Teori Akad

Teori Akad
Pengertian:
Al-’Aqd = simpulan, perikatan, perjanjian, dan permufakatan (al-ittifaq). Secara terminologi:
ارتباط ايجاب بقبول على وجه مشروع يثبت اثره فى محله
“Pertalian ijab dengan qabul sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada obyek perikatan”
Sesuai kehendak syari’at: akad tidak dianggap sah jika tidak sejalan dengan kehendak syara’. Misalnya kesepakatan untuk melakukan transaksi riba, menipu orang atau merampok.
Berpengaruh pada obyek perikatan: terjadinya perpindahan pemilikan dari pelaku ijab kepada pelaku qabul.
Rukun dan Syarat Akad
•Rukun*

Menurut Jumhur Ulama, rukun aqd ada 3, yaitu:

1.Sighat al-‘aqd (pernyataan mengikatkan diri, bentuk akad = ijab qabul)
2.‘Aqid/al-muta’aqidain (pihak-pihak yang berakad),
3.Al-ma’qud ‘alaih (obyek akad)

Ulama kontemporer menambahkan satu lagi, yaitu 4. maudhu’ al-’aqd (tujuan akad)**

*Ulama sepakat bahwa rukun adalah unsur yang membentuk substansi sesuatu, namun dalam aplikasinya terjadi perbedaan pendapat; Menurut Jumhur, aqid dan mauqud termasuk rukun, tetapi Hanafiyyah tidak, rukun akad adalah unsur-unsur pokok yang membentuk akad (suatu esensi yang berada dalam akad). Karena akad adalah pertemuan kehendak para pihak yang diungkapkan melalui pernyataan—baik ucapan/bentuk lain, maka rukun akad hanyalah pernyataan kehendak para pihak berupa ijab dan qabul. Aqid dan mauqud unsur luar—bukan esensi akad. Namun mereka mengakui bahwa aqid dan mauqud harus ada untuk terbentuknya akad, tapi tidak dinamakan rukun.

Secara substansial, kedua pandangan di atas tidak berbeda, karena ahli hukum Hanafi juga mengakui pentingnya akid dan mauqud. Perbedaan hanya terletak pada cara pandang saja, tidak menyangkut substansi akad. Az-Zarqa’—ahli hukum modern—menggabungkan kedua pandangan itu dengan mengatakan bahwa ketiga unsur tadi adalah unsur akad dan salah satu unsur akad itu adalah rukun, yaitu ijab-qabul.

**Keempat rukun ini dinamakan asas-asas perjanjian syari’ah. Rukun keempat ini mirip dengan hukum perjanjian kontinental pada umumnya, yaitu kausa (tujuan pokok akad), yang ditambahkan oleh ulama kontemporer berdasarkan penelitian induktif terhadap berbagai kasus pembatalan akad.

•Syarat Akad; ada 4 macam
1.Syarat terbentuknya akad (Syurut al-in’iqad)
2.Syarat keabsahan akad (syurut ash-Shihhah)
3.Syarat berlakunya akibat hukum akad (syurut an-Nafadz), dan
4.Syarat mengikatnya akad (syurut al-luzum)

Syurut al-In’iqad; ada 8 macam. Syarat ini dan rukun akad dinamakan pokok (al-Ashl). Jika tidak terpenuhi, maka tidak terjadi akad/akad  tidak memiliki wujud yuridis syar’i apapun. Disebut juga akad batil (Hanafi: akad yang menurut syara’ tidak sah pokoknya—tidak terpenuhi rukun dan syarat terbentuknya)

•‘Aqid, syaratnya cakap bertindak hukum (tamyiz/mukallaf), dan berbilang
•Ijab-qabul, syaratnya: 1. adanya persesuaian ijab-qabul/tercapainya kata sepakat, 2. kesatuan majelis akad*
•Obyek akad, syaratnya: 1. ada dan dapat diserahkan. 2. tertentu/dapat ditentukan, 3. dapat ditransaksikan (dibenarkan oleh syara’: milik dan bermanfaat, Jumhur kecuali Hanafiyah, barang harus suci).
•Tujuan akad, syaratnya tidak bertentangan dengan syara’**.

*majlis akad: tempat dilangsungkannya akad/keadaan selama proses berlangsungnya akad, sekalipun tidak pada satu tempat. Apakah qabul harus segera/al-faur? Jumhur—selain Syafi’iyah—tidak harus karena qabil perlu mempertimbangkan segala yang berkaitan dengan akad selama masih dalam majelis akad. Syafi’iyah (imam Ramli) mengharuskan al-faur. untuk memperlongggar prinsip ini, ulama Syafi’iyyah menetapkan konsep khiyar majlis (selama masih dalam majelis akad/belum berpisah badan, masing-masing pihak masih memiliki kesempatan berpikir, lanjut/batal).

** Misalnya bai’ al-’inah, menjual anggur kepada pembuat khamr, dan nikah tahlil.  Madzhab Maliki, Hambali, dan Syi’ah tidak sah karena bai’ al-’inah tujuannya untuk mempraktikkan riba. Syafi’iyah dan Hanafiyah memandang sah akadnya, niat urusan Allah. Tapi jika dikerjakan—syafiiyah—haram, Hanafiyyah: makruh tahrim. Kelompok pertama dikenal dengan teori esensial (nazariyah maddiyah), sedangkan kelompok kedua (syafiiyah dan Hanafiyah) teori material (nazariyyah zatiyyah) karena yang menjadi pertimbangan adalah materi akadnya, bukan esensinya.

Syurut ash-Shihhah; rukun dan syurut al-in’iqad perlu unsur penyempurna yang menjadikan suatu akad sah. Syarat sah ini ada 2, yaitu umum (berlaku untuk semua/sebagian besar akad), dan Khusus.  Syarat umum ada 4 dan hanya berkenaan dengan obyek akad. Jika tidak terpenuhi, akadnya fasid (Hanafi; akad yang menurut syara’ sah pokoknya, tapi tidak sah sifatnya. Jumhur tidak membedakan batil-fasid karena keduanya sama-sama tidak sah dan tidak ada konsekuensi hukum)
1.Aqid; tidak ada syarat penyempurna
2.Shighat; tidak ada
3.Mauqud;
a.syarat “dapat diserahkan”, syarat sahnya, penyerahan tidak menimbulkan kerugian (dharar). Jika menimbulkan kerugian, akadnya fasid.
b.“obyek tertentu”    tidak boleh mengandung gharar
c.“obyek dapat ditransaksikan”  harus bebas dari syarat fasid dan riba.
Syarat Berlakunya Akibat Hukum (Syurut an-Nafadz); syarat ini menjadikan akad terbagi dua, mauquf (sah tapi belum dapat dilaksanakan karena belum memenuhi syarat ini), dan akad nafidz (sah dan dapat dilaksanakan karena telah memenuhi syarat ini).

Meskipun sudah sah, ada kemungkinan bahwa akibat-akibat hukum akad tersebut belum dapat dilaksanakan.akad yang beul dapat dilaksanakan akibat hukumnya itu disebut akad mauquf (tergantung/terhenti). Syaratnya:

1. Adanya kewenangan yang sempurna atas obyek akad; milik sendiri/dapat kuasa. (Bai’ fudhuli, barang sewa/gadai)

2. Adanya kewenangan atas tindakan hukum yang dilakukan; terpenuhi jika Aqid telah mencapai tingkat kecakapan bertindak hukum yang dibutuhkan. Ada yang hanya butuh kecakapan minimal (tamyiz), butuh kecakapan sempurna (kedewasaan), dan juga kecakapan maksimal. Anak mumayyiz untuk melakukan akad timbal balik belum cukup kewenangannya—akad sah tapi belum dapat dilaksanakan, menunggu ijin walinya.

Syarat Mengikatnya Akad (Syart al-luzum); bebas dari khiyar

Pada asasnya semua akad yang telah memenuhi segala persyaratan, mengikat para pihak dan tidak boleh salah satu pihak menarik kembali/membatalkan tanpa persetujuan pihak lainnya. Namun ada beberapa akad yang menyimpang dari asas ini dan tidak serta merta mengikat. Ini karena sifat akadnya dan karena adanya khiyar.

Sifat Akad, contohnya:

Akad wadi’ah tidak mengikat kedua belah pihak (dapat dibatalkan sewaktu-waktu, tapi tidak berlaku surut; berlaku sejak dibatalkan)

Gadai, tidak mengikat penerima gadai

Kafalah (penanggungan), tidak mengikat kreditor, tapi mengikat kafil (penanggung).

Berakhirnya Akad

  • Berakhir masa berlakunya (jika memiliki tenggang waktu)
  • Dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad (bila sifatnya tidak mengikat)
  • Dalam akad mengikat, dapat berakhir jika: a. Jual-beli itu fasid (ada tipuan/syarat tidak terpenuhi), b. Berlakunya khiyar syarat, aib, rukyah, c. akad tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak, dan d. tercapainya tujuan akad itu secara sempurna.
  • Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia (Hanafi, yaitu pada akad sewa, gadai, kafalah, syirkah, wakalah, dan muzara’ah)
  • Tidak mendapat ijin dari yang berwenang (bai’ fudhuli)

4 thoughts on “Teori Akad

    • nikah yang bertujuan untuk menghalalkan kembalinya suami yang telah menalak 3 kepada istrinya. contoh A menceraikan istrinya dengan talak 3, maka mereka tidak boleh rujuk kecuali si isteri telah menikah dengan laki-laki lain dan telah bercerai dengan suami (laki-laki lain tsb). si laki-laki disebut muhallil. nah kalo pernikahan dengan si laki-laki hanya rekayasa supaya bisa kembali dengan isteri, namanya nikah tahlil, dan itu tidak boleh.

    • kafalah: jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua/yang ditanggung. atau mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penanggung. legalitasnya Q.S Yusuf ayat 72/78.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s