Tiga Istilah dalam Ijtihad menurut al-Qarafi

Anda Perlu Tahu !

Shihab ad-Din al-Qarafi (w. 684 H) dalam kitabnya Syarh Tanqih al-Fushul fi Ikhtishar al-Mahshul fil-Ushul, menjelaskan tiga term yang berkenaan dengan ijtihad, yaitu al-wadl’, al-isti’mal dan al-haml (lughah)

Al-Wadl’: menjadikan kata/lafad memiliki makna tertentu sehingga menjadi terkenal. Misalnya kata ‘as-Sunnah’ menurut muhadditsun dan fuqaha berbeda arti. Nah muhadditsun dan fuqaha inilah dinamakan wadl’i al-lughah.
Al-Isti’mal: pemakaian kata yang telah dibuat oleh wadl’i al-lughah. Setiap kata yang digunakan—lisan maupun tulisan—memiliki dua kemungkinan maksud; hakiki dan majazi. Oleh karena itu, dalam memahami kata yang digunakan oleh pembicara atau penulis, kita mesti memahami betul rentetannya sehingga antara kata yang satu dengan lainnya kita maknai secara konsisten. Pembicara atau penulis dalam konteks ini disebut musta’mil al-lughah.
Al-haml: keyakinan pendengar atau pembaca teks tentang maksud pembicara atau penulis. Misalnya dalam al-Baqarah (2): 228, kata ‘al-Quru’ dipahami oleh Imam Malik sebagai at-tuhr (suci), sedangkan Imam Abu Hanifah = haidh.
Persoalannya,  Allah posisinya sebagai wadhl’i al-lughah ataukah mustamil al-lughah?
Abu Bakar al-Baqilani asy-Syafi’i (w. 403 H), penyusun kitab I’jaz al-Qur’an. Allah memakai bahasa Arab dalam berfirman. (Yusuf [12]: 2, انا انزلنه قرانا عربيا لعلكم تعقلون). Allah tidak berpaling dari makna yang dibuat oleh wadl’i al-lughah kecuali Dia menentukan syarat-syarat dan taqyidnya. Misalnya Allah menggunakan kata shalat. Secara bahasa sholat adalah do’a. Allah tetap menggunakan arti tersebut kecuali Dia menggandengkannya dengan rukuk dan sujud, maka baru yang dimaksud adalah shalat sebagaimana yang kita lakukan. Jadi Allah sebagai musta’mil al-lughah.
Sedangkan ulama dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan sebagian fuqaha berpendapat bahwa Allah menciptakan bahasa dan menentukan maknanya (wadl’i al-lughah).
Meskipun berbeda pendapat dalam memposisikan Allah, tapi mereka sepakat memposisikan mujtahid sebagai hamil al-lughah; penebak, penerka, atau ‘penyeret’ makna kata-kata yang digunakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Atas dasar ini maka selayaknya kita bisa menghormati perbedaan pendapat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s