Membangun Mental Sehat dan Mandiri

Membangun Mental Yang Sehat dan Mandiri

المؤمن القويّ خير من المؤمن الضعيف

MATERI POKOK:

1. Membangun mental kuat-sehat

2. Integritas diri

3. Mandiri-kreatif-inovatif

Mental yang Kuat dan Sehat

Kesehatan mental: suatu keadaan di mana mental tidak dalam keadaan terganggu. Ini tercapai ketika seseorang memiliki keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwanya, mampu beradaptasi, serta sanggup menghadapi problematika hidup tanpa mengakibatkan gangguan keharmonisan dalam unsur-unsur kejiwaannya.

Ada 6 indikator normalitas kejiwaan menurut Atkinson:

1.Persepsi realitas yang efisien; realistis menilai kemampuannya, tidak berfikir negatif terhadap orang lain, dan tidak berlebihan memuja diri sendiri.
2.Mengenali diri sendiri; memiliki kesadaran akan motif dan perasaannya
3.Kemampuan mengendalikan perilaku secara sadar; individu yang normal memiliki kepercayaan yang kuat akan kemampuannya, sehingga mampu mengendalikannya.
4.Harga diri dan penerimaan. Nyaman bersama dengan orang lain dan mampu beradaptasi/mereaksi secara spontan dalam segala situasi sosial.
5.Kemampuan membentuk ikatan kasih; dapat membentuk jalinan kasih yang erat serta mampu memuaskan orang lain. Peka terhadap perasaan orang lain dan tidak menuntut yang berlebihan kepada orang lain. Sebaliknya individu yang abnormal terlalu mengurusi perlindungan diri dan aktifitasnya berpusat pada diri sendiri.
6.Produktifitas. Individu yang baik adalah yang menyadari kemampuannya dan mengarahkannya pada aktivitas produktif.

Kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat: terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan (Allah) serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat.

Teori Adversity Quotient (AQ);  penentu utama mencapai kesuksesan untuk mencapai puncak pendakian. Orang dengan AQ tinggi (ulet, gigih, tekun, tahan banting, tabah, dan pantang menyerah) tidak takut menghadapi rintangan. Kesulitan, rintangan, dan tantangan tidak menghentikan langkahnya, bahkan ia mampu mengubahnya menjadi peluang untuk sukses.

diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz. Ada 3 tipe manusia dalam perjalanan menuju sehat mental:

1.Quitters; memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti di awal pendakian; mereka tinggalkan impian-impian dan memilih jalan yang lebih datar dan lebih mudah; quitters bekerja sekedar cukup untuk hidup, semangat minim, mengambil resiko sesedikit mungkin, dan biasanya tidak kreatif. Jika menghadapi perubahan, cenderung bereaksi klasik, melawan/lari menghindar; menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi, tidak bisa, tidak mau, mustahil, mana bisa, sudah terlambat, saya terlalu tua (muda, gemuk, pendek, tinggi, bodoh, laki-perempuan, dsb); tidak punya visi dan keyakinan akan masa depan dan kontribusi mereka kecil; kemampuan kecil/tidak punya sama sekali. Itulah yang menyebabkan mereka berhenti, namun dengan bantuan, mereka dapat dibawa kembali dan dorongan inti mereka untuk mendaki bisa dinyalakan kembali.

2. Campers

Campers; mendaki tidak seberapa tinggi, berhenti (berkemah) dan mengakhiri pendakian. Campers setidaknya telah menanggapi tantangan. Pendakian yang tidak selesai itu oleh sementara orang dianggap sebagai “kesuksesan”, padahal sebenarnya mereka sulit mempertahankan keberhasilan itu tanpa melanjutkan pendakiannya. Karena yang dimaksud pendakian adalah pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada diri seseorang. Ia menciptakan “penjara yang nyaman”. Mereka memiliki pekerjaan bagus dengan gaji dan tunjangan tinggi. Merasa sudah di puncak dan sudah saatnya berhenti dan menikmati. Mereka satisficer yang puas dengan keadaan yang sudah mereka capai. Mereka belajar untuk memetik kepuasan dengan mengorbankan ‘pemenuhan”

3. Climbers

Sebutan untuk orang yang seumur hidup membaktikan dirinya pada pendakian (pertumbuhan, perbaikan dan belajar seumur hidup). Mereka adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur-jenis kelamin-ras-cacat fisik/mental, serta hambatan lain menghadang. Hanya climbers-lah yang menjalani hidupnya secara lengkap. Untuk semua hal yang mereka kerjakan, mereka benar-benar memahami tujuannya dan merasakan gairahnya, mereka tahu perasaan gembira yang sesungguhnya, dan mengenalinya sebagai anugerah dan imbalan atas pendakian yang telah dilakukan. Ia katalisator tindakan yang membuat segala sesuatunya terwujud. Bedanya dengan quitters dan campers, climbers tidak melanjutkan pendakian karena tidak adanya tantangan lagi. Mendaki = berenang ke hulu. Banyak climbers yang sukses berasal dari kehidupan yang suram dan sulit. Mereka memahami betul bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Menghindari kesulitan = menghindari kehidupan.

Integritas Diri;

suatu pemahaman dimana terwujudnya perkembangan yang seimbang dan sinergis atas semua dimensi diri manusia secara berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, manusia perlu memberi perhatian yang seimbang, tepat dan proporsional.

Seimbang: bobot perhatiannya kurang-lebih sama baiknya

Tepat: perhatian yang diberikan itu sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan yang sebenarnya dari setiap dimensi

Proporsional: sesuai dengan kemampuan yang kita miliki untuk membangun setiap dimensi dalam diri kita sendiri.

Dimensi Dasar Manusia: Fisik (jasadiyah), Psikis (ruhaniyah), dan sosial (ijtimaiyah)

INTEGRITAS DIRI: cirinya

1. penampilan fisik segar-bugar

2. dapat diandalkan intelektualnya

3. tidak gampang terbawa emosi

4. spiritualnya mendalam, dan

5. luwes dalam pergaulan

Dimensi Fisik: makan, sandang, papan, seks, dll.

Dimensi Psikis (Jiwa): Kecerdasan intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan kecerdasan Spiritual (SQ)

Manfaat Mewujudkan Integritas Diri:

1.Secara fisik, akan merasa sehat dan bugar; siap melakukan aktifitas apa pun; tidak mudah terserang penyakit; kesehatan dan kebugaran fisik akan mempengaruhi kondisi mental. Dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat.
2.Secara intelektual, akan semakin mampu mengoptimalkan kemampuan otak; otak terlatih berpikir secara ilmiah; menganalisis dan mampu membuat kesimpulan-kesimpulan logis dan rasional; berkembang sikap kritis-rasional; mampu mengolah data dan informasi.
3.Secara emosional, membuat kita penuh motivasi dan kesadaran diri, empati, simpati, solidaritas tinggi, dan sarat kehangatan emosional dalam interaksi kerja; kematangan emosional membuatnya mampu bekerja di bawah tekanan. EQ berada di wilayah emosi dan bersifat asosiatif yang menjadikan seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi apa pun. inilah mengapa banyak orang ber-IQ rendah/sedang tapi dapat sukses dalam hidupnya karena ber-EQ tinggi (dan sebaliknya).
4.Dari segi kehidupan spiritual, kecerdasan ini membuat orang dapat memaknai segala sesuatu; dapat melihat berbagai kenyataan/fenomena kehidupan dalam perspektif yang lebih dalam, utuh dan menyeluruh; mengatasi segala keragaman dan perbedaan; tidak mudah terombang-ambing oleh kekacauan yang terjadi dan tidak mudah terbawa arus gelombang yang bisa membuatnya kehilangan pegangan.
5.Secara sosial; semakin mampu mengembangkan hubungan baik; semakin betah bersama orang lain dan mau bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menuntut adanya kerjasama yang solid; kita memiliki kepekaan hati dan perasaan untuk selalu memberi tempat bagi orang lain di hati kita, sehingga akan lebih tanggap terhadap kebutuhan dan harapan orang lain. Jadi hidup menjadi lebih nyaman, damai, dan menyenangkan.

Kelimanya tidak berdiri sendiri, melainkan serentak dan terpadu. Perkembangan diri dalam satu dimensi berpengaruh pada yang lainnya, harus harmonis dan mendukung secara sinergis bagi perkembangan secara utuh dan menyeluruh. Inilah esensi integritas diri.

Tips meningkatkan Integritas Diri:

1.Dimensi Fisik, memelihara dan meningkatkan kesehatan fisik, baik yang bersifat negatif (menjauhkan diri/menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan kerusakan pada fisik) maupun positif (makan makanan bergizi, olahraga teratur)
2.Dimensi Mental-Intelektual; belajar terus menerus, menggunakan dan melatih kemampuan otak semaksimal mungkin.
3.Dimensi mental-emosional; mengenal emosi diri, sehingga bisa tetap waspada, tidak ikut hanyut. Bagi yang matang emosinya kesadaran akan emosi dan tindakan pengendalian atas gejolak emosi dapat berlangsung bersamaan/cepat menguasai emosinya.
4.Dimensi mental-spiritual; didik hati kita untuk tetap menjalin hubungan mesra dengan Allah, memperdalam penghayatan religius dan membina kepekaan sentuhan ilahi dengan tafakur dan dzikir; bersihkan hati dari segala kelekatan duniawi, egois, keterasingan, kebohongan, kesombongan dan sgl kemunafikan hidup.
5.Dimensi sosial; memberi perhatian yang semakin besar dan baik terhadap sesama; semakin mengurangi sikap egoisme; membuka hati bagi sesama, kuncinya.

Ciri jiwa mandiri: Percaya diri, mampu bekerja sendiri, ahli dan terampil dalam bekerja (profesional), menghargai waktu, dan bertanggung jawab.

Ciri Jiwa Kreatif:

Terus berkarya, dan karyanya selalu:
– Inovatif
– Bermanfaat bagi masa depan umat manusia
– Dapat dimengerti

JIWA INOVATIF, cirinya: Berani mencoba, tidak takut salah, inisiatifnya tinggi, dan produktif.

Aku Harus Menjadi Muslim-Muslimah Mandiri-Kreatif-Inovatif

Shalih-Shalihah: pribadi dengan mental yang sehat-tangguh dan integritas diri yang mantap yang terwujud dalam sikap mandiri-kreatif-inovatif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s