Konsep Dasar Akhlaq Islami

—إنّ فى الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كلّه وإذا فسدت فسد الجسد كلّه، ألا وهي القلب
—
Materi Akhlaq
1.Konsepsi akhlaq (definisi, dasar dan karakteristik)
2.Ilmu Akhlaq (definisi, ruang lingkup, obyek, tujuan dan manfaat)
3.Faktor pembentuk akhlaq
4.Aliran-aliran dalam akhlaq (universalistic hedonism dan egoistic hedonism)
5.Konsepsi baik-buruk dan hak-kewajiban
6.Ragam dan urgensi metodologi akhlaq
7.Klasifikasi akhlaq (dari segi sifat dan obyeknya)
8.Akhlaq terhadap orang yang lebih tua
9.Akhlaq terhadap dhu’afa
10.Akhlaq/adab dalam perjalanan
11.Macam-macam akhlaq terpuji (jujur, benar, teguh pendirian, adil, optimis, tawakkal, rajin, kreatif, rendah hati, santun, ikhlas, dermawan, dsb.)
12.Macam-macam akhlaq tercela (dusta, dhalim, sombong, malas, boros, pesimis, serakah, putus asa, hasud, iri-dengki, dsb.)
—Definisi Akhlaq
—Lughatan/etimologis kata akhlaq merupakan jamak dari al-khuluq atau al-khulqu, yang berarti (1)tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3) keperwiraan/muru`ah, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (al-ghadab). Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan dengan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan.
—Mansur Ali Rajab, membedakan antara adat kebiasaan dengan perangai dan antara perangai dengan tabiat.
—Perangai: perpaduan antara unsur fitri dan ikhtiari. Kalau hanya unsur fitri yang bekerja, namanya tabiat.
—Ahmad Amin: Adat, sesuatu dilakukan dengan kesadaran dan berulang kali.
—Al-Mas’udi: muru`ah adalah sifat yang mengajak orang berpegang dengan budi pekerti terpuji dan adat baik.
—Penamaan akhlaq dengan agama (din) berdasarkan penjelasan sahabat Ibnu Abbas yang menafsirkan lafad “khuluq” pada ayat 4 al-Qalam dengan din/agama.
—Dalam keseharian akhlaq disamakan dengan budi pekerti/sopan santun/kesusilaan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris = moral dan ethic yang berasal dari bahasa Yunani “ethicos” dan “mores” yang artinya “adat kebiasaan”
—Akhlaq secara istilah…
—
Istilahan/terminologis:
—Ibnu Maskawaih (w. 421 H): حال للنفس داعية إلى أفعالها من غير فكر ورويّة “keadaan jiwa seseorang yang mengajaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan pikiran lebih dahulu”
—Al-Ghazali (w. 505 H) “Kebiasaan jiwa yang tetap yang terdapat di dalam diri manusia yang dengan mudah dan tidak perlu berpikir (lebih dahulu) menimbulkan perbuatan manusia”
—Ahmad Amin dalam kitab al-akhlaq: “kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlaq”
—Kesimpulan: “keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang darinya lahir suatu perbuatan dengan mudah (karena kebiasaan), tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian. Jika melahirkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan syarak (hukum Islam), hal tersebut disebut akhlak baik; jika melahirkan perbuatan tidak baik, disebut akhlak buruk.
—
—Lanjutan…

Karena akhlaq merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, suatu perbuatan baru disebut akhlaq kalau memenuhi beberapa syarat:

1.Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang (=melekat)
2.Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu,sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan/dipertimbangkan secara matang, tidak disebut akhlaq.
—
Ilmu Akhlaq
—Al-Mas’udi dalam taisir al-khllaq fi ilm al-akhlaq: Kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengetahui kebaikan hati dan panca indera
—Ahmad Amin: ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang sepatutnya diperbuat sebagian orang kepada lainnya dalam pergaulan, menjelaskan tujuan yang sepatutnya dituju manusia dan menunjukkan jalan apa yang selayaknya diperbuat.
—
Dasar Akhlaq

Di dalam al-Qur’an, kata khuluq disebutkan pada dua surat:

1. al-Qalam (68): 4; y وإنّك لعلى خلق عظيمٍ

2. asy-Syu’ara (26): 137; إنْ هذا إلاّ خلق الاوّلين  “(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang yang terdahulu”

Sedangkan dalam hadis:

—HR.Tirmidhi: البرّ حسن الخلق
—HR. Ahmad dan Baihaqi: بعثت لأتمّم مكارم الاخلاق

Akhlaq yang patut diperbuat adalah yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah saw sebagai orang yang pertamakali berbuat dengan itu dan menjadi teladan/uswah dan ikutan/qudwah bagi umatnya. Hal ini sesuai dengan: فإذا قرأناه فاتّبع قُرانه  “apabila Kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaan itu (al-Qiyamah ayat 18)” Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini “apabila Kami membacakan dan menetapkannya dalam hatimu hai Muhammad, berbuatlah dengan apa yang Kami bacakan itu”.

Oleh sebab itu, perilaku rasulullah merupakan tafsiran yang akurat bagi al-Qur’an. Maka bisa dengan mudah kita pahami jawaban Aisyah kepada sahabat Jabir, bahwa akhlaq beliau (Rasulullah) adalah al-Qur’an. Perlu disadari bahwa menafsirkan al-Quran dengan lidah lebih mudah dibandingkan dengan mengamalkannya dalam bentuk perilaku.

—RUANG LINGKUP AKHLAK
—jika definisi tentang ilmu akhlak tersebut kita perhatikan dengan seksama, akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan – perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk.
—Dengan mengemukakan beberapa literatur tentang akhlak tersebut menunjukkan bahwa keberadaan ilmu akhlak sebagai sebuah disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, tauhid, fiqh, sejarah Islam, dan lain-lain.
—Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia. Dan selanjutnya ditentukan kriterianya apakah itu baik atau buruk.

Definisi dari ruang lingkup akhlak:

—Perbuatan-perbuatan manusia menurut ukuran baik dan buruk.
—Objeknya adalah norma atau penilaian terhadap perbuatan tersebut.
—Perbuatan tersebut baik perbuatan individu maupun kolektif.
—
—Karakteristik Akhlaq Islam

Ciri khusus akhlaq Islam (bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah) yang membedakannya dengan akhlaq wad’iyyah (buatan manusia) adalah:

1.Bersifat mutlak (الخيريّة المطلقة); kebaikan yang terkandung dalam akhlaq Islam (AI) merupakan kebaikan murni, baik untuk individu-masyarakat dalam lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apa pun.
2.Bersifat menyeluruh (الصلاحيّة العامّة); kebaikan itu berlaku untuk seluruh umat manusia.
3.Bersifat tetap, langgeng, dan mantap; tidak berubah oleh waktu, tempat, atau perubahan masyarakat.
4.Bersifat wajib/harus dipatuhi (الإلزام المُستجاب); kebaikan itu merupakan hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang yang melanggarnya.
5.Bersifat mengawasi secara menyeluruh (الرّقبة المحيطة); karena bersumber dari Allah dan berpengaruh lebih kuat daripada akhlak buatan manusia, maka seseorang tidak berani melanggarnya kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat. Ini terjadi karena agama merupakan pengawas yang kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup dan didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing agama serta diberi petunjuk.
—
Tujuan dan Manfaat Mempelajari Akhlaq
—Tujuan mempelajari ilmu akhlaq menurut Ahmad Amin: agar kita bisa mengetahui akhlaq yang baik dan yang buruk untuk selanjutnya yang baik kita lakukan, yang buruk kita hindari
—Pelajaran akhlak sebenarnya merupakan perincian dari pada takwa sebagai hiasan penerapan akidah dan ibadah. Dengan mempelajari akhlak, diharapkan manusia terbiasa melakukan yang baik dikerjakan dan yang buruk ditinggalkan dengan tetap menuju mardat Allah
—Akhlaq penentu derajat seseorang
—Akhlaq adalah buah Ibadah seperti dalam al-Ankabut ayat 45
—Keluhuran akhlaq adalah amat terberat timbangannya di akhirat
—Lambang kualitas masyarakat
—Untuk membentuk akhlaq yang baik
—menghindari pemisahan agama dengan dunia (sekulerisme)
—bertujuan untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Terhadap perbuatan yang baik ia beruasaha melakukannya, dan terhadap yang buruk ia berusaha untuk menghindarinya.
—
—Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda.إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغَ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيْمَ دَرَجَاتِ الْأَخِرَةِ وَأَشْرَفَ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لِضَعِيْفِ الْعِبَادَةِ لَيَبْلُغَ بْسُوْءِ خُلُقِهِ أَسْفَلَ دَرَجَةٍ فِى جَهَنَّمَ
Artinya:
“Sesungguhnya manusia yang berakhlak mulia dapat mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di Akhirat. Sesungguhnya orang yang lemah ibadahnya akan menjadi buruk perangai dan akan mendapat derajat yang rendah di neraka Jahanam.” (HR. Thabrani)

—ayat 4-6.لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ – إِلَّا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ

—
Macam-Macam Akhlaq
—Dari segi sifatnya: Baik (الأخلاق الكريمة-المحمودة) dan Buruk (الأخلاق السيئة-المذمومة)
—Kemudian, dari segi objeknya, atau kepada siapa akhlak itu diwujudkan, dapat dilihat seperti berikut:Akhlak kepada Allah, meliputi antara lain: ibadah kepada Allah, mencintai Allah, mencintai karena Allah, beramal karena allah, takut kepada Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah, taubat, dan nadam.

Akhlak kepada Rasulullah saw., meliputi antara lain: taat dan cinta kepada Rasulullah saw.

Akhlak kepada keluarga, meliputi antara lain: akhlak kepada ayah, kepada ibu, kepada anak, kepada nenek, kepada kakek, kepada paman, kepada keponakan, dan seterusnya.

Akhlak kepada orang lain, meliputi antara lain: akhlak kepada tetangga, akhlak kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan sebagainya.

Akhlak kepada lingkungan, meliputi antara lain: menyayangi binatang, merawat tumbuhan, dan lain-lain.

—
Ciri Orang Berakhlaq
—Tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu
—Akhlaqnya mencakup segala aspek kehidupan
—Berhubungan dengan nilai-nilai keimanan. al-Maidah 8
—Berhubungan dengan hari kiamat dan tafakkur alam
—Memandang segala sesuai dengan fitrah yang benar
—
Membentuk akhlak lewat:
1.Ilmu; banyak membaca buku untuk meneladani perilaku Rasulullah dan para Sahabat dan mengikuti kajian-kajian Islam
2.Meningkatkan kualitasibadah, mengurangi maksiyat, membentuk lingkungan yang baik, melatih amal/kerja kita, bergaul dengan orang-orang shalih, meninggalkan lingkungan yang buruk, dan mengambil hal positif dari apa pun yang terjadi.
—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s