Haramnya Riba

Haramnya Riba

Secara bahasa, riba berarti “kelebihan atau penambahan”; menurut Syara’, berarti “tambahan pada modal (uang) pinjaman yang diterima orang yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu dan persentase bunga pinjaman”. Orang Arab mengenal riba dari orang Yahudi di Madinah, biasanya dengan bunga 40-100%.

Islam mengharamkan riba dengan segala bentuknya. Menurut Nas al-Qur’an, dasar hukum pelarangan riba secara bertahap adalah sbb:

Tahap pertama, ar-Rum (30): 39,

!$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB $\/Íh‘ (#uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# Ÿxsù (#qç/ötƒ y‰YÏã «!$# ( !$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB ;o4qx.y— šcr߉ƒÌè? tmô_ur «!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbqàÿÏèôÒßJø9$# ÇÌÒÈ

            Dalam ayat ini, Allah mencela riba dan memuji zakat; ayat ini secara halus menyebutkan bahwa riba itu tidak baik dan tidak bermanfaat bagi pelakunya karena si pelaku tidak akan mendapat pahala di sisi Allah, berbeda dengan zakat.

Tahap kedua, an-Nisa (4): 161,

ãNÏdɋ÷{r&ur (#4qt/Ìh9$# ô‰s%ur (#qåkçX çm÷Ztã öNÎgÎ=ø.r&ur tAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# È@ÏÜ»t7ø9$$Î/ 4 $tRô‰tGôãr&ur tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 öNåk÷]ÏB $¹/#x‹tã $VJŠÏ9r& ÇÊÏÊÈ  

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa riba diharamkan bagi orang Yahudi, namun mereka melanggar larangan tersebut dan hal ini merupakan salah satu penyebab kemurkaan Tuhan kepada mereka.

Tahap ketiga, Ali Imran (3): 130,

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qè=à2ù’s? (##qt/Ìh9$# $Zÿ»yèôÊr& Zpxÿy軟ҕB ( (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÌÉÈ

Ayat ini secara jelas mengharamkan riba yang bersifat pemerasan dari golongan ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah itu mengandung penganiayaan (az-zulm)[1]. Dengan riba, pada umumnya kaum lemah tidak mampu mengembalikan hutangnya, jika tidak bisa melunasi, maka dipaksa dilipatgandakan dengan imbalan penundaan jangka waktu pembayaran. Riba seperti ini dinamakan riba an-Nasi’ah[2] (riba penundaan) dan dalam ayat itu dihukumi haram secara juz’i (sebagian), artinya riba yang diharamkan hanya yang bersifat berlifat ganda (ad’afan muda’afan). Mengenai riba yang tidak berlipat ganda, hukumnya ditetapkan Allah dalam ayat berikutnya.

Tahap keempat (terakhir), surat al-Baqarah (2): 275-279.

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ùtƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯RrÎ/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9résù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ   ß,ysôJtƒ ª!$# (#4qt/Ìh9$# ‘Î/öãƒur ÏM»s%y‰¢Á9$# 3 ª!$#ur Ÿw =Åsム¨@ä. A‘$¤ÿx. ?LìÏOr& ÇËÐÏÈ   ¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨“9$# óOßgs9 öNèdãô_r& y‰ZÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz öNÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÐÐÈ   $yg•ƒr¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râ‘sŒur $tB u’Å+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇËÐÑÈ   bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? (#qçRsŒùsù 5>öysÎ/ z`ÏiB «!$# ¾Ï&Î!qߙu‘ur ( bÎ)ur óOçFö6è? öNà6n=sù â¨râä①öNà6Ï9ºuqøBr& Ÿw šcqßJÎ=ôàs? Ÿwur šcqßJn=ôàè? ÇËÐÒÈ  

“Orang-orang yang makan (bertransaksi dengan )riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dibingungkan oleh setan, sehingga ia tak tahu arah disebabkan oleh sentuhan(nya). Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan karena mereka berkata, “jual beli tidak lain kecuali sama dengan riba”, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba[3].

Ayat 276,

“Allah memusnahkan riba (sedikit demi sedikit) dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang (berulang-ulang) melakukan kekufuran, dan (selalu) berbuat banyak dosa”.[4]

Ayat 278-279,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba[5] jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakan (apa yang diperintahkan ini) maka ketahuilah, bahwa akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kamu bertaubat, maka bagi kamu pokok harta kamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.

Ayat-ayat ini mengharamkan riba secara mutlak, jelas, dan tegas, tidak terdapat keraguan. Dan ayat ini disambung dengan ayat 280,

bÎ)ur šc%x. rèŒ ;ouŽô£ãã îotÏàoYsù 4’n<Î) ;ouŽy£÷tB 4 br&ur (#qè%£‰|Ás? ׎öyz óOà6©9 ( bÎ) óOçFZä. šcqßJn=÷ès? ÇËÑÉÈ

“Dan jika dia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia lapang[6]. Dan menyedekahkan, lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui”.

Dari tahapan tersebut, pemahaman riba harus dimulai dari Ali Imran 130, kemudian al-Baqarah ayat 278-279 dengan kata kunci sebagai berikut:

1.      kalimat ad’afan muda’afan (berlipat ganda), at-Tabari mengatakan bahwa kalimat itu adalah penambahan jumlah kredit yang disebabkan penundaan pembayaran. Maka bagi yang berpegang pada ayat itu, hanya yang berlipat ganda saja yang diharamkan.

2.      kalimat ‘ma baqiya min ar-riba’ (apa yang tersisa dari riba yang belum dipungut). Menurut Rasyid Ridha, kata riba dalam al-Baqarah 278 ini sama artinya dengan kata riba dalam Ali Imran 130; ayat yang tidak bersyarat harus dipahami dengan ayat yang bersyarat. Pembicaraan riba selalu dihubungkan dengan sedekah; dalam hal ini riba dinamai zulm. Sehingga riba yang diharamkan adalah yang berlipat ganda. Adapun untuk penambahan yang tidak berlipat ganda, pemahamannya harus dikaitkan dengan kata kunci berikutnya.

3.      kalimat ‘falakum ru’usu amwalikum’ (maka bagimu pokok/modal hartamu). Menurut al-Baqarah 279, mereka yang sudah terlanjur melakukan riba harus dihentikan dengan cara memperoleh kembali modalnya saja dan setiap penambahan atau kelebihan tidak dapat dibenarkan.

4.      kalimat ‘la tazlimuna wa la tuzlamun’ (kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya). Riba harus dihindari karena mengandung penganiayaan dan penindasan.

Dari keempat kata kunci yang terdapat dalam ayat tentang riba tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran az-zulm berlaku bagi yang berutang dan bagi yang berpiutang batasannya masih relatif.

Sebab-sebab diharamkannya Riba:

a.       Praktek riba berarti mengambil harta orang lain dengan tanpa kompensasi (pengganti), dan ini termasuk perbuatan zalim.

b.      Ketergantungan kepada riba dapat melemahkan semangat orang untuk berusaha/bekerja keras (bahkan malas dan meremehkan kerja). Ini akan memutus dinamika kehidupan yang positif—dinamika perdagangan, inovasi skill, perusahaan, pembangunan, dll.

c.       Menjadi sebab terputusnya kemaslahatan dalam interaksi sosial menyangkut praktek pinjam meminjam; rasa saling menolong melemah, termasuk simpati dan empati terhadap orang yang membutuhkan (berganti rasa kejam dan sadis yang tak berperikemanusiaan), akhirnya ketika kesenjangan sosial meningkat dapat menumbuhsuburkan kedengkian dan sakit hati, sehingga dapat terjadi permusuhan, kecemburuan sosial, dan saling benci.

d.      Riba adalah pemerasan terhadap orang-orang yang lemah untuk kepentingan orang kuat; yang kaya semakin kaya[7].

Bunga Bank dan Riba

Pembahasan tentang bunga bank, apakah termasuk riba atau tidak, baru ditemukan dalam berbagai literatur fikih kontemporer. Di antara ulama yang berpendapat bahwa bunga bank adalah riba, adalah: Wahbah az-Zuhaili (tokoh fikih Suriah) membahas hukum bunga bank melalui kacamata riba dalam terminologi ulama klasik dalam berbagai mazhab fikih[8], yang kesimpulannya bunga bank adalah riba; Yususf al-Qaradhawi meyatakan di antara keganjilan zaman modern adalah ketika streaptease (tari telanjang) dinamakan sebagai seni, minuman keras disebut sebagai minuman spiritual dan riba dinamakan bunga; dan para pakar yang mendukung dan mempelopori bank Islam seperti M. Nejatullah Shiddiqi, M. Abdul Mannan, A.M. Saefuddin, M. Syafe’i Antonio, dll.

Adapun ulama yang berpendapat bahwa bunga bank bukanlah riba yang diharamkan dalam al-Qur’an, antara lain: Rasyid Rida (mufassir dari Mesir) setelah menganalisis ayat-ayat tentang riba menyimpulkan bunga bank bukan riba[9], Ahmad Hassan (tokoh Persis) berpendapat bahwa bunga bank yang ada di Indonesia tidak termasuk riba karena unsur penganiayaannya tidak ada. Organisasi Islam NU, telah menyepakati bahwa bunga bank tidak termasuk riba yang diharamkan, baik bunga bank itu terdapat pada bank pemerintah maupun bank swasta; M. Quraisy Shihab, berkesimpulan bahwa illat diharamkannya riba karena unsur ‘penganiayaan’ dan bunga bank tidak sampai seperti itu.

Angku Mudo Abdul Hamid Hakim (tokoh pembaru dari sumatera barat) berpendapat bahwa bunga bank itu termasuk riba fadal dan dibolehkan apabila dalam keadaan darurat. Karena menurutnya, riba fadal merupakan jalan kepada riba an-nasi’ah. Oleh sebab itu, keharaman riba fadal lebih bersifat preventif dan dibolehkan apabila darurat atau mendesak.

Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar hukum Islam di Universitas Amman, Yordania) juga mengemukakan bahwa riba fadal dibolehkan karena darurat dan bersifat sementara. Artinya umat Islam harus berupaya untuk mencari jalan keluar dari sistem bank konvensional tersebut, dengan mendirikan bank Islam, sehingga keraguan atau sikap tidak setuju dengan bank konvensional dapat dihilangkan[10].

Menganalisis berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa perdebatan itu tidak akan pernah selesai, sehingga jalan keluar yang paling aman adalah dengan mendirikan Lembaga-lembaga keuangan yang non-bunga (Islami/Syari’ah), di samping diharapkan lebih tenang bagi umat Islam untuk berinteraksi dengan dunia perbankan, juga kenyataan menunjukkan bahwa dengan sistem bunga, resiko terjadinya krisis moneter sangat mungkin terjadi dan perbankan konvensional tidak cukup kuat menghadapinya, sehingga di tahun 1996-1997 ratusan bank nasional harus dilikuidasi.

M. Abdul Mannan, menguraikan panjang lebar tentang berbagai fakta tentang bunga bank dan riba, antara lain:

  • Riba yang terdapat pada masa pra-Islam adalah perpanjangan batas waktu dan penambahan jumlah peminjaman uang sehingga berjumlah begitu besar, sehingga pada akhirnya si peminjam harus mengembalikan dua kali lipat atau lebih dari pokok pinjaman. Dinilai dari tolok ukur etika sosio-ekonomi mana pun, tingkat suku bunga riba dinilai melampaui batas, sehingga turunlah ayat 275 dst al-Baqarah; tetapi kinidalam dunia perbankan konvensional, pembebanan bunga bukan karena penangguhan jangka waktu, tetapi telah ditetapkan sewaktu akad.
  • Jika terdapat perbedaan antara riba dalam al-Qur’an dengan bunga dalam masyarakat kapitalis, hal itu hanya merupakan perbedaan tingkat, bukan perbedaan jenis, karena baik riba maupun bunga merupakan ekses atas modal yang dipinjam.[11]
  • Perbedaan antara pinjaman produktif dan konsumtif, hanya dalam tingkatannya; jika bunga pada pinjaman konsumtif itu berbahaya, maka pinjaman produktif tentu berbahaya juga karena ia merupakan biaya produksi, dan karena itu mempengaruhi harga. Konsumenlah yang harus menanggung beban harga yang lebih tinggi itu, pekerja juga merasa dirampas hak-haknya, karena kerja keras mereka harus dihargai berbagi dengan pembayaran bunga atas modal. Karena itu dalam analisis terakhir ‘Riba dalam al-Qur’an dan bunga pada perbankan modern merupakan dua sisi dari mata uang yang sama’.
  • Perekonomian yang bebas bunga yang diajarkan Islam lebih dari sekedar kompromi[12], dalam arti bahwa ia memandang manusia sebagai makhluq sosio-moral yang lengkap, tidak hanya makhluk ekonomi yang memungkinkan manusia menyempurnakan nilai spiritual maupun keduniawiannya dengan baik.
  • Bunga dapat menyebabkan pengangguran, dan depresi; tanpa memberi sumbangan aktif pada produksi, golongan kapitalis tumbuh subur dan makmur melalui bunga.[13]


[1] M.Quraish Shihab, setelah menganalisis ayat-ayat yang berkaitan dengan riba, asbab an-nuzul-nya, dan pendapat berbagai mufassir, menyimpulkan bahwa ilat dari keharaman riba itu adalah sifat aniaya, sebagaimana yang terdapat di akhir ayat 279 al-Baqarah. Oleh karena itu yang diharamkan adalah kelebihan yang dipungut bersama jumlah utang yang mengandung unsur penganiayaan dan penindasan, bukan sekedar kelebihan atau penambahan jumlah utang. Kesimpulannya ini didukung oleh praktek Nabi SAW yang membayar utangnya dengan penambahan atau nilai lebih. Lihat keterangan lengkapnya dalam Ensiklopedi Islam, VI: 58-59.

[2] Riba dalam syari’at Islam ada dua macam, yaitu riba an-nasi’ah dan riba fadal. Riba an-nasi’ah adalah transaksi yang dilakukan oleh orang Arab jahiliyyah; kedua orang yang bertransaksi telah memahami kewajiban dan hak masing-masing. Adapun Riba fadal ialah pertukaran barang dengan barang sejenis dengan ketentuan terdapat kelebihan pada salah satu barang tersebut. Misalnya, 1 kg beras jenis A ditukar dengan 2 kg beras B.

[3] Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, karena substansi keduanya sungguh berbeda. Jual beli adalah transaksi yang menguntungkan kedua belah pihak, dan keuntungan yang diperoleh karena kerja sehingga menuntut aktifitas manusia; mengandung kemungkinan untung dan rugi, tergantung kepada kepandaian mengelola, kondisi dan situasi pasar pun ikut menentukan, sedangkan riba: merugikan salah satu pihak; yang menghasilkan keuntungan adalah uang bukan kerja, sehingga tidak membutuhkan aktifitas manusia, riba menjamin keuntungan bagi kreditor dan tidak mengandung kerugian; riba tidak membutuhkan kepandaian, dan kondisi pasar pun tidak terlalu menentukan.

[4] Yamhaq: memusnahkan; mengurangi sedikit demi sedikit hingga habis. Penganiayaan yang timbul karena praktek riba menimbulkan kedengkian di kalangan masyarakat, khususnya kaum lemah. Kedengkian tersebut sedikit demi sedikit bertambah dan bertambah, sehingga pada akhirnya menimbulkan bencana yang membinasakan. Selanjutnya, lawan riba dalah sedekah. Jangan menduga penyuburan, penambahan, dan pengembangan itu hanya dari sisi spriritual atau kejiwaan (ketenangan batin dan ketentraman hidup yang diraih pemberi dan penerima) yang lahir dari sedekah. Karena secara material, sedekah mengembangkan dan menambah harta;  orang yang bersedekah dengan tulus, akan merasakan kelezatan dan kenikmatan membantu, dan ini pada gilirannya melahirkan ketenangan dan ketentraman jiwa yang dapat mendorongnya untuk lebih berkonsentrasi dalam usahanya. Di sisi lain, penerima sedekah dan infaq, dengan bantuan yang diterimanya akan mampu mendorong terciptanya daya beli dan penambahan produksi.

[5] Tinggalkan sisa riba, yakni yang belum dipungut. Al-Abbas, paman Nabi, bersama seorang keluarga Bani Mughirah, bekerjasama mengutangi orang-orang dari kabilah Tsaqif secara riba. Setelah turunnya larangan riba, mereka masih memiliki sisa harta yang belum mereka tarik, maka ayat ini melarang mereka mengambil sisa riba yang belum mereka pungut dan membolehkan mereka mengambil modal saja. Dengan demikian kamu tidak menganiaya mereka dengan membebaninya pembayaran hutang yang melebihi apa yang mereka terima, dan tidak pula dianiaya oleh mereka karena mereka harus membayar penuh sebesar hutangnya. Tetapi harta kan mengalami penyusutan nilai? Jangan berkata demikian jika Anda percaya bahwa harta mempunyai fungsi sosial dan jika Anda percaya bahwa kelak di hari kemudian akan meperoleh pahala yang lebih besar.

[6] Tangguhkan penagihan sampai yang berhutang lapang. Jangan menagih dulu kalau sedang sempit, apalagi memaksanya membayar dengan sesuatu yang amat mereka butuhkan. Yang menangguhkan itu, pinjamannya dinilai sebagai qard al-hasan, yakni pinjaman yang baik. Setiap detik ia menangguhkan dan menahan diri untuk tidak menagih, setiap saat itu pula Allah memberinya ganjaran sehingga berlipat ganda ganjaran itu. Dalam al-Hadid (57): 11.                                                                                                                         Ia melipatgandakan, karena ketika itu yang meminjamkan mengharap pinjamannya kembali, tetapi tertunda, dan diterimanya penundaan itu dengan sabar dan lapang dada. Ini berbeda dengan sedekah, yang sejak semula yang bersangkutan tidak lagi mengharapkannya.

[7] Lihat uraian lengkapnya dalam Yususf al-Qaradhawi, al-Halal wal-haram, p. 372-373;  Ahmad Mushtafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, III: 101-102.

[8] menurut Wahbah az-Zuhaili, apabila standard riba yang digunakan adalah pandangan ulama mazhab fikih klasik, maka bunga bank termasuk Riba nasi’ah. Karena bunga bank tersebut termasuk kelebihan uang tanpa imbalan dari pihak penerima dengan menggunakan tenggang waktu.

[9] Alasannya, jika seseorang memberikan kepada orang lain harta/uang untuk diinvestasikan sambil menetapkan kadar tertentu (persentase) baginya dari hasil usaha tersebut. Karena transaksi ini menguntungkan kedua belah pihak, sedangkan riba yang diharamkan, merugikan salah seorang tanpa sebab, kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha, kecuali melalui penganiayaan dan ketamakan. Pendapatnya ini yang menjadi pegangan orang yang membedakan antara kredit untuk investasi dan kredit konsumtif; jika untuk konsumtif, bunga bank haram, sedangkan untuk investasi boleh.

[10] Pendapat ini yang diamanatkan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah dan Lajnah Bahsul Masa’il NU, karena dari dua lembaga ini, tidak secara tegas halal-haramnya bunga bank (mutasyabihat), dan mendesak untuk merealisasikan lembaga keuangan Syari’ah. Dalam menyikapi perbedaan pendapat, hendaklah direnungkan sebuah Hadis:                                                                                                 “Tidak (pernah) berkumpul yang halal dengan yang haram, kecuali yang lebih dominan adalah yang haram. (HR. al-Baihaqi), dan kaidah yang menyatakan ‘keluar dari perbedaan pendapat adalah lebih utama.

[11] Memang benar, riba dianggap tidak canggih dibandingkan dengan bunga. Tetapi menyebut riba dengan nama bunga, adalah tidak mengubah sifatnya. Kenyataan mengenai hal ini adalah bahwa istilah ekses harus diambil dalam arti relatif, karena apa yang merupakan ekses layak hari ini, mungkin dianggap suku bunga luar biasa tingginya atau bersifat Riba pada hari esok. Banyak perkumpulan koperasi Indo-Pakistan yang mengenakan bunga 12-15 persen (waktu itu dianggap layak), namun kini bunga sebesar itu dianggap terlalu tinggi. Karena itu, larangan terhadap riba berarti dilarangnya semua jenis ekses atas modal yang dipinjam, entah itu disebut bunga yang terlampau tinggi, bunga atau penghasilan modal. Karena sesungguhnya modal yang ditanamkan dalam perdagangan mungkin membawa keuntungan yang tidak tetap dan mungkin rugi, namun bunga akan tetap dan tidak mengandung kerugian apapun. Pendapat Mannan ini dikemukakan ketika mengomentari pernyataan para bankir menjawab mengapa bunga bank dibayarkan, konsensus pendapat mereka menganggap bahwa bunga merupakan tambahan tetap bagi modal; biaya yang layak bagi digunakannya uang dalam suatu proses produksi. Sedangkan riba mengacu pada bunga uang yang terlalu tinggi pada pinjaman tidak produktif (padahal dalam sejarahnya, pra-Islam, orang Yahudi Madinah meminjamkan uang tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk perdagangan). Lihat keterangan lengkap dalam M. Abdul Mannan, Islamic Economics; Theory and Practice, Terj. M. Nastangin (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1993), p.118-121.

[12] Dengan mempertahankan rangsangan bekerja melalui motif keuntungan, perekonomian Islam yang bebas bunga, di satu pihak, akan menjamin adanya produksi yang maksimum, sehingga memelihara salah satu ciri penting sistem kapitalis. Dengan melarang bunga atas modal dan tidak diperkenankannya pertumbuhan kelas kapitalis dalam perekonomian, di lain pihak akan menjamin adanya distribusi pendapatan nasional yang adil yang dikehendaki oleh sistem sosialis.

[13] Ia tidak hanya mengorbankan faktor produksi lain tetapi juga mengorbankan para konsumen miskin. Bunga merupakan suatu sarana pendapatan tanpa kerja yang mencolok. Hal ini dibenci oleh pekerja yang menganggap bahwa dengan demikian sebagian dari hasil pekerjaannya dirampas, para konsumen pun dihisap, karena bunga masuk sebagai biaya produksi, oleh karena itu akan memperlambat pulihnya keadaan jika depresi menyerang perniagaan, perdagangan, dan industri. Harga tidak dapat dinaikkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas; biaya untuk menjalankan usaha naik dan mengurangi keuntungan; cadangan bank turun dan menjadi sulit untuk mendapatkan laba tambahan. Bila laba berangsur hilang ditambah bunga yang tinggi, maka para kreditor menjadi gelisah, sehingga permintaan untuk likuidasi menjadi pilihan.

2 thoughts on “Haramnya Riba

  1. kemaren di satu daerah ada permasalahan tentang utang piutang, A meminjam Mas 2 gram pada si B dengan kalkulasi harga 2.000.000,00 tetapi si A berjanji akan mengembalikan berupa uang tersebut. dengan jangka waktu 2 tahun. tetapi pada waktu/masa pengembalian si A tidak bisa mengembalikan uang tersebut. 3 thun kemudian si A baru mampu mengembalikan uang tersebut tetapi si B tidak mau menerima jika berupa uang 2.000.000,00 dan si B meminta harga mas yang sekarang atau dikembalikan sama yaitu berupa mas. menurut ibu apakah hal tersebut termasuk riba???? ataukah cuma akad yang fasid?

    • Akad disebut fasid jika syarat sihah suatu akad tidak terpenuhi, dalam kasus tsb terpenuhi semua. cuman masalahnya di awal akad tidak dijelaskan mau mengembalikan dengan harga/uang ayau emas. logikanya ketika tidak ada perjanjian kan utang emas dibayar emas dengan nilai yang sama. jadi membaca kasus tersebut B tidak bisa disalahkan apalagi A telah mengingkari kesanggupannya membayar tepat waktu. sebagai preventif, dalam akad sekecil apapun harus jelas di awal, apalagi faktor amanah telah habis/luntur dalam masyarakat kita.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s