Dalil dan Metode Penggalian Hukum Islam

Dalil dan Metode Penggalian Hukum Islam
(Ijma’, Qiyas, Istihsan, Maslahah, Istishhab, ‘Urf, Syar’u Man Qablana, Mazhab Shahabi, dan Zari’ah)
Ijma’
Definisi: Secara etimologi, Ijma’ (الاءجماع) berarti “kesepakatan/konsesus” dan atau العزم على شيئ (ketetapan hati untuk melakukan sesuatu). Sedangkan menurut istilah ahli UF, ijma adalah:

اتفاق جميع المجتهدين من المسلمين فى عصر من العصوربعد وفاة الرسول على حكم شرعي فى واقعة

“Kesepakaan seluruh mujtahid muslim pada suatu masa tertentu setelah wafatnya Rasulullah saw. atas suatu Hukum Syara’ pada peristiwa yang terjadi”.

Muhammad Abu Zahrah menambahkan di akhir definisi tersebut kalimat: “yang bersifat amaliyah”. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa ijma hanya berkaitan dengan persoalan-persoalan furu’ (amaliyah praktis). Menurut rumusan jumhur ulama, mujtahid yang melakukan ijma, tidak perlu seluruh mujtahid, tetapi cukup mujtahid yang hidup pada masa tertentu, sehingga para mujtahid pada setiap masa/generasi boleh melakukan ijma. Namun, bila pada suatu masa ketika dilakukan ijma ada di antara mujtahid yang tidak setuju dengan hukum yang ditetapkan tersebut, maka hukum yang dihasilkan itu tidak dinamakan ijma.

Rukun dan Syarat Ijma’

Rukun, ada 5:

1.Yang terlibat dalam ijma’ adalah seluruh mujtahid. Jika ada yang tidak setuju, maka hukum yang dihasilkan itu tidak dinamakan hukum ijma.
2.Melibatkan seluruh mujtahid yang ada pada masa tersebut dari berbagai belahan dunia Islam.
3.Kesepakatan itu diawali setelah masing-masing mujtahid mengemukakan pandangannya.
4.Hukum yang disepakati itu adalah hukum syara yang bersifat aktual dan tidak ada hukumnya secara rinci dalam al-Qur’an.
5.Sandaran hukum ijma tersebut adalah al-Qur’an dan atau Sunnah.

Syarat, ada 3:

1.Yang melakukan ijma tersebut adalah orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad.
2.Kesepakatan itu muncul dari para mujtahid yang bersifat adil (berpendirian kuat terhadap agamanya).
3.Para mujtahid yang terlibat adalah yang berusaha menghindarkan diri dari ucapan atau perbuatan bid’ah.

*Untuk terjadinya Ijma’ sangat sulit, yang mungkin hanya Ijma’ Sahabat. Kalau ada perkataan Ijma’, mungkin yang dimaksud adalah ijma sukuti atau ijma mayoritas ulama—bukan ijma sebagaimana didefinisikan oleh ulama ushul fikih.

Mungkinkah Ijma’ terlaksana?
Ulama UF kontemporer, seperti Muhammad Abu Zahrah, al-Khudari Bek, Abdul Wahhab Khallaf, Fathi ad-Duraini (guru besar fiqh-UF di Univ. Damaskus, Syiria) dan Wahbah az-Zuhaili, mengatakan bahwa ijma yang mungkin terjadi hanyalah di zaman sahabat. Adapun pada masa sesudahnya, untuk melakukan ijma tidak mungkin, karena luasnya wilayah Islam dan tidak mungkin mengumpulkan seluruh ulama pada satu tempat.
Abdul Wahab Khallaf, Ijma seperti itu sulit jika diserahkan kepada perorangan, tetapi mungkin terjadi kalau dilaksanakan oleh pemerintah Islam. Masing-masing ditentukan syarat-syarat yang harus dimiliki, kemudian ditanya pendapatnya. Apabila para mujtahid telah menyatakan pendapatnya dan kebetulan pendapatnya itu sama, maka pendapat itu menjadi ijma dan hukum yang di-ijma-kan itu menjadi hukum syara yang wajib diikuti oleh kaum muslimin.
Zakiyuddin Sya’ban mengatakan bahwa apabila didapati dalam kitab-kitab fiqh ungkapan ijma, maka yang mereka maksudkan kemungkinan ijma sukuti atau ijma kebanyakan ulama, bukan ijma sebagaimana yang didefinisikan para ahli UF.
Sebaliknya, mayoritas ulama klasik berpendapat, tidaklah sulit untuk melakukan ijma, bahkan secara aktual ijma itu telah ada. Seperti kesepakatan tentang pembagian waris bagi nenek sebesar seperenam dan larangan menjual makanan yang belum ada di tangan penjual.
Ulama klasik lainnya, seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, tidak sependapat. Menurutnya jika ada yang mengatakan bahwa telah terjadi ijma terhadap hukum suatu masalah, maka ia telah berdusta, karena mungkin saja ada mujtahid yang tidak setuju; sangat sulit untuk mengetahui adanya ijma. Jika ada yang bertanya, apakah ijma itu ada dan secara aktual terjadi, menurutnya, jawaban yang paling tepat adalah “kami tidak mengetahui ada mujtahid yang tidak setuju dengan hukum ini”. Di samping itu, Imam Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal, ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (keduanya ahli fiqh Hanbali), tidak menerima ijma kecuali ijma’ yang dilakukan para sahabat.
Contoh Ijma’
1. Dengan sanad/landasan al-Qur’an; kesepakatan ulama atas keharaman menikahi nenek dan cucu perempuan, berlandaskan an-Nisa` (4): 23 حرمت عليكم امهاتكم و بناتكم…, ulama sepakat bahwa ‘ummahat’ mencakup ibu kandung dan nenek, dan ‘banat’ mencakup anak dan cucu perempuan.
2. Dengan sanad Sunnah; kesepakatan bahwa nenek menggantikan posisi ibu bilamana ibu kandung dari si mayit sudah wafat dalam hal mendapat harta warisan, sebagaimana Hadis:

عن ابن عمر قال جاءت الجدة ام الام وام الاب الى ابي بكر فساءل الناس فشهد المغيرة بن شعبة  , nenek diberi 1/6 (bag. Ibu) ان رسول الله صلى الله عليه وسلم اعطاها –رواه الترمذي-

Bagaimana dengan landasan Qiyas?

Mazhab Zahiri, tidak sah menjadikan qiyas sebagai sanad.
Mayoritas ulama, qiyas sah dijadikan sanad. Contohnya seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan; kesepakatan ulama atas keharaman minyak babi di-qiyas-kan atas keharaman dagingnya.
Mayoritas ulama UF mengatakan bahwa landasan ijma itu bisa dari dalil qath’i maupun zhanni. Alasan mereka adalah ijma sahabat tentang mandi wajib setelah bersetubuh, yang berlandaskan Hadis Ahad; penetapan Abu Bakar sebagai khalifah dengan mengqiyaskan kepada sikap Nabi yang menunjukknya sebagai imam shalat; ijma sahabat tentang haramnya lemak babi yang dianalogikan kepada daging babi, dan hukuman dera 80 kali bagi peminum khamr. Sedangkan ulama Zhahiriyyah, Syi’ah, dan ibn Jarir at-Thabari mengatakan bahwa landasannya harus qath’i.
Kehujjahan Ijma’
Jumhur ulama UF berpendapat apabila rukun dan syarat ijma telah terpenuhi, maka ijma tersebut menjadi hujjah yang qath’i (pasti), wajib diamalkan dan tidak boleh mengingkarinya; permasalahan yang telah ditetapkan hukumnya melalui ijma, tidak boleh lagi menjadi pembahasan ulama generasi berikutnya, karena telah qath’i dan menempati urutan ketiga sebagai dalil syara.
Alasan Jumhur adalah: 1. ayat ke-59 Surat an-Nisa’. Ulil amri dalam ayai ini bersifat umum, mencakup para pemimpin di bidang agama (para mujtahid dan pemberi fatwa) dan dunia (pemimpin masyarakat, Negara dan perangkatnya). Ibn Abbas menafsirkan ulil amri dengan para ulama; 2. Hadis “  امتي لاتجتمع على الخطاء  atau Hadis “لاتجتمع امتي على ضلا لة “.
Akan tetapi, Ibrahim ibn Siyar an-Nazzam (tokoh Mu’tazilah), ulama khawarij dan ulama Syi’ah berpendapat bahwa ijma tidak bisa dijadikan hujjah.
Menurut an-Nazzam, ijma yang digambarkan jumhur ulama itu, tidak mungkin terjadi, karena tidak mungkin menghadirkan seluruh mujtahid pada satu masa dari berbagai belahan dunia Islam untuk membahas dan menyepakati suatu kasus. Selain itu masing-masing daerah mempunyai struktur sosial dan budaya yang berbeda. Bagi kalangan Syi’ah, ijma tidak bisa mereka terima sebagai hujjah, karena pembuat hukum bagi mereka adalah imam yang mereka anggap ma’sum.
Ulama khawarij dapat menerima ijma sahabat sebelum terjadinya perpecahan politik (setelah perpecahan politik, mereka yang tidak sepaham/tidak seiman dengan mereka, dipandang bukan mukmin, padahal ijma harus disepakati oleh seluruh muslim).
Macam-Macam Ijma’; ada 2:
•1. Ijma Sharih; kesepakatan tegas para mujtahid, di mana mereka menyampaikan pendapat masing-masing secara jelas, baik dengan perkataan,  tulisan atau juga dengan perbuatan (jika ijma seperti ini dapat terjadi, maka hukum yang dihasilkan dapat dijadikan hujjah dan kekuatan hukumnya bersifat qath’i).
•2. Ijma Sukuti; sebagian mujtahid menyatakan pendapatnya tentang hukum suatu masalah dan tersebar luas, sedangkan sebagian mujtahid lainnya hanya diam saja setelah meneliti pendapat mujtahid yang dikemukakan di atas, tanpa berkomentar.
Status Ijma’ Sukuti
Ulama Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Abu Bakar al-Baqilani (ahli fiqh Maliki), berpendapat tidak termasuk ijma dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Malikiyyah dan Syafi’iyyah beralasan bahwa ijma sukuti adalah pendapat pribadi yang disebarluaskan, dan mujtahid lainnya diam saja.Diamnya ini tidak dapat ditafsirkan sebagai tanda persetujuannya, karena diamnya itu mungkin disebabkan kondisi pribadi dan lingkungan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, posisi ijtihad yang dilakukan seorang atau sekelompok mujtahid itu tidak lebih dari ijtihad yang sifatnya dhanni (relatif) dan tidak wajib diikuti mujtahid lain, karena itu pula maka tidak dikatakan ijma.

Mayoritas ulama Hanafiyyah dan Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan bahwa termasuk ijma dan bisa dijadikan hujjah yang qath’i. Alasan ulama Hanafiyyah dan Hanabilah, menurut Muhammad Abu Zahra adalah: 1. diamnya (as-sukut)  para ulama itu setelah mengetahui, mempelajari dan menganalisis hasil ijtihad itu dari berbagai segi. Adalah wajib bagi para ulama untuk mempelajari hasil ijtihad yang diungkapkan di zaman mereka, jika ternyata diam , maka hal itu menunjukkan persetujuannya. Karenanya, para ulama UF sepakat menyatakan:  السكوت فى موضع البيان بيان “Diam (saja) ketika suatu penjelasan diperlukan, dianggap sebagai penjelasan (atas persetujuan mereka)”; 2.  adalah tidak dapat diterima akal, jika para ahli fatwa diam saja ketika mendengar fatwa ulama lain; Ulama lain harus mempelajari, menganalisis dan membantah suatu fatwa apabila ternyata tidak sejalan dengan nash atau metode yang digunakan tidak sesuai dengan metode yang ada.
Abu ‘Ali al-Jubba’i (tokoh Mu’tazilah) berpendapat bahwa ijma sukuti dapat dikatakan ijma apabila generasi mujtahid yang menyepakati hukum tersebut telah habis, karena apabila mujtahid lain bersikap diam saja terhadap hukum yang disepakati sebagian mujtahid itu sampai mereka wafat, maka kemungkinan adanya mujtahid yang membantah hukum tersebut tidak ada lagi
Dan al-Amidi, Ibn al-Hajib, dan al-Karkhi (ahli ushul Hanafi) berpendapat bahwa ijma sukuti tidak bisa dikatakan ijma’, tetapi dapat dijadikan hujjah (zhanni).

2 thoughts on “Dalil dan Metode Penggalian Hukum Islam

  1. syukron, bu, atas materinya. udah saya download, bu. tapi …. kok formatnya kok gak ppt lagi ya, bu. kan kalo format ppt tampilannya bagus, bu, ada bunga-bunganya. yg penting isinya kan bu?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s