Pengantar Sejarah Pemikiran Ekonomi Syari’ah

Sejarah Pemikiran Ekonomi Syari’ah

Imroatul Azizah, M.Ag.

Materi Kuliah

1.Islam dan Perkembangan Pemikiran Ekonomi
2.Ekonomi Syari’ah: definisi, prinsip dan manfaat, berbagai sistem hukum ekonomi
3.Sistem Ekonomi dan Fiskal pada Masa Pemerintahan Rasulullah Saw.
4.Sistem Ekonomi dan Fiskal pada Masa Pemerintahan Al-Khulafah ar-Rasyidun
5.Kebijakan Fiskal pada awal Pemerintahan Islam
6.Uang dan kebijakan Moneter pada awal pemerintahan Islam
7.Peranan Harta Rampasan Perang pada Awal Pemerintahan Islam
8.Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf
9.Pemikiran Ekonomi Asy-Syaibani
10.Pemikiran Ekonomi Abu Ubaid
11.Pemikiran Ekonomi Yahya Ibn Umar
12.Pemikiran Ekonomi Al-Mawardi
13.Pemikiran Ekonomi Al-Ghazali
14.Pemikiran Ekonomi Ibn Taimiyah
15.Pemikiran Ekonomi Asy-Syatibi
16.Pemikiran Ekonomi Ibn Khaldun
17.Pemikiran Ekonomi Al-Maqrizi
18.Ekonomi Syari’ah dilihat dari Aspek Fikih Klasik
19.Ekonomi Syari’ah dilihat dari Aspek Fikih Muamalah
20.Pemikiran Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia

Islam dan Perkembangan Pemikiran Ekonomi

Fenomena Ekonomi

Dalam

Ekonomi Konvensional

agama termasuk hukumsyariah,

tidakadahubungannyadenganekonomi

(pandangansekuler).

Sedangkan

Ekonomi Islam

adalah studi mempelajari ikhtiar manusia

dalam mengalokasikan & mengelola

sumber-sumber daya

untuk mencapai ‘falah’

berdasarkan prinsip-prinsip & nilai-nilai

ajaran Al-Qur’an & As-Sunnah.

Sehingga

hukum atau syariah Islam,

mempunyaikedudukan & peranan

yang sangat vital

dalam pengembangan

Sistem Ekonomi Islam

Oleh karena itu,

Ekonomi Islam

tidaksesuaidenganajaran Islam,

apabila

tidakdidasarkanpadasyariahIslamiyyah.

Seruan kepada
Ekonomi
Islam
berarti:

Islam

Bisnis Islami

Adalah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya

yang tidak dibatasi

jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang / jasa)

termasuk profit-nya, namun

dibatasi

dalam cara perolehan & pendayagunaan hartanya

(ada aturan halal & haram).

Syari’at Islam bersifat komprehensif dan universal. Komprehensif: merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah), sedangkan universal berarti syari’at Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai akhir zaman.

Dalam bidang muamalah, al-Qur’an hanya mengandung prinsip-prinsip umum; penjelasan Nabi dalam hadis-hadisnya juga tidak bersifat absolut. Ini berarti kedua sumber utama HI hanya memberikan prinsip dan pedoman dasar, sedangkan untuk merespon dan mengakomodir perkembangan zaman, perlu ijtihad dengan akal pikirannya. Maka wajar jika Nabi mengatakan: انتم اعلم بامور دنياكم –رواه مسلم-

Sejarah Pemikiran Ekonomi dalam Islam

}Kontribusi kaum muslimin yang sangat besar terhadap perkembangan pemikiran ekonomi dan peradaban dunia, telah diabaikan oleh para ilmuwan Barat. Buku-buku teks ekonomi Barat hampir tidak pernah menyebutkan peranan kaum muslimin. Menurut Chapra, meskipun sebagian kesalahan muslim karena tidak mengartikulasikan secara memadai, namun Barat juga punya andil karena tidak memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi peradaban lain bagi kemajuan pengetahuan manusia. Buktinya, para sejarawan Barat telah menulis sejarah ekonomi dengan sebuah asumsi bahwa periode antara Yunani dan Skolastik adalah streril dan tidak produktif. Contoh, sejarawan sekaligus ekonom terkemuka, Joseph Schumpeter memulai penulisan sejarah ekonominya dari filosof Yunani dan langsung melakukan loncatan jauh selama 500 tahun—the great gap—ke zaman St. Thomas Aquinas (1225-1274 M).
}Sulit dipahami, mengapa para ilmuwan Barat tidak menyadari bahwa sejarah pengetahuan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, yang dibangun di atas pondasi para ilmuwan sebelumnya. Ini berbeda dengan ilmuwan muslim yang mengakui berhutang budi pada ilmuwan Yunani, Persia, India, dan Cina.
}Inilah bukti inklusivitas cendekiawan muslim masa lalu terhadap berbagai ide pemikiran dunia luar selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
}Konsep dan teori Ek dalam Islam pada hakikatnya merupakan respon ilmuwan terhadap berbagai tantangan ekonomi pada waktu tertentu, jadi Pemikiran Ek.Is seusia Islam itu sendiri.

Fokus perhatian Rasul dan Khulafa’ ar-Rasyidin dalam bidang ekonomi adalah tertuju pada pemenuhan kebutuhan, keadailan, efisiensi, pertumbuhan, dan kebebasan. Inilah obyek utama yang menginspirasi pemikiran ekonomi Islam sejak masa awal.

Fase Sejarah Pemikiran EI; menurut Nejatullah Siddiqi ada 3; fase dasar-dasar EI, kemajuan, dan stagnasi.

1.Fase Pertama (Dasar-dasar EI)/1-5 H/11 M

Dirintis oleh para fuqaha, diikuti oleh sufi dan kemudian filosof.   Fuqaha mengeksplorasi konsep maslahah (utility) dan mafsadah (disutility) yang terkait dengan aktifitas ekonomi. Apa manfaat sesuatu yang dianjurkan dan apa kerugian bila melaksanakan larangan agama. Pemaparan ekonomi para fuqaha tsb mayoritas bersifat normatif  dengan wawasan positif ketika berbicara tentang perilaku adil, kebijakan yang baik, dan batasan-batasan yang diperbolehkan dalam urusan dunia.

Ulama tasawuf, kontribusinya pada keajegannya dalam mendorong kemitraan yang saling menguntungkan, tidak rakus memanfaatkan kesempatan, dan menolak penempatan tuntutan kekayaan dunia yang terlalu tinggi.

Filosof: dengan berasaskan syari’ah, mereka mengikuti pemikiran Aristoteles (367-322 SM), yang fokus pada sa’adah—kebahagiaan—dalam arti luas. Pendekatannya global dan rasional serta metodologinya syarat dengan analisis ekonomi positif dan cenderung makro-ekonomi (fuqaha, mikroekonomi).

Tokoh Fase pertama/dasar:

Zaid ibn Ali (w. 80 H/738 M)

Abu Hanifah (w. 150 H/767 M)

Abu Yusuf (w. 182 H/798 M)

Asy-Syaibani (w. 189 H/804 M)

Abu Ubaid ibn Sallam (w. 224 H/838 M)

Harits ibn Asad al-Muhasibi (w. 243H/858 M)

Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M)

Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M), dan

Al-Mawardi (w. 450 H/1058 M)

Fase kedua/Kemajuan (Abad 11-15 M)

Fase cemerlang. Cendekiawan muslim mampu menyusun suatu konsep ber-ekonomi yang seharusnya dan berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Islam membentang dari Maroko dan Spanyol di Barat hingga India di Timur, melahirkan berbagai pusat kegiatan intelektual.

Di sisi lain mereka dihadapkan pada realitas politik, pertama: disintegrasi pusat kekuasaan Abbasiyah dan terbaginya kerajaan ke dalam beberapa kekuatan regional; kedua, merebaknya korupsi di kalangan penguasa diiringi dengan dekadensi moral di kalangan masyarakat yang berakibat ketimpangan semakin lebar antara si kaya dan si miskin.

Tokoh Fase Kedua:

1.al-Ghazali (w. 505 H/1111 M)
2.Ibnu Taimiyyah (w. 728 H/1328 M)
3.Asy-Syatibi (w. 790 H/1388 M)
4.Ibnu Khaldun (w. 808 H/1404 M), dan
5.Al-Maqrizi (w. 845 H/1441 M)

Fase Ketiga/Stagnasi (1446-1932)

Para fuqaha hanya menulis catatan-catatan para pendahulunya dan mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan aturan standar bagi masing-masing madzhab. Tapi dua abad terakhir muncul gerakan pembaharu yang menyeru untuk kembali kepada al-Qur’an dan Hadis. Mereka adalah:

1.Shah Wali Allah (w. 1176 H/1762 M)
2.Jamaluddin al-Afghani (w. 1315 H/1897 M)
3.Muhammad Abduh (w. 1320 H/1905 M), dan
4.Muhammad Iqbal (w. 1357 H/1938 M)

Ekonomi Syari’ah: definisi, prinsip dan manfaat, berbagai sistem hukum ekonomi

Pengertian Ekonomi Syari’ah, Ekonomi Islam dan Tujuannya

Ilmu ES adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana untuk memiliki kegunaan-kegunaan alternatif berdasarkan Hukum Islam.

Studi ilmu ES: suatu studi yang mempelajari cara-cara manusia mencapai kesejahteraan dan mendistribusikannya berdasarkan Hukum Islam

Kesejahteraan: segala sesuatu yang mempunyai nilai dan harga, mencakup harta kekayaan dan jasa yang diproduksi dan dialihkan,baik dalam bentuk menjual dan dibeli maupun dalam bentuk transaksi lainnya yang sesuai dengan ES.

ES menurut UU No. 3/2006 tentang perubahan atas UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama, maka ES adalah: perbuatan dan/atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, a.l.: bank, lembaga keuangan, asuransi, reasuransi, reksadana, obligasi, sekuritas, pembiayaan, pegadaian, dana pensiun LKS, dan bisnis syari’ah.

Tujuan Ekonomi Syari’ah

1.Kesejahteraan ekonomi dlm kerangka norma Islam (dasar pemikiran QS 2: 168; al-Ma`idah: 87-88; al-Jumu’ah: 10)
2.Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal (al-Hujurat: 13; al-Ma`idah: 8; asy-Syu’ara: 183)
3.Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata (al-An’am: 165; an-Nahl: 71; az-Zukhruf: 32)
4.Menciptakan kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial (ar-Ra’du: 36; Luqman: 22)

Karakteristik ES; fokus dari amar ma’ruf nahi munkar

1.Ekonomi Ilahiyyah (ke-Tuhan-an); manusia diciptakan untuk ibadah. Dalam mencari penghidupan, harus berdasarkan syari’at untuk mencapai ridho Allah.
2.Ekonomi Akhlaq; kesatuan antara ekonomi dan akhlaq harus berkaitan dengan sektor produksi, distribusi, dan konsumsi.
3.Ekonomi Kemanusiaan; sebagai khalifah wajib beramal, bekerja keras, berkreasi, dan berinovasi.
4.Ekonomi Keseimbangan; hak individu dan masyarakat diletakkan dalam neraca keseimbangan yang adil tentang dunia-akhirat, jiwa-raga, akal-hati, perumpamaan-kenyataan,iman-kekuasaan.

Pengertian dan Tujuan Ekonomi Islam

Ekonomi Islam: kumpulan norma hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis yang mengatur urusan perekonomian umat Islam.

Tujuan Ekonomi Islam menggunakan pendekatan:

1.Konsumsi dibatasi sampai pada tingkat yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi kehidupan
2.Alat pemuas kebutuhan seimbang dengan tingkat kualitas manusia agar ia mampu meningkatkan kecerdasan dan kemampuan teknologinya untuk menggali SDA
3.Dalam pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus diterapkan.
4.Pemerataan pendapatan dilakukan dengan mengingat sumber kekayaan yang diperioleh dari usaha halal, maka wajib zakat.

Asas Filsafat Hukum EI; 3

1.Semua yang ada di semesta, milik Allah; tunduk pada kehendak dan ketentuan-Nya (Thaha: 6 dan al-Ma`idah: 120)
2.Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dengan alat perlengkapan yang sempurna agar ia dapat melaksanakan tugas, hak dan kewajibannya (Luqman: 20; an-Nahl: 10-16; Fatir: 27-28; az-Zumar: 21)
3.Beriman kepada hari kiamat dan hari pengadilan; untuk mengendalikan tingkah laku ekonomi.

Nilai-Nilai Dasar Sistem Hukum Ekonomi Islam

1. Pemilikan;

a. Bukanlah penguasaan mutlak atas sumber-sumber   ekonomi, tetapi kemampuan untuk   memanfaatkannya

b. Lamanya pemilikan terbatas pada kematian

c. SDA yang menyangkut kepentingan umum/hajat     hidup orang banyak harus menjadi milik   umum/negara.

2. Keseimbangan

3. Keadilan

Nilai Instrumental; 5

1.Zakat
2.Pelarangan riba dan judi
3.Kerja sama ekonomi
4.Jaminan sosial
5.Peranan negara

Ekonomi Islam; ada motif laba (profit), namun motif itu terikat/dibatasi oleh syarat-syarat moral, sosial dan pembatasan diri. Jika syarat ini diikuti dan dilaksanakan secara seksama akan tercipta keseimbangan harmonis antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.

Prinsip Ekonomi Syari’ah; tiang penyangga

1.Siap menerima resiko; di mana ada manfaat, di situ ada resiko/
2.Tidak melakukan penimbunan; tidak boleh uang kontan (cash) menganggur tanpa dimanfaatkan. Koin terdiri dari 2 sisi = jual dan beli = harus mengalir. Caranya: konsumsi yang halal, kegiatan produktif/investasi, dan kesejahteraan sosial.
3.Tidak monopoli; persaingan adalah jiwa fastabiq al-khairat. Segala sesuatu di dunia ini mengalami depresiasi. Money is a just a means of exchange (uang bukan alat penyimpan nilai, bukan komoditi maka tidak ada harganya, sebagai alat tukar nilainya harus dijaga agar tetap stabil).
4.Pelarangan Interes Riba;
5.Solidaritas Sosial; jika ada yang mengalami problem kemiskinan, tolonglah dengan cara membayar zakat, infak, dan shadaqah. Harta adalah amanah.

Manfaat Ekonomi Syari’ah; dengan mengamalkan—membuka tabungan, deposito, atau menjadi nasabah asuransi syari’ah–berarti:

1.Mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah, Islamnya tidak parsial
2.Mendapat keuntungan dunia dan akhirat—terbebas siksa riba dan dapat pahala
3.Mendukung kemajuan lembaga ekonomi ummat
4.Mendukung upaya pemberdayaan ekonomi ummat
5.Mendukung gerakan amar ma’ruf nahi munkar; karena dana hanya untuk usaha dan proyek halal.

Sistem Hukum
Ekonomi

About these ads

2 thoughts on “Pengantar Sejarah Pemikiran Ekonomi Syari’ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s