Aliran-Aliran dalam Akhlaq

—Aliran-aliran dalam akhlaq (universalistic hedonism dan egoistic hedonism)
—http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme
—Tulisan tentang aliran dalam akhlaq ini masih sangat mentah, dan saya belum menganalisisnya setelah mengambilnya dari berbagai sumber di internet.
Aliran dalam Etika

Dengan apakah suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk”? Bisa dilihat dari berbagai sudut pandang:

1.Menurut Ajaran Islam; dilihat dari niat, bukan semata-mata pada akibat/hasil.
2.Adat Kebiasaan
3.Kebahagiaan (Hedonisme)
4.Bisikan Hati (Instuisi); bantahan hedonisme,
5.Evolusi
6.Utilitarianisme; ukuran baik atau buruk didasarkan kepada apakah perbuatan tersebut bermanfaat atau berguna.
7.Paham eudaemonisme
8.Aliran Pragmatisme
9.Aliran Positivisme
10.Aliran Naturalisme
11.Aliran Vitalisme; bantahan naturalisme
12.Aliran Gessingnungsethik
13.Aliran Idealisme
14.Aliran Eksistensialisme
15.Aliran Marxisme
16.Aliran Komunisme
—Penjelasan
—1. Menurut Ajaran Islam; dilihat dari niat, bukan semata-mata pada akibat/hasil. Niat sesuatu yang melatarbelakangi (lahirnya) sesuatu perbuatan yang sering juga diistilahkan dengan kehendak dan niat harus diikuti dengan pelaksanaan/perbuatan yang baik.
—2. Adat kebiasaan; tergantung kepada kesetiaan dan ketaatan
seseorang (loyal) terhadap ketentuan adat istiadat.
Namun demikian, ukuran menurut adat ini tidak dapat
digunakan sepenuhnya karena ketentuan–ketentuan dari
Hukum Adat yang berasal dari adat istiadat banyak yang
irasional (tidak dapat diterima oleh akal sehat).
3. Hedonisme (di bawah)
—4. Bisikan Hati (Intuisi); merupakan bantahan hedonisme, yakni menilai suatu perbuatan baik atau buruk dengan kekuatan batin (tanpa melihat terlebih dahulu akibat yang ditimbulkan dari perbuatan itu), yaitu tujuannya kepada kebaikan budi pekerti.
—
—

5. Evolusi
Paham ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini selalu mengalami perubahan yakni berkembang menuju ke arah kesempurnaan. Filsuf Herbert Spencer (1820-1903) mengemukakan bahwa perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana kemudian dengan berlakunya
(evolusi) akan menuju ke arah cita–cita, dan cita–cita inilah yang dianggap sebagai tujuan. Yang menjadi tujuan dari cita–cita manusia adalah kebahagiaan dan kesenangan, sehingga suatu kesenangan atau kebahagiaan itu akan selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi sosial.

6. Utilitarianisme; Utilitis diartikan sebagai hal yang berguna/bermanfaat. ukuran baik atau buruk didasarkan kepada apakah perbuatan tersebut bermanfaat atau berguna. Penganut paham ini yang terbesar adalah Stuartmill (1806–1973) berkebangsaan Inggris.

7. Paham eudaemonisme; diambil dari istilah Gerika, yaitu “eudaemonia” dalam berarti: “kebahagiaan, untuk bahagia”. Prinsip pokok paham ini adalah kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Menurut Aristoteles, untuk  mencapai eudaemonia ini diperlukan 4 hal, yakni:

Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan
Kemauan
Perbuatan baik
Pengetahuan batiniah
—
—

8. Aliran Pragmatisme; menitikberatkan pada hal yang berguna dari diri sendiri (baik yang bersifat moril maupun materil) dan pada pengalaman. Oleh karena itu
penganut ini tidak mengenal istilah kebenaran, sebab kebenaran itu bersifat abstrak dan tidak diperoleh dalam dunia empiris.

9. Airan Positivisme; menitikberatkan kepada hal–hal yang
positif terhadap etika mereka yakni pasti-tentu-tegas. artinya dapat diraba/dirasakan oleh panca indera. Aliran ini memandang agama relatif sebab apa yang menjadi tujuan beragama tersebut tidak dapat dirasakan langsung oleh pancaindera manusia. Tokoh penting aliran ini adalah Auguste Comte (1798–1875), ia berupaya keras untuk
menemukan persesuaian antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat yang diistilahkannya dengan “antara egoisme dan altruistis”.

10. Aliran Naturalisme; ukuran baik atau buruk adalah kesesuaian dengan keadaan alam, apabila alami maka dipandang baik, apabila tidak maka dipandang buruk. Salah seorang penganut aliran ini adalah
John Rousseau yang mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan, dan kebudayaan menjadi perusak alam yang utama.

—

11.  Aliran Vitalisme (bantahan Naturalism), sebab menurut penganut paham ini ukuran baik atau buruk itu bukanlah alam tetapi “vitae” yakni yang sangat diperlukan untuk hidup. Tokoh terpenting dari aliran ini yaitu F. Niettsche, dia banyak sekali memberi pengaruh terhadap tokoh revolusioner seperti Hitler. Pada akhir hayatnya ia menjadi seorang ateis dan mati dalam keadaan gila, dia memproklamirkan gagasan “God is dead”, Tuhan telah mati, Tuhan itu tidak ada lagi, maka jauhkanlah diri (putuskan hubungan dengan Tuhan). Aliran ini dikelompokkan menjadi:

Vitalisme Pessimistis (Negatif Vitalistis); Disebut pesimis karena manusia yang dilahirkan adalah
celaka, maksudnya karena ia telah di lahirkan dan hidup,sedangkan lahir dan hidupnya manusia itu tiada guna. Terdapat ungkapan yakni “homo homini lupus”= manusia yang satu adalah seigala bagi manusia yang lainnya.
Vitalisme Optimisme; hidup atau kehidupan berarti pengorbanan diri karena itu hidup yang sejati adalah kesediaan dan kerelaan untuk melibatkan diri dalam setiap kesusahan. Yang paling baik adalah segala sesuatu yang menempa kemauan manusia untuk berkuasa. Oleh karena itu, perang adalah halal, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan.

12.  Aliran Gessingnungsethik; diprakarsai oleh Albert Schweitzer. Yang terpenting menurut ajaran ini adalah “penghormatan akan kehidupan”, yaitu sedapat mungkin setiap makhluk harus saling menolong dan berlaku baik. Ukuran kebaikannya yakni pemeliharaan akan kehidupan, dan yang buruk yakni setiap usaha yang berakibat binasa dan menghalang –halangi hidup.

—

13. Aliran Idealisme
Istilah tersebut berasal dari bahasa Gerika (Yunani),
yaitu dari kata “idea” yang secara etimologis berarti: akal,
pikiran, atau sesuatu yang hadir dalam pikiran, atau dapat
juga disebut sesuatu bentuk yang masih ada dalam alam
pikiran manusia. Aliran ini berpendapat bahwa segala
yang ada hanyalah tiada, sebab yang ada itu hanya
gambaran dari alam pikiran (bersifat tiruan), sebaik apa
pun suatu tiruan tentunya tidak akan seindah aslinya
(ide). Dengan demikian, yang baik itu hanya apa yang ada
di dalam ide itu sendiri.

14. Aliran Eksistensialisme
Etika ini berpandangan bahwa eksistensi
(keberadaan) di atas dunia selalu terkait pada keputusan–keputusan individu, sehingga individu–individu yang ada
sangat menentukan terhadap sesuatu yang baik, terutama
sekali bagi kepentingan dirinya. Yang menjadi ukuran baik
atau buruknya yakni “Truth is subjectivity” atau
kebenaran terletak pada pribadi, dengan sendirinya
apabila keputusan itu baik bagi dirinya maka disebutlah
baik, dan sebaliknya.

—

15. Aliran Marxisme
Ajaran ini didasarkan atas Dialectical Materialisme yaitu segala sesuatu yang ada dikuasai oleh keadaan material, dan keadaan material pun juga harus mengikuti jalan dialektika itu. Aliran ini memegang motto: “segala sesuatu
jalan dapatlah dibenarkan, asalkan saja jalan tersebut dapat ditempuh untuk mencapai suatu tujuan”. Dengan demikian, apa pun dapat dipandang baik asalkan ia dapat menyampaikan/menghantarkan kepada tujuan.

16.Aliran Komunisme
Pencetus aliran ini adalah Karl Marx yang pikiran–pikirannya selalu didasarkan kepada materil yang bersifat ril. Dia berpendapat bahwa selain memperjuangkan ide–ide maka manusia itu juga harus aktif untuk membentuk suatu kekuatan, dan kekuatan itu harus ikut aktif dalam
sistem politik. Hasil ajaran ini terlihat nyata dimana setiap orang ikut terlibat langsung dalam perjuangan politik. Akibat paham yang demikian, tidak mengherankan pada masa belakangan ini, aliran komunis mempunyai corak yang beragam,sebab penganutnya dapat saja merubah suatu tujuan kepada tujuan lain. Akibat selanjutnya timbullah bermacam–macam aliran komunisme di dunia.

—Hedonisme

Yang menjadi ukuran baik atau buruk menurut paham ini yaitu apakah suatu perbuatan tersebut melahirkan kebahagiaan dan kenikmatan/kelezatan.

Dalam paham ini terbagi lagi menjadi:

Aliran hedonisme individualistis (Egoistic Hedonism); suatu kebahagiaan yang bersifat individualistis (egoistik hedonism), jika suatu keputusan baik bagi pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya. Hedonisme Egoistis bertujuan untuk mendapatkan kesenangan semaksimal mungkin (dapat dinikmati dalam waktu yang lama dan mendalam)
Kebahagiaan rasional (Rasionalistik Hedonism); kebahagiaan atau kelezatan individu itu haruslah berdasarkan pertimbangan akal sehat.
Kebahagiaan Universal (Universalistic Hedonism); tolok ukur
apakah suatu perbuatan baik atau buruk dapat dilihat dari akibat perbuatan tersebut apakah melahirkan kesenangan atau kebahagiaan terhadap seluruh makhluk (bukan untuk diri sendiri/pribadi). Hedonisme Universal mirip dengan utilitarisanisme = kesenangan maksimal bagi semua, bagi banyak orang.
—
—Apa itu Hedonisme?

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Latar belakang

—Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat “apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?” Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene/Afrika Utara (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.  Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang ‘kesenangan’ (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsuf Yunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja –seperti Kaum Aristippos–, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan.
—
—

Aristippus melihat kesenangan sebagai hal aktual, artinya kesenangan terjadi kini dan di sini. Kesenangan bukan sebuah masa lalu atau masa depan. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal yang sudah pergi) dan masa depan adalah hal yang belum jelas.

Meskipun kesenangan dijunjung tinggi oleh Aristoppus, ada batasan kesenangan itu sendiri. Batasan itu berupa pengendalian diri.

Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan.  Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan ketidaknikmatan. Namun demikian, bukanlah kenikmatan yang tanpa aturan yang dijunjung Kaum Epikurean, melainkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam. Kaum Epikurean membedakan keinginan alami yang perlu (seperti makan) dan keinginan alami yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), serta keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan/harta yang berlebihan). Keinginan pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menyebabkan kesenangan yang paling besar. Oleh sebab itu kehidupan sederhana disarankan oleh Epikuros. Tujuannya untuk mencapai Ataraxia, yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang

—
—Jadi, pencetus faham ini adalah Aristippos dan Epikuros.Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Mereka melihat bahwa manusia melakukan setiap aktivitas pasti untuk mencari kesenangan dalam hidupnya. Dua filosof ini menganut aliran yang berbeda. Bila Aris lebih menekankan kepada kesenangan badani atau jasad seperti makan, minum, dll, Epikuros lebih menekankan kepada kesenangan rohani seperti bebas dari rasa takut, bahagia, tenang batin dll. Namun, kedua-duanya berpendapat sama yaitu kesenangan yang diraih adalah kesenangan yang bersifat privat atau pribadi (egoisme) tapi diperlukan juga aspek lain yaitu pengendalian diri.
—Namun waktu kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam semboyan baru hedonisme, carpe diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap hembusan napas aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam.
—Kedangkalan makna mulai terasa. Pemahaman negatif melekat dan pemahaman positif menghilang dalam hedonisme. Karena pemahaman hedonis yang lebih mengedepankan kebahagiaan diganti dengan mengutamakan kenikmatan.Pengertian kenikmatan berbeda dari kebahagiaan. Kenikmatan cenderung lebih bersifat duniawi daripada rohani. Kenikmatan hanya mengejar hal-hal yang bersifat sementara. Masa depan tidak lagi terpikirkan.Saat paling utama dan berarti adalah saat ini. Bukan masa depan atau masa lalu. Hidup adalah suatu kesempatan yang datangnya hanya sekali. Karena itu, isilah dengan kenikmatan tanpa memikirkan efek jangka panjang yang akan diakibatkan.Bila terlampau memikirkan baik buruknya hidup, akan sia-sia karena setiap kesempatan yang ada akan terlewatkan. Demikian pemikiran hedonis negatif yang berkembang saat ini.Pemikiran itu agaknya sangat cocok dengan gaya hidup masyarakat modern. Individualitas dan nafsu untuk meraih kenikmatan sangat kental mewarnai kehidupan kita.
—Karakteristik Hedonisme
—Karakteristik hedonisme adalah kebendaan dengan ukuran fisik harta, atau apa saja yang tampak, yang dapat dinilai dengan uang. Jadi di sini orang yang sudah senang karena harta bendanya yang banyak, sudah sama artinya dengan orang yang bahagia atau dengan kata lain: Bahagia = Kesenangan.
—
—
—Perdebatan tentang hedonisme memang terus berlangsung.Selalu ada pertanyaan tentang kebenaran dan kebaikan hedonisme.Menurut hedonisme psikologis,tidak dapat disangkal bahwa manusia selalu tertarik oleh perasaan nikmat,sekaligus secara otomatis condong menghindari perasaan-perasaan tidak enak.Manusia berusaha keras untuk mencapai tujuannya.Keberhasilan mencapai tujuan inilah yang kemudian membuatnya nikmat atau puas.
—Sementara itu berkenaan dengan hedonisme etis ada dua gagasan yang patut diperhatikan. Pertama,kebahagiaan tidak sama dengan jumlah perasaan nikmat.Nikmat selalu berkaitan langsung dengan sebuah pengalaman ketika sebuah kecondongan terpenuhi,begitu pengalaman itu selesai,nikmatpun habis.Sementara itu,kebahagiaan menyangkut sebuah kesadaran rasa puas dan gembira yang berdasarkan pada keadaan kita sendiri,dan tidak terikat pada pengalaman-pengalaman tertentu.Dengan kata lain,kebahagiaan dapat dicapai tanpa suatu pengalaman nikmat tertentu.Sebaliknya,pengalaman menikmati belum tentu membuat bahagia.Kedua,jika kita hanya mengejar nikmat saja,kita tidak akan memperoleh nilai dan pengalaman yang paling mendalam dan dapat membahagiakan.Sebab,pengalaman ini hanya akan menunjukan nilainya jika diperjuangkan dengan pengorbanan.Misalnya;dalam persahabatan dan cinta.Kita tidak akan sanggup menggoreskan kesan mendalam dalam persahabatan dan cinta jika pertimbangan yang mendasari hanya karena ketampanan, kecantikan, kekayaan atau penampilan fisik lainnya.Hasilnya adalah sesuatu yang kering,yang hanya berasa ketika bahagia,namun hambar ketika susah.
—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s