Pemikiran Hukum Khawarij, Syi’ah, dan Jumhur

Fiqh Syi’ah, Khawarij, dan Jumhur
Pengantar
•Tiga aliran ini pada awalnya merupakan aliran politik, karena sumber ikhtilaf mereka adalah masalah kepemimpinan ummat Islam
•Kondisi politik pasca Tahkim:
Pendukung Ali terpecah menjadi dua kelompok, yaitu Pro Ali = Syi’ah, Kontra Ali=Khawarij
Sunni/Jumhur= Murji’ah, netral; sahabat yang bertikai karena politik tidak keluar dari Islam. Mereka tetap mukmin dan tidak kafir.
Dalam perjalanan, khawarij berubah menjadi aliran kalam karena mengkafirkan Ali dan Usman serta semua orang yang terlibat tahkim.
Umayyah ditentang oleh Khawarij (dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam) dan Syi’ah (merampas kepemimpinan Ali dan keturunannya).
Khawarij; ada beberapa kelompok/sekte, di antaranya: Muhakkimah, al-Azariqah, an-Najdah, al-Ajaridah, dan al-Maemuniyyah. Lebih terkenal sebagai aliran kalam.
Pemikirannya dalam bidang Hukum Islam:

1. kepemimpinan, setiap muslim berhak menjadi pemimpin—tidak harus Quraisy—budak/merdeka sama.

2. Had Zina, cukup jilid 100X (tidak rajam karena hanya berdasarkan Sunnah)

3. Al-Mahramat, an-Nisa (4): 23-24 ‘banatukum’ menurut sekte al-Maemuniyyah, menikahi cucu halal karena yang diharamkan al-Qur’an hanya anak.

4. Menikah dengan non-Khawarij tidak sah (karena mereka kafir), tapi sekte Ibadiyah: walau dianggap kafir, menikahi boleh.

5. Jika terjadi perang antara khawarij dengan muslim non-khawarij, maka yang boleh dijadikan ghanimah hanya senjata dan kuda.

Syi’ah

Sumber Hukum menurut Syi’ah:

1. al-Qur’an dan Sunnah (ada 4 tingkatan: sahih, hasan, musaq, dan dhaif—tidak dipakai)

2. hanya menerima hadis, pendapat, dan tafsir dari imam dan ulama syi’ah saja

3. menolak ijma umum sebab berarti mengambil pendapat dari orang lain yang bukan imam syi’ah.

Pendapat Hukum Syi’ah:

1. nikah mut’ah* sah dilakukan tanpa saksi dan i’lan. Nikah mut’ah tidak menjadi sebab saling mewarisi antar suami-istri, tidak perlu talak (berakhir dengan habisnya waktu); iddah 2 x haid bagi yang masih haid/45 hari yang telah manapause; jumlah perempuan yang dapat dipoligami tidak terbatas.

2. lelaki muslim tidak boleh menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, sebab al-Ma’idah (5): 5 dimansukh oleh al-Mumtahanah (60): 10.

3. tidak menerima konsep ‘Aul**, karena mustahil Allah menentukan furud al-muqaddarah tapi hartanya tidak cukup (Ibn Abbas juga tidak setuju Aul)

4. Nabi Muhammad SAW dapat mewariskan harta kepada ahli warisnya (Jumhur ulama sepakat, Nabi tidak mewariskan harta).

5.  Dalam Adzan, setelah “hayya ‘alal-falah” ditambah “hayya ‘ala khair al-’amal” (ziyadah dari sudut adzan menurut Jumhur).

*Berdasarkan an-Nisa (4): 24, kata ‘istimta’ semakna dengan mut’ah. Menurut Imam al-Baqir, nikah mut’ah boleh dilakukan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, dan halal dilakukan hingga kiamat. Namun khalifah Umar ibn Khatab mengharamkan nikah ini.

**Ada tiga versi tentang ulama yang pertama mengumukakan konsep ini. Pertama, Umar ibn al-Khatab, 2. Abbas ibn ‘Abd al-Muthalib, dan 3. Zaid ibn Tsabit.

Bidang Politik (menurut Syi’ah)
•Pengganti Nabi telah ditentukan secara wasiyat, penerimanya Ali ibn Abi Thalib menantunya. Pandangan ini sangat bertentangan dengan Jumhur/Sunni yang berpendapat bahwa Nabi tidak pernah menentukan penggantinya. Oki, musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’dah antara Muhajirin dan Anshar sebagai jalan keluar dari kemelut suksesi kepemimpinan yang menghasilkan Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dalam pandangan Syi’ah, Abu Bakar telah merebut hak Ali ibn Abu Thalib untuk menjadi pemimpin umat Islam.
•Bagi Syi’ah, imam mesti ma’shum (terjaga dari kesalahan), mengetahui makna wahyu—tersirat maupun tersurat, dan suksesi dilakukan dengan cara wasiyat.
Pemikiran Hukum Jumhur; Jumhur = jumhur ulama, yaitu ulama pada umumnya. Dalam hal ini mayoritas dibandingkan dengan Khawarij dan Syi’ah di atas.
1.Penolakan terhadap keabsahan nikah mut’ah. Nikah mut’ah haram dilakukan (= pendapat Umar)
2.Menggunakan konsep ‘aul (sama dengan pendapat Umar, Abbas dan Zaid ibn Tsabit)
3.Nabi tidak mewariskan harta (= Abu Bakar), sesuai hadis:

نحن معاشر الانبياء لانورث, ماتركناه صدقة

4. Jumlah perempuan yang boleh dipoligami dalam satu periode adalah 4 orang (penafsiran terhadap surat an-Nisa [4]: 3, dan hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Ayat dan hadis tersebut pada dasarnya merupakan pembentukan hukum Islam secara berangsur-angsur/tadrij.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s