Fikih Imam Madzhab (Sejarah intelektual dan Pemikiran Hukum)

Fiqh Imam Madzhab

Madzhab Hanafi

Kelahiran dan Sikap Politik Abu Hanifah (80-150 H/699-767 M.)

Madzhab Hanafi didirikan oleh an-Nu’man ibn Thabit ibn Zuthi, yang lebih dikenal dengan Abu Hanifah (lahir di Kufah). Beliau hidup di dua zaman (52 tahun masa Umayyah—’Abd al-Malik ibn Marwan—dan 18 tahun Abbasiyah). Sikap politiknya berpihak pada keluarga Ali (ahlul bait) yang teraniaya. Ketika Yazid ibn Umar ibn Hubairah menjadi gub. Irak, Abu Hanifah menolak menjadi hakim atau bendahara negara, sehingga dipenjara. Lolos hijrah ke Mekah. Setelah Dinasti Umayyah berakhir, beliau pulang kampung. Sayang kebijakan al-Manshur (Abbasiyah) juga menindas ahlul bait. Abu Hanifah tampil mengkritik pemerintah, dan menolak dijadikan hakim. Dipenjara dan dicambuk, meninggal di penjara (150 H).

Guru dan Murid Abu Hanifah

Cara Ijtihad Abu Hanifah

Ijtihad Tambahan Abu Hanifah

a. Dilalah ‘am (lafad umum) adalah qath’i, seperti lafad khash

b. Pendapat sahabat yang “tidak sejalan” dengan pendapat umum adalah bersifat khusus

c. Banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat (rajih)

d. Menolak mafhum (makna tersirat) syarat dan shifat

e. Apabila perbuatan rawi menyalahi riwayatnya, yang dijadikan dalil adalah perbuatannya, bukan riwayatnya

f. Mendahulukan qiyas jali atas khabar Ahad yang dipertentangkan

g. Menggunakan istihsan dan meninggalkan qiyas apabila diperlukan.

Fikih Abu Hanifah

1. benda wakaf masih tetap milik wakif, wakaf = Ariyah, kecuali wakaf untuk mesjid, wakaf dengan penetapan hakim, wakaf wasiyat, dan wakaf yang diikrarkan untuk diteruskan walau wakif meninggal dunia. Abu Yusuf dan asy-Syaibani meralat pendapat ini setelah mendapatkan praktek wakaf Umar ibn al-Khattab yang tertulis dalam Shaih Bukhari “wakaf tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan”.

2. perempuan boleh menjadi hakim, khusus perkara perdata, bukan pidana. Alasannya qiyas; perempuan boleh menjadi saksi perdata (ashl), hakim (far’u)

3. Abu Hanifah dan ulama Kufah; shalat gerhana dilakukan 2 raka’at seperti shalat ‘id, tidak dilakukan 2 x ruku dalam satu raka’at.

Kitab Fikih Hanafiyah

Menurut Abu Zahrah, Abu Hanifah tidak menulis kitab secara langsung kecuali beberapa ‘risalah’ kecil yang dinisbahkan kepadanya, seperti risalah al-Fiqh al-Akbar dan al-’Alim wa al-Muta’alim.

Masalah fikih dalam madzhab Hanafi dibedakan menjadi 3, yaitu: al-Ushul, an-Nawadir, dan al-Fatawa.

Al-Ushul: masalah-masalah yang termasuk zhahir ar-riwayah, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan 3 sahabat/muridnya. Asy-Syaibani telah mengumpulkannya dalam Zhahir ar-Riwayah. Ada 6 kitab; al-Mabsuth/al-Ashl, al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ as-Shagir, as-Siyar al-Kabir, as-Siyar as-Shagir, dan az-ziyadat. Keenamnya kemudian disusun oleh Hakim as-Syahid menjadi satu kitab, al-Kafi. Al-Kafi dikomentari/disyarah oleh Syamsuddin as-Syarakhshi yang diberi nama al-Mabsuth (30 Jilid).

An-Nawadir: pendapat-pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hanifah dan sahabatnya yang tidak terdapat dalam kitab zahir ar-riwayah. Yang termasuk an-Nawadir: al-Kaisaniyyat,ar-Ruqayyat, al-Haruniyyat, dan al-Jurjaniyyat. Setelah muridnya, ganti murid dari muridnya menyusun kitab, yaitu Ala’uddin Abi Bakr ibn Mas’ud al-Kasani al-Hanafi (w. 587H) menyusun Bada’i as-Shana’i dan Fi Tartib asy-Syara’i.

Al-Fatawa: pendapat para pengikut Abu Hanifah yang tidak diriwayatkan dari Abu Hanifah, seperti kitab an-Nawazil karya Abi al-Laith as-Samarqandi. Kitab fatawa yang terkenal: 1. al-Fatawa al-Khaniyyat oleh Qadhi Khan, 2. al-Fatawa al-Hindiyyah, 3. al-Fatawa al-Khairiyyah, 4. al-Fatawa al-Bazziyah, dan 5. al-Fatawa al-Hamidiyyah.

Kitab Hanafiyah Muta’akhkhirin: Jami al-Fushulain, Dlarar al-Hukkam, Multaqa al-Akhbar, Majmu’ al-Anshar, dan Radd al-Mukhtar atau Hasiyah ibn ‘Abidin.

Kitab  Ushul fikih: karya Abu Zaid ad-Dabusi (w. 430 H), Fakhr al-Islam al-Bazdawi, dan an-Nasafi (w. 790 H)  + syarahnya, Misykat al-Anwar.

Kitab Qawa`id al-Fiqh: Usul al-Karkhi, Tasis an-Nadzar = Abu Zaid ad-Dabusi, al-Asybah wan-Nadza’ir karya Ibnu Nujaim, Majami’ al-Haqa’iq karya Abu Sa’id al-Khadimi (w. 1176H), Majallah al-Ahkam al-’Adliyah (Turki Usmani, 1292 H), al-Fawa’id al-Bahiyah fi al-Qawa’id wal-Fawa’id karta Ibnu Hamzah (w.1305 H), dan Qawa’id al-Fiqh karya Mujaddidi.

Aliran Maliki

Didirikan oleh Imam Malik, 93-179 H (Malik ibn Anas ibn Abi ‘Amar al-Ashbahi, lahir di Madinah, 93 H). Ulama 2 jaman, Umayah-al-Walid ‘Abd al-Malik (40 tahun), dan Abasiyah-Harun al-Rasyid (46 tahun).

Guru dan Murid Imam Malik

Cara Ijtihad Imam Malik

5 langkah (Ushul Khamsah)

1. mengambil dari al-Qur’an

2. menggunakan zhahir al-Qur’an (lafad umum)

3. menggunakan dalil al-Qur’an (mafhum muwafaqah)

4. menggunakan mafhum al-Qur’an (Mafhum mukhalafah)

5. menggunakan tanbih al-Qur’an (perhatikan ‘illat)

Langkah berikutnya: 1. ijmak, 2. qiyas, 3. amal penduduk Madinah, 4. Istihsan, 5. sadd az-zari’ah, 6. al-masalih al-mursalah, 7. qaul shahabi, 8. mura’at al-khilaf, 9. al-istishab, dan 9. syar’u man qablana.

Ijma’ Ulama Madinah; menurut Musthafa Daib al-Bu’a, beliau lebih mengutamakan ijma ulama Madinah daripada qiyas, khabar Ahad, dan qaul shahabat.

Fikih Imam Malik berdasarkan Ijma’ dan amal ulama Madinah:

1. kesucian mustahadah; mustahadah diwajibkan 1x mandi, setelah itu cukup dengan berwudhu (kebanyakan ulama: wajib mandi setiap akan shalat, 3 x mandi sehari—dhuhur-ashar, maghrib-isya, dan subuh).

2. berjimak dengan mustahadhah, boleh jika darahnya telah kering (= pendapat Abu Hanifah dan asy-Syafi’i)

3. Iqamah shalat. Bacaannya satu kali, awal-akhir (Allahu Akbar) dan qad qamat as-Shalah.

4. Bacaan shalat di belakang imam; makmum disunatkan membaca bacaan shalat jika bacaan imam tidak terdengar (berbeda dengan pendapat Abdullah ibn Umar)

5. Takbir zawa’id shalat hari raya; rakaat pertama 7x (sudah dengan takbiratul ihram), rakaat ke-2, 5 x takbir. (Syafi’i, rakaat pertama 7 x ditambah takbiratul ihram sendiri, jadi 8 x)

6. Jumlah rakaat minimal witir, 3 rakaat dengan 2 salam (Abu hanifah 3 rakaat dengan satu salam, Syafi’i minimal witir 1 rakaat. Pendapat syafii diikuti imam Ahmad ibn Hanbal).

7.  Salat musafir, jika musafir niat ta’khir tapi ternyata sudah sampai rumah (muqim), ia tetap harus melaksanakan shalat sebagi musafir karena  ia dibebani shalat ketika musafir (= Abu Hanifah. Sedangkan Syafi’i, wajib shalat sebagai muqim).

8. Bacaan shalat jenazah, setelah takbir pertama memuji Allah (bukan al-Fatihah), dan setelah takbir ke-4 salam (bukan do’a) (berbeda dengan Sfafi’i dan Ibn Qudamah).

9. Sujud Tilawah , dianjurkannya sujud tilawah ada di 11 ayat, sedang dalam surat al-hajj, an-Najm, al-Insyiqaq, dan al-’Alaq/al-qalam tidak dianjurkan (Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad, 14 tempat/ayat).

10.  Zakat harta milik yang mempunyai utang. Jika mempunyai harta + hutang, wajib zakat setelah utang dibayar dan memang mencapai/lebih dari nishab, jika kurang dari se-nishab, tidak wajib (= Abu Hanifah, karena hutang menjadi penghalang kewajiban zakat. Sedangkan Syafi’i, hutang bukan penghalang, sehingga tetap wajib zakat jika sudah se-nishab tanpa terlebih dahulu dipotong utangnya.

11. Zakat utang. Piutang yang sudah sampai senishab wajib dikeluarkan zakatnya jika telah kembali, atau dicicil + dengan harta sendiri sudah se-nishab, wajib zakat. (Syafi’i, piutang yang mencapai haul dan nishab wajib dikeluarkan zakatnya—walau belum di kembalikan, tapi mungkin diambil. Jika sulit diambil, tidak wajib zakat=Ah.

12. Tanaman dan buah-buahan yang wajib dizakati.harta yang tidak termasuk buah-buahan dan tanaman tidak wajib dizakati, buah delima dan tin juga tidak wajib zakat (Abu Hanifah; setiap yang tumbuh wajib dizakati kecuali kayu bakar, tmbuhan berbuku dan beruas, dan rumput (Yusuf dan Syaibani, hanya tanaman yang berbuah). Syafi’i, hanya tanaman yang sengaja ditanam yang wajib dizakati).

13. Berhenti Talbiyah. Talbiyah tidak diucapkan lagi jika matahari terbenam pada hari Arafah (berdasar pendapat Ali ibn Abi Talib)

14. Khiyar Majlis, tidak ada (= Abu Hanifah) karena jual beli telah lazim (mengikat) jika sudah ada ijab qabul. (Syafi’i dan Ahmad, ada khiyar majlis. Jual beli belum lazim setelah ijab qabul selama keduanya masih berada dalam satu tempat yang sama dan belum berpisah).

15. Barter gandum dengan jelai dengan tambahan. Jelai dan gandum sejenis jadi tidak boleh ditukar dengan tambahan (Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad, keduanya tidak sejenis, jadi boleh ditukar dengan tambahan).

16. Bapak menikahkan gadisnya tanpa ijin sah (diikuti Syafi’i. Abu Hanifah, wali tidak boleh memaksa jika gadisnya sudah dewasa).

17. Hak Bulan madu bagi suami poligami, 7 hari jika istri barunya gadis dan 3 hari jika janda, diikuti Syafi’i (Abu Hanifah, tidak membedakan gadis dan janda)

18. Kadar susuan yang mengharamkan perkawinan. Setiap susuan dapat menjadi sebab haramnya menikah dengan ibu dan saudara sesusuan, sebab banyak/sedikitnya susuan adalah sama (= Abu Hanifah. Sedangkan Syafi’i, susuan minimal 5 x secara terpisah—berdasarkan hadis Aisyah. Mazhab Hanbali ada 3 pendapat: sedikit/banyak, 3 x, dan 5x/lebih susuan yang menjadi haram menikahi)

19. Talak dua yang berkelanjutan. Cerai satu/dua, menikah dengan orang lain. kemudian kembali lagi mantan suaminya, menceraikan lagi (dihitung telah talak tiga) (= Syafi’i. Abu Hanifah dan Abu Yusuf, tidak melanjutkan, sehingga dihitung seperti awal atau talak satu).

20. Pengaruh zina terhadap perkawinan. Zina tidak dapat menentukan kekerabatan, karena itu anaknya boleh menikah dengan perempuan yang pernah berzina dengan bapaknya (diikuti Syafi’i. Berbeda Abu Hanifah, zina menentukan kekerabatan, tidak boleh menikah)

21. Kesaksian penuduh zina setelah tobat, dapat diterima (diikuti Syafii dan Ahmad,Abu Hanifah berbeda = tidak dapat diterima kesaksiannya Qadzif).

Pendapat Imam Malik

1.tentang wanita yang menikah pada masa iddah dan telah dukhul. Wajib dipisahkan dan haram selamanya menikah dengan laki-laki yang menikahi dalam masa iddah (Abu Hanifah, Syafi’i dan ath-Thawri, dipisahkan untuk menghabiskan iddah dan boleh kembali)
2.Shalat gerhana 2 rakaat dengan 2x ruku’ setiap rakaatnya (berdasar hadis A’isyah)
3.Mahar minimal 3 dirham/seperempat Dinar, diqiyaskan dengan nishab harta curian yang dikenai sanksi potong tangan.

Kitab-kitab Malikiyyah

Di antara pengikutnya yang terkenal: Asad ibn al-Furat, Abdus-Salam at-Tanukhi (Sahnun), Ibn Rusyd, al-Qurafi, dan asy-Syatibi.

Kitab utama:

1. al-Muwatta, disyarah oleh:

- M.Zakaria al-Kandahlawi, Aujaz al-Masalik ila muwatta Malik

- M. Ibn ‘Abd al-Baqi az-Zarqani, Syarh az-Zarqani ala muwatta al-imam Malik

-Jalaluddin abd Rahman as-Suyuti as-Syafi’i, Tanwir al-Hawalik Syarh ‘ala muwatta.

2. al-Mudawwanah al-Kubra karya at-Tanukhi

3. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid karya Ibn Rusyd al-Qurtubi al-Andalusi

4. Fath ar-Rahim ‘ala fiqh al-imam malik bil-Adillah

5. al-I’tisham, Abi Ishaq ibn Musa asy-Syatibi

Kitab U.Fiqh dan Qawaid Maliki

1. Syarh Tanqih al-Fushul fi Ikhtishar al-Mahshul fil-Ushul, karya Syihabuddin al-Qurafi

2. al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, asy-Syatibi

3. Ushul al-Futiya, M. Ibn al-Haris al-Husaini

4. al-Furuq, al-Qurafi (w. 684H)

5. al-Qawa’id karya al-Maqqari (w. 758H)

Madzhab Syafi’i

Kelahiran Imam Syafi’i (150-204 H)

Nama lengkapnya: Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Usman ibn Syafi’ ibn as-Sa’ib ibn ‘Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn ‘Abd al-Muthalib ibn ‘Abd Manaf. Lahir di Gazza (dekat Palestina), kemudian dibawa ibunya ke Mekah, meninggal di Mesir.

Perjalanan hidupnya, lahir pada masa Bani Abbas (Abu Ja’far al-Manshur). Belajar hadis dan fikih di Mekah, pindah ke Madinah belajar pada Imam Malik. Setelah Imam Malik meninggal (179), Syafi’i menjadi PN di Yaman. Gub Yaman menuduhnya bersekongkol dengan ahlul bait untuk menggulingkan pemerintah, tapi ia lolos berkat bantuan qadli Bagdad Muhannad ibn al-Hasan asy-Syaibani. Syafi’i belajar pada asy-Syaibani mempelajari fikih Iraq. Kembali ke Mekah, mengajar di mesjid al-Haram fikih dengan dua corak (9 tahun), tahun 195 kembali lagi ke Iraq (2 tahun beberapa bulan). Tidak betah di Iraq karena al-Makmun cenderung berpihak pada unsur Persia dan dekat dengan Mu’tazilah. Menolak jadi hakim dan pindah ke Mesir.

Guru dan Murid Syafi’i; dalam peta aliran pemikiran fikih sunni, ia mrp ulama “sintesis” dari dua aliran yang berbeda; aliran Madinah dan Iraq. Ia juga mempelajari fikih al-Auza’i dari Umar ibn Abi Salamah dan mempelajari fikih al-Laith dari Yahya ibn Hasan.

Cara Ijtihad Imam Syafi’i

Thuruq al-Istinbat al-Ahkam Syafi’i:

1. Rujukan pokok/asal adalah al-Qur’an dan Sunnah; jika tidak ada, ia melakukan qiyas terhadap keduanya

2. Sunnah digunakan jika muttasil dan sanadnya sahih

3. Ijma lebih diutamakan atas khabar mufrad

4. makna hadis yang diutamakan adalah makna zhahir (jika lafadznya ihtimal = mengandung makna lain); hadis munqathi tertolak kecuali riwayat Ibn al-Musayyab

5. asal (pokok) tidak boleh diqiyas/analogikan kepada asal/pokok; al-Qur’an dan as-Sunnah tidak boleh dipertanyakan lima wa kaifa (karena ini pertanyaan pada furu’)

6. Qiyas dapat menjadi hujjah jika peng-qiyasannya benar

Kesimpulan: dalil hukum Syafi’i adalah al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’. Teknik ijtihadnya adalah Qiyas dan Takhyir jika menghadapi ikhtilaf pendahulunya.

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Qaul Qadim; pendapat Syafi’i yang dikemukakan di Iraq, bercorak ra’yu

Qaul Jadid; pendapat Syafi’i ketika di Mesir—bertemu dan berguru dengan sahabat Imam Malik–, bercorak hadis (mulai tahun 199 H)

Sebab munculnya qaul jadid; 1. Syafi’i mendengar dan menemukan hadis dan fikih yang diriwayatkan ulama Mesir yang tergolong ahlul-hadis—yang tidak didapatkan di Iraq dan Hijaz, 2. ia menyaksikan adat dan kegiatan muamalah yang berbeda dengan di Iraq. Qaul Jadid dikumpulkan di al-Umm. Jadi qaul jadid adalah refleksi dari kehidupan sosial yang berbeda.

Kitab yang menghimpun qaul qadim dan jadid adalah; 1. al-Muhadzab fil-fiqh al-Imam asy-Syafi’i karya Abi Ishaq Ibrahim asy-Syirazi, 2. al-Imam asy-Syafi’i fi Madzhabaih al-Qadim wa al-jadid karya Ahmad Nahrawi Abdussalam.

Adanya qaul qadim dan jadid sering dijadikan alasan oleh pembaharu untuk memodifikasi fikih Islam

Pendapat Syafi’i

1. Imamah; termasuk masalah agama—amr diniy, karenanya mendirikan imamah merupakan kewajiban agama—bukan sekedar kewajiban aqli. Pemimpin umat Islam harus orang Islam dan non-muslim terlindungi. Pemimpin mesti dari kalangan Quraish berdasarkan hadis yang dijadikan kunci penyelesaian konflik di saqifah Bani Sa’adah (Bukhari, VIII: 105 dan Muslim, II: 120). Kriteria pemimpin berkualitas: berakal, dewasa, merdeka, muslim, laki-laki, dapat berijtihad, berkemampuan manajerial/tadbir, gagah berani, melakukan perbaikan agama, dan quraish.

2. Hakim Perempuan, tidak boleh secara mutlak, diqiyaskan dengan tidak bolehnya perempuan menjadi pemimpin. Syarat hakim: muslim, dewasa, merdeka, laki-laki, adil, dapat mendengar, melihat, berbicara, berkecukupan, dan mampu berijtihad.

Rujukan Syafi’iyah

Rujukan utama yang pada awalnya diimlakan kemudian ditulisnya adalah kitab al-Umm (hujjah al-ula), kedua ar-Risalah (karena kitab ini, Syafi’i dianggap sebagai Bapak Ushul Fiqih). Kitab yang lain: Musnad lisy-Syafi’i, al-Hujjah, dan al-Mabsuth.

Kitab Kaidah Fikih: 1. Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam karya Ibnu Abdis-Salam (w. 660H), 2. 4 kitab al-Asybah wan-Nadza’ir karya Ibnu Wakil (w.716), Tajuddin as-Subki (w. 771), Ibn Mulaqqin (w. 804H), dan Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H).

Madzhab Hanbali

Kelahiran Ahmad ibn Hanbal (164-241H)

Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibani al-Marwazi. Lahir di Baghdad pada masa khalifah Musa al-Mahdi. Pada masa al-Makmun, madzhab negara adalah Mu’tazilah. Ia terkena mihnah karena tidak menjawab khalq al-qur’an ‘makhluq/tidak (qadim), dipenjara pada masa Mu’tashim (220H). Jamannya al-Watsiq, dikeluarkan—jadi tahanan rumah, baru setelah al-Mutawakkil, mihnah dihapuskan.

Beliau disepakati sebagai ahli hadis, tetapi kepakarannya dalam bidang fikih diperselisihkan. Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu Qutaibah—dalam kitab al-Ma’arif—dan al-Maqdisi mengelompokkannya sebagai ahli hadis, bukan ahli fikih.

Guru dan Murid Imam Ahmad

Cara Ijtihad Imam Ahmad

Menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, pendapat Imam Ahmad dibangun atas 5 dasar:

1.an-Nusus dari al-Qur’an dan Sunnah, makna tersurat (tersirat diabaikan)
2.Jika tidak ada nusus, menukil fatwa sahabat yang disepakati. Jika berbeda-beda, ambil pendapat yang lebih dekat kepada nusus
3.Memakai hadis mursal dan dha’if apabila tidak ada atsar, qaul sahabat, atau ijmak yang menyalahinya
4.Jika tidak ada mursal dan daif, memakai qiyas (qiyas jika terpaksa
5.Memakai sadd az-Zara’i (preventiv terhadap hal negatif).

Fikih Ahmad ibn Hanbal

  1. Nishab harta curian yang pelakunya dikenai sanksi potong tangan adalah ¼ dinar atau 3 dirham; pencuri dengan kadar ¼ dinar harus dipotong tangannya meskipun tidak sebanding dengan 3 dirham, begitu juga jika sudah mencapai 3 dirham walaupun tidak sebanding dengan ¼ dinar.
  2. Dalam bidang pemerintahan, mewajibkan ketaatan mutlak pada pemimpin—baik/jahat. Tidak taat = maksiyat, mati dalam keadaan jahiliyyah.
  3. Muamalah, membenarkan adanya khiyar majlis; selama belum berpisah, belum lazim, berdasar hadis dari Nafi dan Abdullah ibn Umar:  والمتبيعان كل واحد منهما بالخيار مالم يتفرقا بابدانهما

Kitab-kitab Hanabilah

  1. Mukhtashar al-Khurqi, Abul-Qasim Umar ibn al-Hasan al-Khurqi (w. 334H), yang di syarh oleh Ibnu Qudamah (w.620), yaitu al-Mughni Syarh ala Mukhtashar al-Khurqi
  2. Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah, Taqiyuddin Ahmad ibn Taimiyyah (w. 728)
  3. Ghayat al-Muntaha fil-Jam’i bainal-Iqna’ wal-Muntaha, Mar’i ibn Yusuf al-Hanbali (w. 1032H), dan
  4. Al-Jami’ al-Kabir, Ahmad ibn Muhammad ibn Harun/Abu Bakar al-Khallal.

Madzhab Zhahiri

Pendirinya Abu Sulaiman Daud ibn ‘Ali ibn Khalaf al-Ashbahani al-Baghdadi (202-270H), lahir di Baghdad. Setelah selang waktu yang cukup lama, madzhab ini diteruskan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi (384-456H).

Disebut aliran Zhahiri, karena dinisbahkan kepada gelar pendirinya, Daud az-Zhahiri. Diberi gelar az-Zhahiri karena pendapatnya tentang cara memahami al-Qur’an dan Sunnah, yakni dengan menggunakan makna zhahir.

Awalnya imam Daud belajar fikih Syafi’i kepada gurunya di Baghdad, kemudian melakukan perjalanan ke Naisabur untuk belajar Hadis. Setelah itu keluar dari aliran Syafi’i dan membangun aliran sendiri.

Alasan keluar, Syafi’i berpendapat nash bisa dipahami secara tersurat maupun tersirat. Daud menolak, menurutnya, Syari’ah itu terkandung hanya dalam nash, tidak ada wilayah ra’yu dalam syari’ah, sehingga qiyas juga batal. “Sasya mengambil dalil Syafi’i dalam membatalkan Istihsan. Saya mendapatkan alasan itu untuk menolak qiyas”. Sangat anti qiyas, bahkan ia berkata “Yang pertama melakukan qiyas adalah Iblis”

Guru dan Murid Imam Daud

 

Pemikiran Hukum Khawarij, Syi’ah, dan Jumhur

Fiqh Syi’ah, Khawarij, dan Jumhur
Pengantar
•Tiga aliran ini pada awalnya merupakan aliran politik, karena sumber ikhtilaf mereka adalah masalah kepemimpinan ummat Islam
•Kondisi politik pasca Tahkim:
Pendukung Ali terpecah menjadi dua kelompok, yaitu Pro Ali = Syi’ah, Kontra Ali=Khawarij
Sunni/Jumhur= Murji’ah, netral; sahabat yang bertikai karena politik tidak keluar dari Islam. Mereka tetap mukmin dan tidak kafir.
Dalam perjalanan, khawarij berubah menjadi aliran kalam karena mengkafirkan Ali dan Usman serta semua orang yang terlibat tahkim.
Umayyah ditentang oleh Khawarij (dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam) dan Syi’ah (merampas kepemimpinan Ali dan keturunannya).
Khawarij; ada beberapa kelompok/sekte, di antaranya: Muhakkimah, al-Azariqah, an-Najdah, al-Ajaridah, dan al-Maemuniyyah. Lebih terkenal sebagai aliran kalam.
Pemikirannya dalam bidang Hukum Islam:

1. kepemimpinan, setiap muslim berhak menjadi pemimpin—tidak harus Quraisy—budak/merdeka sama.

2. Had Zina, cukup jilid 100X (tidak rajam karena hanya berdasarkan Sunnah)

3. Al-Mahramat, an-Nisa (4): 23-24 ‘banatukum’ menurut sekte al-Maemuniyyah, menikahi cucu halal karena yang diharamkan al-Qur’an hanya anak.

4. Menikah dengan non-Khawarij tidak sah (karena mereka kafir), tapi sekte Ibadiyah: walau dianggap kafir, menikahi boleh.

5. Jika terjadi perang antara khawarij dengan muslim non-khawarij, maka yang boleh dijadikan ghanimah hanya senjata dan kuda.

Syi’ah

Sumber Hukum menurut Syi’ah:

1. al-Qur’an dan Sunnah (ada 4 tingkatan: sahih, hasan, musaq, dan dhaif—tidak dipakai)

2. hanya menerima hadis, pendapat, dan tafsir dari imam dan ulama syi’ah saja

3. menolak ijma umum sebab berarti mengambil pendapat dari orang lain yang bukan imam syi’ah.

Pendapat Hukum Syi’ah:

1. nikah mut’ah* sah dilakukan tanpa saksi dan i’lan. Nikah mut’ah tidak menjadi sebab saling mewarisi antar suami-istri, tidak perlu talak (berakhir dengan habisnya waktu); iddah 2 x haid bagi yang masih haid/45 hari yang telah manapause; jumlah perempuan yang dapat dipoligami tidak terbatas.

2. lelaki muslim tidak boleh menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, sebab al-Ma’idah (5): 5 dimansukh oleh al-Mumtahanah (60): 10.

3. tidak menerima konsep ‘Aul**, karena mustahil Allah menentukan furud al-muqaddarah tapi hartanya tidak cukup (Ibn Abbas juga tidak setuju Aul)

4. Nabi Muhammad SAW dapat mewariskan harta kepada ahli warisnya (Jumhur ulama sepakat, Nabi tidak mewariskan harta).

5.  Dalam Adzan, setelah “hayya ‘alal-falah” ditambah “hayya ‘ala khair al-’amal” (ziyadah dari sudut adzan menurut Jumhur).

*Berdasarkan an-Nisa (4): 24, kata ‘istimta’ semakna dengan mut’ah. Menurut Imam al-Baqir, nikah mut’ah boleh dilakukan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, dan halal dilakukan hingga kiamat. Namun khalifah Umar ibn Khatab mengharamkan nikah ini.

**Ada tiga versi tentang ulama yang pertama mengumukakan konsep ini. Pertama, Umar ibn al-Khatab, 2. Abbas ibn ‘Abd al-Muthalib, dan 3. Zaid ibn Tsabit.

Bidang Politik (menurut Syi’ah)
•Pengganti Nabi telah ditentukan secara wasiyat, penerimanya Ali ibn Abi Thalib menantunya. Pandangan ini sangat bertentangan dengan Jumhur/Sunni yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah menentukan penggantinya. Oki, musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’dah antara Muhajirin dan Anshar sebagai jalan keluar dari kemelut suksesi kepemimpinan yang menghasilkan Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dalam pandangan Syi’ah, Abu Bakar telah merebut hak Ali ibn Abu Thalib untuk menjadi pemimpin umat Islam.
•Bagi Syi’ah, imam mesti ma’shum (terjaga dari kesalahan), mengetahui makna wahyu—tersirat maupun tersurat, dan suksesi dilakukan dengan cara wasiyat.
Pemikiran Hukum Jumhur; Jumhur = jumhur ulama, yaitu ulama pada umumnya. Dalam hal ini mayoritas dibandingkan dengan Khawarij dan Syi’ah di atas.
1.Penolakan terhadap keabsahan nikah mut’ah. Nikah mut’ah haram dilakukan (= pendapat Umar)
2.Menggunakan konsep ‘aul (sama dengan pendapat Umar, Abbas dan Zaid ibn Tsabit)
3.Nabi tidak mewariskan harta (= Abu Bakar), sesuai hadis:

نحن معاشر الانبياء لانورث, ماتركناه صدقة

4. Jumlah perempuan yang boleh dipoligami dalam satu periode adalah 4 orang (penafsiran terhadap surat an-Nisa [4]: 3, dan hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Ayat dan hadis tersebut pada dasarnya merupakan pembentukan hukum Islam secara berangsur-angsur/tadrij.

Hukum Islam pada Masa Kesempurnaan (101-350 H/720-961 M)

Kondisi Awal
•Runtuhnya Bani Umayyah (abad ke-2 H), menghembuskan angin baru dalam dunia fikih. Khalifah Bani Abbas sangat besar perhatiannya pada fikih dan fuqaha. Umayyah memasung ulama ><Abbasiyyah justru sangat menghormati.
•Harun al-Rashid memanggil Imam Malik untuk mengajar al-Muwatta pada al-Amin dan al-Makmun. Beliau juga meminta Abu Yusuf menyusun buku administrasi, keuangan, dan ketatanegaraan sesuai ajaran Islam (kitab al-Kharaj)
•Penerjemahan buku-buku Yunani (selama 100 Tahun); manuskrip ke bahasa Siriac—bhs ilpeng di Mesopotamia—kemudian baru ke Bahasa Arab.
Periode ini disebut juga:
•Keemasan fiqh/fase kesempurnaan (250 tahun); fikih menjadi ilmu yang mandiri
•Pembukuan dan munculnya para imam mujtahid; ada kebebasan berfikir sehingga muncul fikih iftiradi/taqdiri
•Islam maju dalam bidang sos-ek-pol-bud,pemikiran
•Pembukuan hadis dan fikih imam madzhab
Madzhab
Arti; pendapat, kelompok/aliran yang bermula dari pemikiran atau ijtihad seorang imam dalam memahami sesuatu—filsafat, hukum/fikih, teologi, politik. Pemikiran ini kemudian diikuti kelompok/para pengikut dan dikembangkan menjadi suatu aliran, sekte, atau ajaran. Secara harfiyah: tempat pergi dari kata zhahaba-yazhabu=pergi.
Sebab munculnya mazhhab
Masa keemasan fikih, adat istiadat heterogen, luasnya wilayah, beragam latar belakang pemikiran. Sebab tersebut, a.l.:1. perbedaan pemikiran, 2. ketidakjelasan masalah yang menjadi tema pembicaraan, 3. perbedaan kesenangan dan kecenderungan, 4. perbedaan cara pandang, 5. taklid pendahulunya, 6. perbedaan kemampuan, 7. masalah kepemimpinan dan cinta kepada penguasa, dan 8. fanatisme kelompok yang berlebihan
Kenapa ber-Madzhab?
•Sebagai muslim kita dituntut untuk setidaknya menjadi muttabi’ (mengikuti pendapat ulama dan mengetahui alasan/dalilnya, tidak hanya sekedar taqlid.
•Masing-masing mazhhab mempunyai ciri khas karena berbeda pendapat dalam menggunakan metode penggalian hukum—tapi hanya dalam masalah furu’—sedangkan yang asal sepakat, yaitu:
•1. sumber hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, yang bertentangan harus ditolak dan tidak boleh diamalkan
•2. saling menghormati selama masih dalam koridor syariat Islam
Mazhab Fikih Sunni, ada 13, yaitu:
•Sufyan ibn Uyainah di Mekah
•Malik ibn Anas di Madinah
•al-Hasan al-Bashri di Bashrah
•Abu Hanifah di Kufah
•Sufyan ath-Thawri di Kufah
•al-Auza`i
•asy-Syafi’i di Mesir
•al-Laits ibn Sa’ad di Mesir
•Ishaq ibn Ruhawaih di Naisabur
•Abu Tsaur di Baghdad
•Ahmad ibn Hambal di Baghdad
•Dawud azh-Zhahiriy di Baghdad
•Ibn Jarir at-Tabari di Baghdad
Perkembangan Mazhhab
•Seorang mujtahid/imam—seperti at-Tahawi– masih berpegang pada pokok gurunya (Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan asy-Syaibani) tapi kemudian ia mengembangkannya lebih maju, lebih teoritis
•Pembentukan madzhab bukan lagi karena wilayah, tapi juga karena person (abad 2-3 H). Madzhab Iraq hanya di kalangan pengikut Abu Hanifah dan Hijaz hanya pengikut Imam Malik
•Sunni ada 13 mazhab, tinggal 4; Syi’i ada 4, tinggal 3 (Ja’fari/Imami, Zaidi, dan Isma`ili); Khawarij, tinggal 1 yaitu Ibadi.
•Mazhab tidak melemah/menghilang dengan sendirinya tapi melalui uji coba, verifikasi ilmiah, dan operasional dalam suatu ruang dan waktu yang panjang, 600 tahun.
•Berkembang/tidak madzhab karena didukung: 1. fuqoha dan pengikutnya, 2. pengaruh dan dukungan politik.
Dukungan Politik, terbukti:
•Syafi’iyyah : Iraq, Mesir, Baghdad, Syam, Yaman, Brunei
•Hanbali: Saudi dan Baghdad
•Maliki: Hijaz, Bashrah, Mesir, Afrika, Andalusi, Maroko
•Hanafi: Kufah, Iraq, Khurasan, Turki
•Ja’fari: Iran
Kodifikasi Fikih
Masa keemasan ini orde kodifikasi ilmu pengetahuan, khususnya fikih, kaidah (Ushul fikih dan sumber-sumbernya), penulisan sunnah, dan tafsir.
Pertentangan A.H dan A.R menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra’yu dalam ijtihad (asy-Syaibani berguru pada Imam Malik, Syafi’i berguru pada asy-Syaibani; Abu Yusuf banyak mendukung A.H dengan menggunakan hadis-hadis Rasulullah)
Kitab-kitab fikih banyak berisi ra’yu dan hadis (titik temu masing-masing kelompok)
Kitab fikih mulai disusun dan pemerintah mulai menganut salah satu madzhab fikih resmi negara
Fikih iftiradhi semakin berkembang karena pendekatan fikih tidak lagi pendekatan aktual, tapi mulai bergeser pada pendekatan teoritis.
Kitab terkodifikasi
Fikih dan U.F: fikih imam Mazhab; pendapat hukum Abu Hanifah, al-Muwatta, al-Jami Sufyan ath-Thawri, ar-Risalah (U.F, as-Syafi’i), kitab as-Sunnan fil-fiqh dan kitab al-masa`il fil-fiqh dari Auza`i
Hadis; Kutub as-Sittah (Karya Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizhi, Ibn Majah, dan an-Nasa`i) yang jumlahnya berpuluh-puluh jilid
Tafsir: Tafsir ibn Juraih, Saddi dan Muhammad ibn Ishaq yang dikembangkan oleh Ibn Jarir at-Tabari

Tiga Istilah dalam Ijtihad menurut al-Qarafi

Anda Perlu Tahu !

Shihab ad-Din al-Qarafi (w. 684 H) dalam kitabnya Syarh Tanqih al-Fushul fi Ikhtishar al-Mahshul fil-Ushul, menjelaskan tiga term yang berkenaan dengan ijtihad, yaitu al-wadl’, al-isti’mal dan al-haml (lughah)

Al-Wadl’: menjadikan kata/lafad memiliki makna tertentu sehingga menjadi terkenal. Misalnya kata ‘as-Sunnah’ menurut muhadditsun dan fuqaha berbeda arti. Nah muhadditsun dan fuqaha inilah dinamakan wadl’i al-lughah.
Al-Isti’mal: pemakaian kata yang telah dibuat oleh wadl’i al-lughah. Setiap kata yang digunakan—lisan maupun tulisan—memiliki dua kemungkinan maksud; hakiki dan majazi. Oleh karena itu, dalam memahami kata yang digunakan oleh pembicara atau penulis, kita mesti memahami betul rentetannya sehingga antara kata yang satu dengan lainnya kita maknai secara konsisten. Pembicara atau penulis dalam konteks ini disebut musta’mil al-lughah.
Al-haml: keyakinan pendengar atau pembaca teks tentang maksud pembicara atau penulis. Misalnya dalam al-Baqarah (2): 228, kata ‘al-Quru’ dipahami oleh Imam Malik sebagai at-tuhr (suci), sedangkan Imam Abu Hanifah = haidh.
Persoalannya,  Allah posisinya sebagai wadhl’i al-lughah ataukah mustamil al-lughah?
Abu Bakar al-Baqilani asy-Syafi’i (w. 403 H), penyusun kitab I’jaz al-Qur’an. Allah memakai bahasa Arab dalam berfirman. (Yusuf [12]: 2, انا انزلنه قرانا عربيا لعلكم تعقلون). Allah tidak berpaling dari makna yang dibuat oleh wadl’i al-lughah kecuali Dia menentukan syarat-syarat dan taqyidnya. Misalnya Allah menggunakan kata shalat. Secara bahasa sholat adalah do’a. Allah tetap menggunakan arti tersebut kecuali Dia menggandengkannya dengan rukuk dan sujud, maka baru yang dimaksud adalah shalat sebagaimana yang kita lakukan. Jadi Allah sebagai musta’mil al-lughah.
Sedangkan ulama dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan sebagian fuqaha berpendapat bahwa Allah menciptakan bahasa dan menentukan maknanya (wadl’i al-lughah).
Meskipun berbeda pendapat dalam memposisikan Allah, tapi mereka sepakat memposisikan mujtahid sebagai hamil al-lughah; penebak, penerka, atau ‘penyeret’ makna kata-kata yang digunakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Atas dasar ini maka selayaknya kita bisa menghormati perbedaan pendapat.

Hukum Islam Pada Masa Rasulullah dan Sahabat

Hukum Islam Pada Masa Rasulullah (dari Bi’thah- 11 H./610-632 M.)

  1. Kehidupan Bangsa Arab Pra-Islam

Ciri utama tatanan masyarakatnya: menganut paham kesukuan (qabilah/klan); tata sosial politik tertutup (partisipasi warga terbatas; faktor keturunan lebih penting daripada kemampuan); mengenal hierarki sosial yang kuat, dan merendahkan perempuan.

Masyarakat pra-Islam juga telah mengenal jabatan-jabatan penting, seperti yang dipegang oleh Qushayy ibn Qilab pada pertengahan abad V. Dalam rangka memelihara ka’bah, ada jabatan sbb: hijaba (juru kunci), siqaya (penyedia air tawar dan minuman keras dari kurma), rifadla (pemberi makan), nadwa (pemimpin rapat tahunan), liwa (pemegang bendera tanda sedang menghadapi musuh), dan qiyada (pemimpin pasukan)

Dari segi akidah, bangsa Arab pra-Islam percaya kepada Allah sebagai pencipta. Mereka tahu dari risalah samawiyah –ibrahim dan Ismail. Namun kemudian mengalami transformasi (Baca: penyimpangan) dengan menyembah berhala, pohon, binatang, dan jin sebagai penyerta Allah (syirik). Mereka juga tidak percaya pada hari kiamat dan kebangkitan (al-Mu’minun [23]: 37). Tapi masih ada yang mempertahankan akidah monoteisme (al-hunafa), seperti Umar ibn Nufail dan Zuhair ibn Abi Salma.

Dalam bidang hukum, mereka memakai adat (adat menjadi sumber hukum). Dalam perkawinan, ada model istibdla (suami menyuruh istrinya berjimak dengan lelaki terpandang untuk mendapatkan keturunan ‘terhormat’); poliandri (perempuan dengan banyak lelaki, setelah melahirkan tinggal menunjuk lelaki mana yang menjadi bapaknya); maqthu (lelaki menikahi ibu tirinya setelah bapaknya mati—jika si anak masih kecil, ibu harus menungggu si anak dewasa dan menentukan pilihannya, ibu tidak boleh menolak); badal (tukar menukar istri tanpa cerai); dan shighar (wali menikahkan anak/saudaranya tanpa mahar). Di bidang hukum keluarga, boleh berpoligini dengan jumlah tanpa batas, perempuan dan anak kecil tidak dapat menerima warisan.[1] Dalam muamalah, dibolehkan mubadalah (barter), munabadah (jual beli dengan cara melempar batu, yang terkena berarti harus dibeli), kerjasama pertanian, dan riba.

  1. Tasyri’ Mekah dan Madinah

Hukum Islam masa Nabi dibedakan menjadi dua fase, Mekah dan Madinah. Ciri masyarakat Islam fase Mekah adalah: jumlahnya sangat kecil, lemah dibandingkan para penentangnya, dan dikucilkan (ekonomi diblokade—embargo). Karena sebelumnya masyarakat banyak yang menyembah berhala, langkah pertama Nabi adalah memperbaiki akidah (risalah tauhid)[2], di mana akidah merupakan pondasi amaliah ibadah.

Sedangkan ciri masyarakat Islam fase Madinah adalah: a. Tidak lagi lemah, banyak dan berkualitas, b. Mengeliminasi permusuhan dalam rangka mengesakan Allah, c. ada ajakan untuk mengamalkan syari’at Islam untuk memperbaiki hidup berrmasyarakat, dan d. membentuk aturan damai dan perang. Maka risalah yang disampaikan adalah hukum kemasyarakatan yang mencakup muamalah, jihad, jinayat, mawaris, wasiyat, talak, sumpah, dan peradilan.

Dalil hukum pada masa Rasulullah adalah al-Qur’an (al-wahy al-matluww)[3] dan as-Sunnah (al-wahy ghair al-matluww), serta ijtihad (Nabi maupun Sahabat).

Akomodasi Hukum Islam (al-Qur’an) terhadap Adat

Al-Qur’an mengakomodir hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Arab pra-Islam, sifatnya tawaran perbaikan—pembatalan maupun perubahan, seperti:

  1. Hukum poligini[4]. Poligini dibatasi maksimal empat isteri. Poliandri haram.
  2. Syarat-syarat Penerimaan Harta Pusaka

Dalam tradisi nenek moyang penduduk Arab pra-Islam ketentuan utama penerimaan harta pusaka adalah: anak yang belum dewasa dan perempuan tidak boleh menerima. Adapun syarat mempusakai adalah: 1. Pertalian kerabat (qarabah), 2. Janji setia (muhalafah), dan 3. Adopsi (tabanni). Pada zaman awal Islam (barusan Hijrah), selain karena pertalian nasab/qarabah, juga karena adopsi, hijrah, dan mu’akhakh (persaudaraan muhajirin-anshar). Akomodasi al-Qur’an adalah dengan menjadikan perempuan sebagai anggota keluarga yang mendapatkan waris dan dibatalkannya sebab adopsi untuk saling mewarisi.

  1. Ijtihad Nabi Muhammad SAW

Apa Nabi berijtihad terhadap sesuatu yang tidak ada ketentuan nash dari Allah? Ada perbedaan pendapat: ulama Asy’ariyah dan kebanyakan ulama Mu’tazilah, Nabi tidak boleh berijtihad tentang amaliyah halal-haram; ulama ushul—Abu Yusuf al-Hanafi dan asy-Syafi’i membolehkannya, sedang sebagian sahabat asy-Syafi’i yaitu al-Qadli ‘Abd al-Jabar dan Abu Hasan al-Bashri berpendapat Nabi berijtihad dalam masalah perang, bukan dalam bidang hukum. Sebagian yang lain berpendapat, Nabi tidak berijtihad sebab perkataan, perbuatan, dan ketetapannya adalah as-Sunnah yang berdasarkan wahyu juga.

Ikhtilaf itu memunculkan berbagai komentar, di antaranya ulama Mesir, Muhammad Salam madkur, menurutnya Nabi melakukan ijtihad tentang urusan dunia (bukan ibadah mahdhah). Ibn Hazm[5], Ibn Taimiyyah, Ibn Khaldun, dan al-Kamal ibn al-Hamam, Nabi melakukan ijtihad. Salah satu contohnya adalah panggilan dan pemberitahuan shalat. Al-Qadli ‘Iyadh berpendapat bahwa Nabi berijtihad dalam masalah duniawi, contohnya strategi perang khandaq, dan ternyata ditolak oleh kaum Anshar.

‘Abd Jalil ‘Isa mengungkapkan beberapa contoh ijtihad Nabi:

  1. Cara memperlakukan anak-anak musyrikin yang ikut berperang, Nabi menjawab, “seperti bapak-bapaknya”.
  2. Qiblat ke Bait al-Maqdis (16-17 bln) sebelum ditetapkan ke arah Ka’bah
  3. Abdullah ibn Ubai (tokoh munafik) yang meminta Nabi memintakan ampun, Nabi menyanggupi dan memohon agar ia diberi petunjuk, tapi kemudian malah turun at-Tawbah (9): 80[6].
  4. Khawalah binti Tsa’labah bertanya tentang suaminya (Aus ibn Shamit) yang telah zhihar, Nabi menjawab: “kamu haram bagi suamimu yang telah zhihar”, berarti zhihar = cerai. Kemudian Allah turunkan al-Mujadilah (28): 1-4. Zhihar tidak termasuk talak, tetapi ybs harus melakukan kafarat zhihar, yaitu memerdekakan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang fakir miskin, sebelum bercampur kembali dengan isterinya[7].
  5. Ijtihad Sahabat pada Masa Nabi

Sahabat yang melakukan ijtihad adalah mereka yang diutus menjadi qadli atau hakim, yaitu Ali ibn Abi Thalib (ke Yaman), Mu’adz ibn Jabal (Yaman), dan Khudzaifah al-Yamani yang diutus Nabi untuk menyelesaikan sengketa dinding antara tetangga yang sama-sama mengakui miliknya. Ijtihad Sahabat pada masa Nabi antara lain:

  1. Suatu hari para Sahabat berkunjung ke Bani Quraizhah. Nabi berpesan” la yushalliyanna ahadukum al-ashra illa fi bani quraizhah-jangan sekali-kali kamu melaksanakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”, ternyata belum sampai, waktu ashar hampir habis. Ada yang shalat di jalan[8], ada yang tetap dengan pesan Nabi (shalat di Bani Quraizhah). Ketika berita ikhtilaf tersebut disampaikan kepada Nabi, beliau membenarkan keduanya.
  2. Dua orang sahabat melakukan perjalanan. Waktunya shalat tidak ada air.mereka tayamum dan shalat. Setelah shalat mereka mendapatkan air. Seorang berwudhu dan mengulang shalat, sedang yang seorang lagi tidak. Mereka lalu menghadap Nabi, Nabi berkata kepada yang tidak mengulangi shalat “Ashabta as-Sunnah, Engkau mengerjakan sesuai sunnah”, sedang kepada yang mengulangi shalat, Nabi bersabda: “al-Ajr marratain, Engkau dapat pahala dua kali”.

Hukum Islam pada Zaman Sahabat (Khulafa Rasyidun, 11-40 H./632-661 M.)

  1. Pengaruh Fatwa terhadap Perkembangan Hukum

Ada beberapa persoalan yang dihadapi sahabat, di antaranya: 1. Khawatir kehilangan al-Qur’an karena banyak sahabat yang wafat[9], 2. Khawatir terjadinya ikhtilaf terhadap al-Qur’an seperti ikhtilaf Yahudi dan Nasrani terhadap Injil, 3. Takut terjadi pembohongan terhadap Sunnah Rasul[10], 4. Khawatir umat Islam akan menyimpang dari Hukum Islam, dan 5. Perkembangan kehidupan memerlukan ketentuan syari’at, dan tidak semua ada ketentuannya dalam nash.

Dalam menghadapi persoalan tersebut, mereka menentukan langkah-langkah dalam berijtihad. Langkah ijtihad—istinbat al-ahkam—Abu Bakar adalah: Mencari ketentuan hukum dalam al-Qur’an, jika ada langsung diterapkan. Jika tidak ada, mencari dalam as-Sunnah. Jika dalam as-Sunnah tidak ada, bertanya pada sahabat apakah ada keputusan Rasul. Jika ternyata tidak ada sahabat yang memberikan jawaban, maka ia mengumpulkan para pembesar sahabat dan bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Begitu juga yang dilakukan Umar. Sebelum mengumpulkan sahabat untuk bermusyawarah ia bertanya apakan Abu Bakar telah memutuskan kasus yang sama? Jika ya, tinggal mengikuti keputusan itu, jika tidak ada, ia mengumpulkan sahabat. Berikut wasiyat Umar kepada Syuraih (qadli/hakim): “Berpeganglah kepada al-Qur’an dalam menyelesaikan kasus; jika tidak ada, berpeganglah pada as-Sunnah; jika tidak ada juga, berijtihadlah!’. Kepada Musa al-Asy’ari Umar berkata: “Kamu wajib memahami apa yang ada dalam pikiranmu terhadap perkara yang tidak ada ketentuannya dalam al-Qur’an dan Sunnah. Kenalilah persamaan-persamaan, kemudian analogikanlah kasus yang sedang kamu hadapi; berpeganglah pada yang paling disenangi Allah dan yang paling dekat pada kebenaran menurut pemikiranmu”.

Pengaruh fatwa terhadap perkembangan HI adalah:

  1. Sahabat menelaah al-Qur’an dan Sunnah dalam menyelesaikan kasus. Jika tidak ada, baru melakukan ijtihad. Hasil ijtihad ini disebut fatwa, yi pendapat yang muncul karena adanya peristiwa yang terjadi.
  2. Sahabat telah menentukan dan menggunakan thuruq al-istinbat dalam menyelesaikan kasus.

Jadi sumber hukum Islam pada masa sahabat adalah al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad (ra’yu).

  1. Sebab-sebab Ikhtilaf pada zaman Sahabat

Sahabat berbeda pendapat dalam menyelesaikan suatu kasus karena mereka tidak terjaga dari kekeliruan. Di samping itu juga ada dua pandangan mengenai otoritas kepemimpinan umat Islam (sekaligus otoritas penetapan hukum)[11]. Ada tiga sebab ikhtilaf, yaitu: karena sifat al-Qur’an, sifat Sunnah, dan karena penggunaan ra’yu. Sebab al-Qur’an di antaranya:

  1. Kata/lafad yang bermakna ganda/isytirak. Al-Baqarah (2): 228[12]. Kata quru’ mengandung dua arti: al-haid dan at-Tuhr. Menurut Umar, haid; sedangkan Zaid ibn Tsabit, at-tuhr. Penduduk Kufah—seperti Umar, Ali, Ibn Mas’ud, Abu Musa, Mujahid, Qatadah, ad-Dlahak, Ikrimah, Ubadah ibn Shamit, dan as-Saddi—beranggapan bahwa quru = haid, sedangkan penduduk Hijaz—Aisyah, Ibn Umar, Zaid ibn Tsabit, az-Zuhri, Abbab ibn Usman—memaknainya at-Tuhr. Sebab karena watak bahasa Arab. Ijtihad takhriji (takhrij al-ahkam).
  2. Hukum yang ditentukan al-Qur’an masing-masing “berdiri sendiri” tanpa mengantisipasi kemungkinan bergabungnya dua sebab pada satu kasus[13]. Misalnya iddah mati, 4 bln + 10 hari (al-Baqarah [2]: 234), dan iddah hamil adalah hingga melahirkan (at-Talak [65]: 4). Bagaimana jika hamil dan ditinggal mati? Ali ibn Abi Thalib dan Ibn Abbas, iddah yang terpanjang di antara dua iddah, sedangkan menurut Abdullah ibn Mas’ud yang berlaku iddah hamil sebab ayat tentang iddah hamil diturunkan setelah ayat iddah wafat. Ini berhubungan dengan ijtihad aplikasi hukum (tathbiq al-ahkam).

Adapun sebab perbedaan karena Sunnah adalah sbb:

  1. Penguasaan Sahabat terhadap Sunnah tidak sama. Terjadi karena perbedaaan mereka dalam menyertai Nabi, ada yang intensif, ada yang awal-akhir masuk Islam.
  2. Ada riwayat telah sampai kepada seorang Sahabat tetapi belum sampai kepada yang lain, sehingga mereka menggunakan ra’yu. Contoh menurut Abu Hurairah orang yang masih junub pada waktu subuh, tidak dihitung puasa Ramadannya. Kata Aisyah, dihitung puasanya. Ia menjadikan peristiwa dengan Nabi sebagai alasannya. Abu Hurairah akhirnya menarik pendapatnya.
  3. Berbeda dalam menakwilkan Sunnah. Seperti masalah thawaf. Mayoritas sahabat berpendapat bersegera thawaf sunah, sedangkan menurut Ibn Abbas, tidak sunah.

Sedang perbedaan dalam menggunakan ra’yu, seperti perbedaaan antara Umar dan Ali tentang perempuan yang menikah dalam waktu tunggu (iddah). Umar, apabila belum dukhul, harus dipisah (selesaikan iddahnya), bila sudah dukhul, harus dipisah dan menyelesaikan dua iddah (dari suami pertama dan kedua). Ali, perempuan itu hanya diwajibkan menyelesaikan iddah yang pertama. Ali berpegang pada keumuman ayat, sedangkan Umar pada tujuan hukum, yakni agar orang tidak lagi melakukan pelanggaran.

 

Perkembangan Fatwa Sahabat

Sahabat yang terkenal sebagai mufti adalah Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Abbas, dan Abdullah ibn Mas’ud. Ijtihad Abu Bakar: 1. Harta peninggalan Nabi Muhammad, tidak dapat diwariskan kepada Fatimah (satu-satunya ahli waris), meskipun sesuai an-Nisa (4): 11[14], dia berhak. Menurut Abu bakar ayat ini ditakhsis oleh hadis: نحن معاشر الانبياء لانورث, ماتركناه صدقة ; 2. Bagian waris untuk nenek = 1/6 (keputusan ini setelah Abu Bakar bertanya pada al-Mughirah ibn Syu’bah dan dikuatkan oleh Muhammad ibn Musalamah).

Umar ibn al-Khathab dikenal banyak melakukan ijtihad dan sangat hati-hati dalam menerima hadis[15]. Di antara ijtihad Umar adalah: 1. Tarawih secara berjamaah hukumnya mandub (jaman Nabi secara munfarid); 2. Pembagian pusaka Gharawain (ahli warisnya terdiri dari suami/isteri, ibu dan ayah). Menurut ibn Abbas, ibu dalam kedua kasus tersebut mendapat 1/3. Alasannya dalam an-Nisa ayat 11, bagian ibu yang bersama ayah adalah 1/3 bila yang mati tidak punya anak. Sementara Umar, Usman, Zaid ibn Tsabit, dan ibn Mas’ud berpendapat ibu dalam kedua kasus itu memperoleh 1/3 dari sisa. Alasannya an-Nisa (4): 11, bahwa laki-laki dengan berbagai posisi dalam struktur keluarga, mendapat 2X lipat dari bagian perempuan; 3. Talak tiga yang diucapkan sekaligus dihukumi talak tiga (padahal menurut riwayat Muslim dan Ahmad dari Ibnu Abbas, pada zaman Nabi sampai dua tahun pertama kekhalifahan Umar, dihukumi talak satu).

Usman ibn Affan hasil ijtihadnya, isteri yang dicerai suaminya yang sedang sakit kemudian mati karena sakitnya, isteri mendapatkan pusaka—baik masih masa iddah/tidak, sedangkan menurut Umar, isteri bisa mewarisi selama masih masa iddah.

Ali ibn Abi Thalib, ijtihadnya: 1. Peminum khamr dicambuk/dera 80 X (qiyas ke qadzaf, mabuk akan gampang menuduh); 2. Mimbariyah, berkaitan dengan pertanyaan bagian waris untuk isteri (a.w-nya isteri, bapak/ibu, dan dua anak perempuan), Ali menjawab dari mimbarnya, 1/9 (karena mengalami aul); 3. Sumpah/akad talak yang dibarengi dengan syarat adalah tidak sah (dikaitkan dengan tidak memberi nafkah 1 bln).


[1] Perempuan sangat dilecehkan; perempuan dapat diwariskan (nikah maqthu), dan tidak memperoleh harta pusaka.

[2] Perbaikan akidah untuk menyelamatkan ummat Islam dari kebiasaan buruk sebelumnya seperti: berperang/membunuh, zina, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Mereka juga diharapkan dapat menegakkan keadilan, kebaikan, dan tolong-menolong dalam kebaikan.

[3] Menurut ‘Abd al-Wahhab Khallaf, ahkam yang terkandung dalam al-Qur’an meliputi hukum keyakinan (ahkam al-I’tiqadiyah), hukum akhlaq (ahkam al-khuluqiyyah), dan hukum amaliyah. Jadi secara garis besar hukum dalam al-Quran dibedakan menjadi dua: Ibadah dan muamalah. Muamalah adalah hukum yang bertujuan membangun keselarasan hubungan manusia dengan manusia yang  mencakup hukum keluarga—al-ahwal asyakhshiyyah (mengatur hubungan individu dengan individu dalam keluarga dan kekerabatan, 70 ayat); hukum kebendaan—ahkam  madaniyyah (mengatur tukar menukar harta seperti ijarah, rahn, kafalah, dan syirkah (70 ayat); hukum jinayah; lembaga peradialn (ahkam murafa’at, hukum yang mengatur syarat-syarat hakim, saksi, dan sumpah, 10 ayat); hukum dusturi, berhubungan dengan interaksi antara pemimpin dengan rakyat, 10 ayat; Al-ahkam ad-dauliyyah (hubungan kenegaraan-antarnegara regional maupun internasional, 25 ayat; dan hukum ekonomi/al-ahkam al-iqtishadiyyah wal-maliyyah, 10 ayat. Atau ayat hukum berjumlah 368 ayat, dari jumlah tersebut, hanya 228 ayat (3,5%) yang berkenaan dengan kemasyarakatan.

[4] Poligami mengandung dua arti, poligini (suami beristri banyak dan poliandri). George Whitecross Paton, menjelaskan, pada awalnya mnusia melakukan persetubuhan secara bebas, tanpa ada paksaan. Fase kedua dilakukan melalui poliandri, ketiga poligini, dan fase terakhir monogami. Menurut Friederick Engels, evolusi perkawinan adalah: perkawinan masyarakat liar (sekelompok lelaki mengawini sekelompok perempuan/perkawinan antarkampung), perkawinan masyarakat Barbar (lelaki dan perempuan menikah tapi masing-masing  mempunyai suami/isteri yang lain/cadangan), dan perkawinan masyarakat beradab (monogami).

[5] Dalam kitabnya al-Fishal fi al-Milal wal-Ahwa wa an-Nihal, ibn Hazm berkata: kadang-kadang para Nabi bermaksud memutuskan/mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan ridha Allah, tetapi ternyata keputusan/pekerjaannya itu tidak sesuai dengan kehendak Allah, seperti peristiwa perceraian Zaid-Zainab, dan peristiwa Ibnu Umi Maktum.

[6] öÏÿøótGó™$# öNçlm; ÷rr& Ÿw öÏÿøótGó¡n@ öNçlm; bÎ) öÏÿøótGó¡n@ öNçlm; tûüÏèö7y™ Zo§sD `n=sù tÏÿøótƒ ª!$# öNçlm; 4 y7Ï9ºsŒ öNåk¨Xr’Î/ (#rãxÿŸ2 «!$$Î/ ¾Ï&Î!qߙu‘ur 3 ª!$#ur Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# tûüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇÑÉÈ

[7] Karena berijtihad, ada kemungkinan Nabi melakukan kesalahan. Menurut ulama Syafi’iyyah, Nabi tidak akan salah, sedangkan al-Juba’i dan Mu’tazilah, Nabi bisa salah tetapi kemudian ditegur oleh Allah atau Sahabatnya.

[8] Berdasarkan ijtihadnya, perintah Rasul supaya sahabat melakukan perjalanan secara cepat sehingga bisa sampai sebelum waktu ashar habis. Nah sebagian lagi berpegang pada makna tersurat perintah Rasul. Menurut Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, mereka adalah ahl az-zahir (shalat di Quraizhah) dan ahl al-ma’na pertama.

[9] Abu Bakar merespon usul Umar untuk mengumpulkan al-Qur’an berdasarkan bahan-bahan yang ada—catatan dan hafalan. Hal ini karena banyak sekali Sahabat penghafal al-Qur’an syahid di perang Yamamah (1000 orang). Awalnya Abu Bakar menolak usul Umar karena Rasulullah tidak melakukan/memerintahkannya. Tapi akhirnya karena kebutuhan al-Qur’an disusun juga. Sahabat yang paling intens keterlibatannya adalah Zaid ibn Tsabit, karena beliau adalah sekretaris Nabi.

[10] Persoalan Sunnah berasal dari dua arah, dari umat Islam yang telah melakukan kesalahan dan perubahan—tahrif—Sunnah tanpa bermaksud mengubahnya karena lupa/keliru dalam menerima/menyampaikannya, dan dari kaum munafik yang sengaja melakukan pendustaan dan kebatilan Sunnah dengan maksud merusak agama Islam. Maka langkah para sahabat adalah berhati-hati dalam meriwayatkan hadis, mencegah menuliskan hadis karena khawatir tercampur dengan al-Qur’an (ini terjadi pada ahl kitab yang menulis kitab penyerta selain kitab sucinya, sehingga kitab suci jadi ditinggalkan). Tapi masih ada yang menulis hadis dalam lembaran-lembaran, yaitu Jabir.

[11] Kelompok pertama, Syi’ah, yang memandang otoritas itu setelah wafatnya Rasul dipegang oleh ahlul bait. Kelompok ini tidak memperoleh kesulitan dalam menghadapi terhentinya wahyu karena masih ada pewaris Nabi yang terjaga dari kesalahan (maksum) dan mengetahui makna al-Qur’an, sedangkan kelompok kedua ahlus Sunnah/ Sunni. Menurut mereka sebelum meninggal Rasul tidak menentukan dan tidak menunjuk penggantinya yang dapat menafsirkan dan menetapkan perintah Allah. Al-Qur’an dan Sunnah-lah sumber untuk menarik hukum berkenaan dengan masalah yang timbul.

[12]

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRrÎ/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 

[13] Atau karena dua ketentuan yang disebabkan oleh dua sebab yang berbeda tanpa antisipasi kemungkinan bergabungnya dua sebab tersebut.

[14] ÞOä3ŠÏ¹qムª!$# þ’Îû öNà2ω»s9÷rr& ( ̍x.©%#Ï9 ã@÷VÏB Åeáym Èû÷üu‹sVRW{$# 4 bÎ*sù £`ä. [ä!$|¡ÎS s-öqsù Èû÷ütGt^øO$# £`ßgn=sù $sVè=èO $tB x8ts? ( bÎ)ur ôMtR%x. Zoy‰Ïmºur $ygn=sù ß#óÁÏiZ9$# 4 Ïm÷ƒuqt/L{ur Èe@ä3Ï9 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß‰¡9$# $£JÏB x8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrO͑urur çn#uqt/r& ÏmÏiBT|sù ß]è=›W9$# 4 bÎ*sù tb%x. ÿ¼ã&s! ×ouq÷zÎ) ÏmÏiBT|sù â¨ß‰¡9$# 4 .`ÏB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur ÓÅ»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ 3 öNä.ät!$t/#uä öNä.ät!$oYö/r&ur Ÿw tbrâ‘ô‰s? öNßg•ƒr& Ü>tø%r& ö/ä3s9 $YèøÿtR 4 ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJŠÅ3ym ÇÊÊÈ

[15] Kehati-hatian Umar dalam menerima hadis seperti ketika Zaid ibn Tsabit berfatwa bahwa pertemuan dua khitan (tanpa keluar mani) sudah menjadi sebab wajibnya mandi junub. Zaid ditanya oleh Umar. Zaid menjawab, “Aku tidak mengerjakan hal itu, tetapi aku mendengar hadis itu dari pamanku”. Hal itu lalu ditanyakan kepada Rifa’ah ibn Rafi’; dan akhirnya Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar untuk membicarakan hadis itu, ternyata tidak ada yang mengetahui hadis itu. Lalu Umar menyuruh bertanya pada Hafshah (isteri Nabi), Hafsah tidak tahu juga. Kemudian ditanyakan pada Aisyah, dia berkata: Apabila dua khitan telah bertemu, maka keduanya wajib mandi.

Pengantar SHI

Studi Hukum Islam[1]

Oleh: Imroatul Azizah, M.Ag.

Pengertian Tarikh Tasyri’ al-Islami

At-Tasyri’: Penetapan peraturan, penjelasan hukum-hukum, dan penyusunan perundang-undangan. Jadi Tasyri’ adalah istilah teknis tentang proses pembentukan fikih atau peraturan perundangan. Di dalamnya tercakup produk dan proses pembentukan fikih atau peraturan perundangan. Dalam mengkaji dasar-dasar fikih—al-Qur’an dan as-Sunnah—akan didalami pula proses pembentukan al-Qur’an dan as-Sunnah; dan ilmu asbabun-nuzul dan asbabul-wurud juga merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan. Ketika kita mengkaji pendapat dan peraturan perundangan, maka kita juga akan mendalami proses pembentukannya. Selain itu, kajian tentang langkah-langkah ijtihad para ulama juga menjadi bagian dari mata kuliah ini.

Atas dasar itu, maka logis jika tarikh tasyri’ didefinisikan sebagai “Ilmu yang membahas keadaan Hukum Islam pada zaman Rasul dan sesudahnya dengan uraian dan periodisasi, yang padanya hukum itu berkembang serta membahas ciri-ciri spesifiknya, keadaan fuqaha dan mujtahid dalam merumuskan hukum itu”.

Fungsi dan signifikansi tarikh tasyri adalah bahwa dalam memahami hukum Islam harus mengetahui latar belakang munculnya suatu hukum—baik yang didasarkan pada al-Qur’an maupun yang tidak. Tanpa memahami ini akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung ‘ekstrem’ bahkan terkadang merasa benar sendiri. Hukum Islam, baik dalam arti fikih, fatwa, atau ketetapan adalah produk pemikiran ulama secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu mempelajari perkembangan fikih atau fatwa berarti mempelajari pemikiran para ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan yang dimiliki serta pola yang digunakan mereka. Dalam salah satu kaidah, di antara tugas kita adalah: “memelihara produk pemikiran ulama dan langkah-langkah ijtihadnya serta mengembangkannya sehingga lebih maslahat—المحافظة على قديم الصالح والاخد بالجديد الاصلح””. Berarti dengan mempelajari tarikh tasyri kita melakukan langkah awal dalam mengkonstruksi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk ditransmisikan sehingga kemaslahatan manusia senantiasa terpelihara. Diharapkan, melahirkan sikap toleran dan dapat mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya serta dapat mengembangkan gagasannya.

Pengertian Fiqih, Syari’ah, dan Hukum Islam

Fikih: العلم بالاحكام الشرعية العملية المكتسب من ادلتها التفصيلية  “Pengetahuan tentang hukum syara’ yang berhubungan dengan amal perbuatan yang digali dari satu persatu dalilnya”.

  • Kata al-‘Ilm (pengetahuan) secara umum mencakup pengetahuan secara yakin dan zhan (perkiraan). Dalam definisi ini yang dimaksud adalah pengetahuan yang sampai ke tingkatan zhan atau asumsi. Fikih adalah hukum Islam yang tingkat kekuatannya hanya sampai ke tingkatan zhan karena ditarik dari dalil-dalil yang zhanny. Ini sejalan dengan kata al-muktasab = diusahakan, yang mengandung pengertian adanya campur tangan akal pikiran manusia dalam penarikannya dari dalil. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Hukum Islam yang tidak dicampuri oleh akal pikiran, tidak disebut fikih.
  • Fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’iyyah. Hukum syar’i: kalamullah yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik dalam bentuk perintah untuk berbuat atau larangan dan pilihan atau menjadikan sesuatu yang lain; hukum syar’iyyah diambil dari sumber-sumber syari’at, bukan dari akal atau perasaan. Jadi 1+1= 2, Api itu panas tidak disebut fikih karena tidak diperoleh dari proses istidlal dari sumber syari’at.
  • Fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’iyyah amaliyyah. Kata ‘amaliyah’ artinya fikih selalu berkaitan dengan amaliah atau perbuatan manusia, baik dalam bentuk ibadah maupun muamalah. Maka hukum-hukum akidah dan akhlak tidak termasuk fikih (fikih diperoleh melalui proses istidlal atau penyimpulan [istinbat], sedang akidah dan akhlaq tidak dengan cara seperti itu).
  • Tafsili: dalil-dalil yang menunjukkan pada suatu hukum tertentu. Seperti firman Allah: “Aqimu as-shalah wa atu az-zakat”. Ayat ini disebut tafshili karena hanya menunjukkan pada hukum tertentu dari perbuatan tertentu pula, yaitu bahwa shalat dan zakat itu wajib hukumnya.

Lalu apa Syari’ah?

Al-Qur’an menggunakan kata Syir’ah dan syari’ah dalam pengertian din (agama) baik sebagai suatu jalan lurus yang ditentukan oleh Allah untuk manusia maupun suatu ketentuan yang harus dilaksanakan. Artinya syari’at meliputi segala ketentuan dan hukum yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, baik mengenai akidah, akhlaq ataupun perbuatan manusia dalam bentuk ibadat dan muamalah.[2] Pengertian syari’at seperti ini sama dengan pemahaman fikih pada periode-periode awal.

Namun dalam perkembangannya kedua istilah ini mengalami pergeseran makna dan cenderung berbeda, walaupun garis pembeda keduanya tidak nampak jelas sehingga seringkali keduanya dipakai dalam pengertian yang sama. Berikut perbedaan antara fiqih dan syari’ah:

No Syari’ah Fiqih
1. Ruang lingkup lebih luas; segala aspek Hanya berkaitan dengan hukum
2. Bersumber dari wahyu dan ilm ttg wahyu hanya diperoleh dari/dg perantara nas Kemampuan penalaran sangat ditekankan
3. Arah tujuannya ditentukan oleh Allah & nabi Disusun dan diangkat atas usaha manusia
4. Terminologi; perintah Ilahi yang harus diikuti Terminologi tentang hukum sebagai suatu ilmu
5. Bersifat sempurna dan tidak berubah Terus berkembang dan berubah sesuai kondisi zamannya
6. Bersifat umum dan universal—keberadaan, tujuan, dan nususnya.
7. Menjadi keharusan untuk melaksanakan/meninggalkannya tanpa mengenal ruang dan waktu Yang dipahami seseorang, tidak menjadi keharusan bagi orang lain untuk mengikutinya
8. Kebenarannya bersifat mutlak Ada kemungkinan salah

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Syari’at Islam adalah satu dan tidak berubah-ubah
  2. Perubahan dan pergantian hanyalah mengenai upaya penyesuaian dan penerapan syariat/hukum Allah tersebut dengan kondisi masyarakat dan situasi zaman; fikih pada hakikatnya merupakan hasil usaha penyelarasan antara syari’at dengan kondisi masyarakat dan zamannya.

Materi Kuliah “Studi Hukum Islam”

  1. Pengertian Shari’ah, Fiqh, dan Hukum Islam
  2. Hukum Islam pada masa Rasulullah, Sahabat, dan Tabi’in
  3. Hukum Islam pada masa imam madzhab.
    1. Sejarah Intelektual dan metode penyelesaian hukum Abu Hanifah, imam Malik, Imam Shafi’i, Ahmad ibn Hanbal, Dawud ad-Dhahiri, dan Ja’far as-Sadiq.
    2. Hukum Islam pasca Imam madzhab (sharah dan hashiyah)
    3. Hukum Islam pada masa modern; kodifikasi, legislasi, dan kompilasi.
    4. Hakekat Hukum Islam; sumber dan obyek kajian.
    5. Peranan akal dalam Hukum Islam
    6. Tujuan dan aspek-aspek Hukum Islam
    7. metode istinbat hukum; ahl Hadis-ahl Ra’y dan jumhur-fuqaha
    8. Konsep tasamuh dalam Hukum Islam
    9. Metode pemecahan masalah kontemporer dan contoh penerapannya

 

Macam-macam Tasyri’

Secara umum dibagi dua, yaitu: at-tasyri’al-islami min jihat an-nash (dari sudut sumber, yaitu tasyri’ yang dibentuk pada zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu al-Qur’an dan Sunnah), dan at-tasyri’ al-islami min jihat at-tawassu’ wa as-syumuliyyah (dari sudut keluasan dan kandungan, yaitu mencakup ijtihad sahabat, tabi’in, dan ulama sesudahnya).

Fikih dilihat dari temanya, dibagi menjadi fikih ibadah, muamalah, dan uqubah[3],  sedangkan dari segi peristiwa yang diselesaikan, fikih dibedakan menjadi dua, yaitu fikih yang peristiwanya betul-betul terjadi (fiqh al-waqi’i) dan fikih yang peristiwanya hanya berupa pengandaian/tanpa peristiwa konkret (fiqh at-taqdiri/iftiradhi). Contoh waqi’i, pada masa Umar ibn al-Khattab ada janda menikah dalam masa iddah. Umar kemudian menta’zir laki-laki yang menikahinya dengan beberapa pukulan, kemudian keduanya dipisahkan. Umar berfatwa: “Perempuan yang menikah dalam masa iddah, apabila belum dukhul, keduanya harus dipisah dan wajib menyelesaikan iddahnya yang belum selesai; apabila sudah terjadi dukhul, perempuan tersebut harus menjalani dua iddah, yaitu iddah dari suami pertama dan iddah dari suami yang menikahi pada masa iddah. Contoh fiqh taqdiri, misalnya manusia yang dilahirkan dari hewan yang termasuk najis mughaladhah—anjing dan babi–, ia tetap suci seperti manusia pada umumnya; juga tetap diwajibkan shalat dan perintah-perintah agama lainnya.

Asas dan Prinsip Hukum Islam

Asas Hukum Islam adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan Hukum Islam. Menurut Syaikh Muhammad Hadhari dalam kitab Tarikh at-Tasyri’ al-Islamiy, asas Hukum Islam ada tiga, yaitu: meniadakan kesempitan dan kesukaran (‘adam al-haraj), sedikit pembebanan (taqlil at-takalif), dan bertahapnya penetapan hukum (at-tadrij fit-tasyri’). Dalam perkembangannya asas HI ditambah dua, yaitu menegakkan maslahah dan menegakkan keadilan (tahqiq maslahah wa al-‘adalah)[4].

Sedangkan prinsip HI (permulaan, tempat pemberangkatan, titik tolak/al-mabda`) adalah asas yang bermakna kebenaran yang dijadikan pokok dasar orang berpikir, bertindak, dsb. Artinya, cita-cita yang menjadi pokok dasar dan landasan HI, baik prinsip universal maupun khusus (setiap cabang HI). Ada perbedaan pakar dalam menyebut prinsip HI, tapi setidaknya ada 9 yang bisa dirangkum, yaitu: tauhid, keadilan, al-huriyyah, al-musawah, at-ta’awun, at-tasamuh, amar ma’ruf nahi munkar, at-ta’ah, dan asy-syura`.

‘Adam al-haraj. Ada enam bentuk/cara meniadakan kesulitan, yaitu: 1. Takhfif al-isqat (meringankan dengan menggugurkan/pengguguran kewajiban) seperti gugurnya kewajiban shalat Jum’at, ibadah haji, umrah, jihad jika ada udzur; 2. Takhfif at-tanqis (atau pengurangan kadar yang telah ditentukan, contohnya qashar); 3. Takhfif al-ibdal, penukaran kewajiban seperti kewajiban wudu dan mandi junub diganti dengan tayamum; 4. Takhfif at-taqdim, artinya mengerjakan sesuatu sebelum waktu yang telah ditentukan secara umum (asal) seperti jamak taqdim, mendahulukan zakat sebelum setahun, mendahulukan zakat fitrah sebelum akhir ramadhan; 5. Takhfif at-ta`khir, seperti jamak ta`khir, mengakhirkan puasa ramadhan bagi musafir dan atau sakit; 6. Takhfif at-tarkhis (meringankan dengan rukhshah) misalnya kebolehan menggunakan benda najis atau khamr untuk keperluan berobat[5].

Taqlil at-Takalif. Asas ini merupakan kesimpulan logis dari asas ‘adam al-haraj karena banyaknya beban adalah kesukaran. Dasar asas ini adalah al-Ma`idah (5) ayat 101 yang menegaskan bahwa orang-orang beriman dilarang bertanya kepada Rasul Allah tentang hal yang apabila diwajibkan akan menyulitkan mereka, seperti pertanyaan umat Nabi Musa tentang penyembelihan sapi (Q.S. al-Baqarah [2]: 68-74).

At-tadrij fit-tasyri’. Asas ini berdasarkan fakta bahwa masyarakat secara alamiah memiliki adat kebiasaan yang tentu tidak mudah untuk terjadi perpindahan sekaligus. Oleh karena itu, al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Cara ini agar lebih disenangi oleh jiwa bangsa Arab dan lebih mendorong mereka untuk menaatinya serta bersiap meninggalkan ketentuan lama untuk menerima hukum atau ketentuan baru. Asas tadrij memberikan jalan kepada kita untuk melakukan pembaruan karena hidup manusia mengalami perubahan[6].

Ada beberapa aturan hukum Islam yang dibentuk secara berangsur-angsur, seperti:

  1. Shalat. Awalnya shalat hanya diperintahkan pada dua waktu, yaitu pagi dan sore (Q.S. Hud [11]: 114), kemudian perintah wajib shalat 3 waktu (Q.S. al-Isra`[17]: 78), dan akhirnya berdasarkan sunnah fi’liyyah mutawatir, shalat wajib lima kali.
  2. Pengharaman riba. Awalnya riba hanya dikatakan sebagai perbuatan tercela (Q.S. ar-Rum [30]: 39; kemudian dinyatakan bahwa riba yang diharamkan adalah yang berlipat ganda (Q.S. Ali Imran [3]: 130); dan terakhir, riba diharamkan secara keseluruhan (Q.S. al-Baqarah [2]: 275 dan 278)
  3. Pengharaman khamr. Awalnya meminum khamr dipandang tercela untuk dilakukan karena lebih banyak madarat daripada manfaatnya (Q.S. al-Baqarah [2]: 219)[7]. Selanjutnya disebutkan bahwa orang yang hendak shalat dilarang meminum khamr (Q.S. an-Nisa`[2]: 43) secara implisit, cegahan ini dipahami bahwa meminum khamr ‘dibolehkan’. Ia hanya terlarang bagi yang hendak melaksanakan shalat; dan terakhir, Allah mengharamkan khamr secara mutlak (Q.S. al-Ma`idah [5]: 90).
  4. Pengharaman Zina. Awalnya, zina hanya diolok-olok atau dimaki-maki dan dikenakan tahanan rumah (Q.S. an-Nisa`[4]: 15-16)[8]. Kemudian hukuman bagi pelakunya diperberat (Q.S. an-Nur [2]: 2).

Maslahah[9]. Berasal dari kata ash-shulh atau al-ishlah yang berarti damai dan tenteram. Damai berorientasi pada fisik sedangkan tenteram berorientasi pada psikis. Maslahah secara terminologi adalah:جلب النفع و دفع الضرر عنهم  “perolehan manfaat dan penolakan terhadap kesulitan”. Maslahat adalah dasar dari semua kaidah yang dikembangkan dalam Hukum Islam. Ia memiliki landasan yang kuat dalam al-Qur’an (Q.S. al-Anbiya` [21]: 107) dan hadis yang diriwayatkan oleh ad-Daruqutni dan al-Hakim dari Abi Sa’id: لا ضرر و لا ضرار “Tidak boleh menyulitkan orang lain dan tidak boleh pula disulitkan oleh orang lain”.

Tahqiq al-‘adalah. Secara bahasa, adil adalah: وضع الشيئ في محاله , sedangkan secara terminologi ada banyak arti. Menurut Murtadho Muthahari (1920-1976)—sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid, pengertian pokok keadilan ada 4, yaitu: 1. Perimbangan = keadaan seimbang (mauzun >< at-tanasub = kekacauan); 2. Persamaan (musawah) = ketidakadaan diskriminasi dalam bentuk apapun; 3. Penunaian hak sesuai dengan kewajiban yang diemban. Arti ini hampir sama dengan keadilan ditributif (imbalan sesuai dengan jasa) dan keadilan komutatif (imbalan secara merata tanpa memperhatikan perbedaan tingkat tanggung jawab) seperti yang dijelaskan oleh filosof Aristoteles (w. 322 SM); 4. Keadilan Allah, yaitu kemurahannya dalam melimpahkan rahmat kepada seseorang sesuai dengan tingkat kesediaan yang dimilikinya. Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk berlaku adil (Q.S. al-Ma`idah [5]: 8; an-Nisa` [4]: 58; an-Nahl [16]: 90; dan al-Hujurat [49]: 9).


[1] Didedikasikan untuk mata kuliah Studi Hukum Islam, Muamalah/Ekonomi Syari’ah Semester I. Mata Kuliah ini adalah adopsi dari mata kuliah Tarikh Tasyri’, sehingga akan membahas sejarah dan perkembangan legislasi Hukum Islam.

[2] Menurut Mahmud Syaltut, al-Qur’an dan as-Sunnah mengandung ajaran tentang akidah dan syari’ah. Kemudian syari’ah itu sendiri terdiri atas ibadah dan muamalah. Ajaran tentang akidah bersifat permanen, pasti, dan tidak berubah karena terjadinya perubahan sosial kultural manusia; ajaran tentang ibadah berkaitan dengan persoalan-persoalan pengabdian kepada Allah dalam bentuk-bentuk yang khusus, seperti shalat, puasa, haji, zakat, dsb. Ajaran tentang ibadah ini juga permanen dan ditetapkan secara rinci. Sikap seorang muslim dalam persoalan ibadah adalah melaksanakannya sesuai dengan petunjuk dalil yang ada dalam al-Qur’an dan dijelaskan dalam as-Sunnah. Sedangkan ajaran tentang muamalah berkaitan dengan persoalan-persoalan hubungan antara sesama manusia dalam memenuhi kebutuhan masing-masing, sesuai dengan ajaran dan prinsip-prinsip yang dikandung oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Itulah sebabnya bidang muamalah tidak bisa dipisahkan sama sekali dengan nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian, akidah, ibadah, dan muamalah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Mahmud Syaltut, al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah (Kuwait: Dar al-Qalam, 1966), p. 11-13.

[3] Ini pendapat Ibnu Abidin al-Hanafi, sedangkan menurut Syafi’iyyah fikih dikategorikan menjadi 4; yaitu 1) fikih yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat ukhrawi (ibadah), 2) yang berhubungan dengan kegiatan yang bersifat duniawi (muamalah), 3) yang berhubungan dengan masalah keluarga (munakahah), dan 4) yang berhubungan dengan penyelenggaraan ketertiban negara (uqubah). Perbedaannya, Hanafiyah memasukkan munakahah ke dalam muamalah.

[4] Asas HI tersebut pada dasarnya merupakan asas yang universal (umum), sebab pada tataran operasional, tiap-tiap bidang HI memiliki asas tersendiri sebagai elaborasi dari ke-5 asas itu, misalnya asas kewarisan berbeda dengan asas muamalah dan jinayat. Asas kewarisan meliputi asas ijbari, waratha, bilateral, keadilan/keseimbangan, dan individual; asas-asas muamalah di antaranya asas tabadul al-manafi’,  pemerataan, ‘an taradin, ‘adam al-gharar, al-birr wat-taqwa, dan musyarakah, sedangkan asas jinayat diantaranya asas legalitas, materialitas, dan moralitas. Lihat dalam Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam (Bandung: LPPM Unisba, 1995)

[5] Al-Ala`i menambah dengan takhfif at-taghyir (meringankan dengan merubah) yakni mengubah format ibadah karena keadaan, seperti shalat khauf.

[6] Pembaruan yang dimaksud adalah memperbarui pemahaman keagamaan secara sistematis sesuai dengan perkembangan manusia dalam berbagai bidang, terutama teknologi. Akan tetapi asas ini sering dipraktikkan secara berlebihan dan tidak terukur. Sesuai dengan tuntutan modernitas, hendaklah setiap perubahan menggunakan tujuan dan target sehingga berjalan secara sistematis.

[7] Ayat ini memang tidak tegas melarang judi dan minuman keras, namun keharusan meninggalkan perilaku tersebut dapat dipahami secara tidak langsung, karena secara logika ayat ini menyebutkan bahwa hal yang lebih banyak merugikan, perlu ditinggalkan. Di sinilah keagungan ayat al-Qur’an dalam menyanjung manusia sekaligus menyindir dengan bahasa yang halus dan penuh logika. Baru setelah jiwa masyarakat bisa menerima pertimbangan untug-ruginya, diturunkan ayat selanjutnya. Lihat Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam (Dari Kawasan Jazirah Arab sampai Indonesia), (Bandung: Pustaka Setia, 2007), p. 154.

[7]

ÓÉL»©9$#ur šúüÏ?ù’tƒ spt±Ås»xÿø9$# `ÏB öNà6ͬ!$|¡ÎpS (#r߉Îhô±tFó™$$sù £`ÎgøŠn=tã Zpyèt/ö‘r& öNà6ZÏiB ( bÎ*sù (#r߉Íky­  Æèdqä3Å¡øBr’sù ’Îû ÏNqã‹ç6ø9$# 4Ó®Lym £`ßg8©ùuqtFtƒ ßNöqyJø9$# ÷rr& Ÿ@yèøgs† ª!$# £`çlm; Wx‹Î6y™ ÇÊÎÈ   Èb#s%©!$#ur $ygÏY»uŠÏ?ù’tƒ öNà6ZÏB $yJèdrèŒ$t«sù ( cÎ*sù $t/$s? $ysn=ô¹r&ur (#qàÊ̍ôãr’sù !$yJßg÷Ytã 3 ¨bÎ) ©!$# tb$Ÿ2 $\/#§qs? $¸J‹Ïm§‘ ÇÊÏÈ

[9] Secara umum maslahah dibagi 3, yaitu maslahah:  mu’tabarah, mulghah, dan mursalah. Maslahah mu’tabarah diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan: daruriyyah—primer, hajiyyah—sekunder, dan tahsiniyyah—tersier. Kandungan maslahah daruriyyah adalah 5 tujuan agama—maqashid asy-syari’ah), yaitu hifz: ad-din, an-nafs, al-‘aql, an-nasl, dan al-mal/al-‘ardh. Maslahah Hajiyyah adalah sesuatu yang mengandung manfaat, tapi tidak pokok, seperti nikah bagi laki-laki yang belum ba’at tapi tidak kuat menahan nafsu, sehingga dianjurkan puasa. Maslahah tahsiniyyah adalah sesuatu yang bersifat untuk memperindah, seperti walimatul-‘ursy.