مصدرها: Pembuat, yang menetapkan, yang memunculkan dan sumber hukum. Definisi ini, hakim adalah Allah SWT. Dengan demikian, sumber hukum secara hakikat adalah Allah, baik hukum itu diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad melalui wahyu, maupun hasil ijtihad para mujtahid melalui berbagai teori istinbat (alat untuk menyingkap).

2.    الدي يدرك الاحكام ويظهرها و يعرفها و يكشف عنها: Yang menemukan, menjelaskan, memperkenalkan, dan menyingkapkan hukum.  Dari definisi ini maka hakim adalah syari’at yang turun dari Allah yang dibawa oleh Rasululllah. Apa yang dihalalkan Allah hukumnya halal dan apa yang diharamkan-Nya hukumnya haram. Yang halal itu disebut hasan (baik) yang di dalamnya ada kemaslahatan bagi manusia, sedang yang diharamkan-Nya disebut qabih (buruk) yang di dalamnya ada kemudaratan atau kemafsadatan bagi manusia. Oleh karena itu dalam UF ada istilah at-tahsin wa at-taqbih, yaitu menyatakan sesuatu itu baik atau buruk (ada perdebatan antara Asy-ariyah dan Mu’tazilah dalam masalah ini berkaitan dengan kemampuan akal mengetahui baik-buruk)

B.     Mahkum Fih

 

 

 

 

Ushul Fiqh;

Materi dan Pembagian Tugas[1]

1.        Pengertian Ushul Fiqh, obyek kajian, kegunaan, sejarah pertumbuhan-perkembangan, dan aliran-alirannya.

2.        Sumber dan dalil Hukum Islam[2]

3.        Hukum Syara’; pengertian dan pembagian hukum Syara’ (taklifi dan wad}’i), hakim (definisi, tahsin-taqbih dan kemampuan akal mengetahui syari’ah), mah}ku>m fi>h dan mah}ku>m ‘alaih (pengertian, dasar taklif dan syarat taklif, ahliyah: definisi, pembagian dan halangan)

4.        Metode Istinbat (kaidah Ushuliyyah)[3]

A.  Metode Istinbat dari segi Bahasa; amar-nahi-takhyir, am-khas, mutlak-muqayyad, mujmal-mubayyin, muradif-musytarak, mant}u>q[4]-mafhu>m (muwafaqah dan mukhalafah), dhahir-muawwal, nasikh-mansukh, wa>d}ih}-ghairu wa>d}ih} maknanya[5], hakikat-majaz-ta’wil.

B.   Metode Penetapan Hukum melalui Maqasid Syari’ah

C.   Ta’a>rud} dan Tarji>h}

5.        Konsep Ijtihad; pengertian, dasar hukum, fungsi, lapangan, syarat mujtahid,hukum berijtihad, tingkatan mujtahid, dan macam-macam ijtihad.

6.        Masalah ta’arud al-adillah; pengertian dan cara menyelesaikan, naskh, dan tarjih.

 

No Topik/Judul No Topik/Judul No Topik/Judul
1 Taklifi-takhyiri Jumhur 16 Mantuq Hanafiyyah 31 Dalalah Alq thd hukum
2 Taklifi-Takhyiri Hanafiyah 17 Wadih; Nash 32 Kehujjahan Sunnah
3 Wad’i 18 Wadih; Dzahir 33 Ijma
4 Amar 19 Wadih; Mujmal 34 Qiyas;
5 Nahi 20 Wadih; dzahir & nash 35 ‘Illat
6 ‘Am 21 Wadih; mufassar & muhkam 36 Istihsan; arti, macam, kehujjahannya
7 Khas 22 G.wadih; khafi-musykil 37 Qiyas Vs Istihsan
8 Mutlak 23 Mujmal-mutasyabbih 38 Maslahah
9 Muqayyad 24 Mafhum muwafaqah 39 Istishab
10 Mujmal 25 Mafhum mukhalafah 40 ‘Urf
11 Mubayyin 26 Dhahir-Muawwal 41 Syar’u man Qablana
12 Nasikh-Mansukh 27 Hakikat-majaz-ta’wil 42 Mazhab Shahabi
13 Muradif-Musytarak 28 Ta’arud 43 Sadduz-Zari’ah
14 Mantuq Sharih Jumhur 29 Tarjih 44 Fath az-Zari’ah
15 Mantuq Ghairu Sharih Jumhur 30 Kehujjahan al-Qur’an 45 Maqashid asy-syari’ah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Dibuat oleh Imroatul Azizah, MAg untuk mata kuliah Ushul Fiqh Semester VI-PAI dan Muamalah, TA 2009/2010.

[2] Sumber; al-Qur’an & as-Sunnah. Dalil dan metode Istinbat: 1. Muttafaqun alaih; Ijma dan Qiyas. 2. Mukhtalaf alaih; Istihsan, maslahah, Istishab, ‘Urf, Syar’u man qablana, mazhab shahabi, dan dzari’ah.

[3] Kaidah yang dipakai oleh para ulama ushul berdasarkan makna dan tujuan ungkapan-ungkapan yang telah ditetapkan oleh para ahli bahasa Arab, setelah diadakan penelitian-penelitian yang bersumber dari kesusastraan Arab.

[4] Mantuq: sharih (di kalangan Hanafiyyah dikenal dengan Ibarat an-Nas) dan ghairu sharih—pengertian yang ditarik bukan dari makna asli suatu lafal, tetapi  sebagai konsekuensi dari suatu lafal(dalalah al-ima, dalalah al-isyarat, dan dalalah al-iqtida`).

[5] Jumhur membagi  lafal dari segi jelas dan tidak jelasnya kepada 3 tingkatan, yaitu nash, dzahir, dan mujmal. Sedangkan Hanafiyyah membaginya kepada “dari segi kejelasan maknanya”menjadi 4 tingkatan, yaitu: zhahir, nash, mufassar, dan muhkam, sedangkan dilihat dari ketidakjelasannya diklasifikasikan oleh Hanafiyyah kepada 4 tingkatan juga, yaitu: khafi, musykil, mujmal, dan  mutasyabih.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s