Nikah Mut’ah, Muhallil, Menikahi Wanita Hamil, Anak Zina, dan Nikah Beda Agama

—Nikah Mut’ah
—Identifikasi Masalah: pernikahan kontrak/sementara, status anak
—Hukum nikah mut’ah; Syi’ah Imamiyyah, boleh alasannya an-Nisa (4): 24 فمااستمتعتم به منهن فاءتوهن اجورهن فريضة, kata ‘istimta’’= mut’ah sebagaimana bacaan Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas.
—Bagi yang membolehkan syaratnya: 1. dalam perjalanan; 2. tidak ada istri/budak; 3. batas waktu 3 hari; 4. sangat darurat. Iddahnya 2x haid/45 hari.
—Jumhur mengharamkannya; nikah mut’ah diperbolehkan sebelum perang khaibar (perang Authas), setelahnya haram, pertengahan fath makkah*—selama 3 hari—diperbolehkan dan setelah haji wada haram untuk selamanya.

*menurut al-Qasimi; peperangan Authas, Khaibar, dan fath al-Makkah memang satu rentetan. Al-Maqiry, nikah mut’ah diperbolehkan pada zaman permulaan Islam, tetapi berdasarkan hadis-hadis shahih, hukum kebolehannya telah dinaskh.

—Nikah Muhallil
—Identifikasi Masalah: rekayasa pernikahan, permusuhan yang mungkin ditimbulkan
—Nikah tahlil adalah menikahi perempuan yang telah ditalak 3 oleh suaminya, dengan tujuan untuk menghalalkan mantan suaminya menikahi lagi setelah bercerai dari suami ke-2 (muhallil). al-Baqarah (2): 230, وان طلّقها فلا تحلّ له من بعدُ حتّى تنكح زوجا غيره فإن طلّقها فلاجناح عليهما ان يتراجعا إن ظنّ ان يقيما حدودالله
—Jika pernikahan tersebut alami (setelah menikah ternyata tidak cocok dan bercerai), maka boleh saja, namun jika pernikahan tersebut direkayasa—untuk menghalalkan mantan suami menikahi lagi—hukumnya haram, karena disamping tidak mencapai tujuan pernikahan yang sebenarnya juga ada niat busuk. Alasannya: لعن رسول الله ص.ل. المحلّل والمحلّل له    dan الا أخبركم بالتّيس المستعار؟ قالوا: بلى يارسول الله. قال هو المحلّل. لعن الله المحلّل والمحلّل له
—Menikahi Wanita Hamil
—Identifikasi Masalah: status hukum, nasab anak, rekayasa, dll.
—Menikahi wanita hamil: terjadi perbedaan pendapat karena hadis:   لايحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الاخران يسقي ماءه زرع غيره-رواه ابودود والترمذى وصححه ابن حبان
—Wanita hamil yang bersuami, tidak boleh dinikahi/disetubuhi oleh orang lain.

Hamil karena zina ada perbedaan pendapat;

madzhab Hanbali dan Zufar al-Hanafi: tidak boleh dinikahi oleh yg tidak menghamili sebelum melahirkan, karena terkena iddah;
Abu Yusuf dan Ibnu Qudamah: tidak boleh, kalau kawin, fasid (an-Nur ayat 3);
Imam Syafi’i membolehkan dikawini oleh yang tidak menghamili tanpa harus menunggu lahir, karena bayi tsb tidak ada hubungan nasab dg lelaki yg menzina-i, maka adanya janin = tidak adanya, shg tidak perlu iddah;
Abu Hanifah (juga asy-Syaibani) boleh menikah dg orang lain tapi dengan syarat si suami tidak boleh jima’ dulu sebelum anaknya lahir.
Pendapat yang adil adalah pendapat Abu Hanifah karena mengandung unsur edukatif dan kuratif bagi pelaku zina, menjaga kehormatan anak, menutup aib, dan sesuai hadis:   “ الالاتؤطأ الحبالى حتى يضعن ولاالخيالى حتى يستبرأن بحيضة”Ingat, tidak boleh disetubuhi wanita hamil, sehingga melahirkan, dan tidak boleh disetubuhi wanita tidak hamil, sehingga jelas bersih rahimnya karena menstruasi”.
—Anak Zina?
—Anak Zina: anak terlahir suci, istilah anak zina/anak jadah hanya menambah beban psikis pada si anak.
—Anak zina ialah anak yang lahir di luar perkawinan yang sah; sedangkan perkawinan yang diakui di Indonesia adalah perkawinan yang dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya, dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
— Anak zina hanya mempunyai hubungan nasab atau perdata dengan ibunya.
—Anak yang lahir kurang dari 6 bln dari pernikahan, maka bapaknya berhak menolak keabsahannya, karena masa kehamilan yg paling sedikit adalah 6 bln berdasarkan al-Baqarah (2): 233 “والولدت يرضعن اولدهنّ حولين كاملين”dan al-Ahqaf (46): 15, “ووصّينا الانسان بوالديه إحسانا حملته أمّه كرها ووضعته كرها وحمله وفصاله ثلاثون شهرا”
—
—Nikah Beda Agama
—Pernikahan beda agama belum diatur di Indonesia, sehingga jika pasangan beda agama hendak menikah, harus memilih salah satu agama.
—Islam membedakan: muslim-musyrikah (haram); muslim-ahli kitab (boleh); muslimah dengan n0n-muslim (haram).
—Siapa musyrikah?
ØIbnu Jarir at-Thabari; hanya musyrikah bangsa Arab yang haram dinikahi, karena bangsa Arab pada saat turunnya al-Qur’an memang tidak mengenal kitab suci dan menyembah berhala, sedangkan non-Arab seperti China, India, Jepang, boleh karena diduga dahulu mempunyai kitab suci/serupa kitab suci seperti pemeluk Budha, Hindu, Konghucu yang percaya pada Tuhan Yang Mahaesa, percaya adanya hidup sesudah mati, dsb. Muhammad Abduh sependapat.
ØMayoritas ulama: semua musyrikah baik Arab/non, selain ahli kitab (Yahudi dan Kristen) haram.
—Boleh menikahi ahli kitab dengan alasan al-Maidah (5): 5 dan praktik Rasul yang menikahi Mariah al-Qibtiyyah (Kristen) dan Sahabat Hudzaifah al-Yamani yg menikahi wanita Yahudi. Namun ada sebagian yang melarang muslim menikahi ahli kitab karena pada hakikatnya doktrin dan praktek ibadah mereka mengandung syirik yang cukup jelas. Misalnya ajaran trinitas, kultus Isa dan Maryam (Kristen), dan kepercayaan Uzair putra Allah dan kultuskan Haikal Nabi Sulaiman (Yahudi).
—Dasar Hukum
—Muslim-musyrikah, al-Baqarah (2): 221 ولاتنكحوا المشركت حتّى يؤمنّ ولأمة مؤمنة خيرمن مشركة ولوأعجبتكم
—Muslim dengan wanita ahl kitab, al-Ma`idah (5): 5, …والمحصنت من المؤمنت والمحصنت من الذين أوتواالكتب من قبلكم…
—Muslimah dengan non-muslim, al-Baqarah (2): 221 …ولاتُنكحواالمشركين حتّى يؤمنوا ولعبد مؤمن خيرمن مشرك ولوأعجبتكم…
—Hikmah dilarangnya pernikahan muslim/ah dengan kafir adalah karena  antara muslim dengan kafir mempunyai cara dan filsafat hidup yang berbeda. Muslim percaya penuh atas keesaan Allah dan unsur rukun iman yang lain; sedangkan musyrik/kafir tidak mempercayai semua itu, bahkan mereka berusaha mengajak orang yang telah beriman untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti kepercayaannya.
—
—Hikmah diperbolehkannya muslim menikahi ahli kitab, ialah karena pada hakikatnya agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun agama samawi dengan Islam. Maka kalau perempuan ahl kitab kawin dengan muslim yang baik, taat pada ajaran agamnya, dapat diharapkan atas kesadarannya sendiri masuk Islam, karena  Islam agama yang sempurna dan sangat menghargai wanita dan kebebasan beragama. Jadi syarat utama pria muslim yang hendak kawin dengan ahli kitab adalah integritas agamanya yang bagus, karena kalau tidak malah bisa terseret murtad.
—Hikmah dilarangnya kawin muslimah dengan non-muslim, dikhawatirkan wmuslimah tadi kehilangan kebebasan beragama dan malah terseret ke agama suaminya. Anak-anaknya juga akan ikut agama bapaknya karena suami adalah kepala keluarga.
—
—Warning!
—Umat Islam harus hati-hati dengan tipu muslihat mereka untuk melenyapkan agama Islam, salah satunya melalui jalan perkawinan. Hendaknya umat Islam tidak memberi jalan/kesempatan mereka mencapai maksudnya.
—Menurut Courtenay Beale dalam bukunya Marriage Before & After: pasangan yang berbeda agama (religious antagonism/perlawanan-permusuhan agama) yang yakin dengan masing-masing ajarannya, akan sulit menciptakan keharmonisan, karena masalah agama adalah persoalan yang sangat prinsip dan sensitif.
—Perkawinan antarorang yang berlainan agama akan menjadi sumber konflik. Jadi pada dasarnya Islam melarang perkawinan orang muslim (pria/wanita) dengan non-muslim, kecuali pria muslim dengan integritas dan kualitas agama yang bagus menikah dengan ahli kitab yang ajaran dan praktek agamanya tidak jauh menyimpang dengan praktek ibadah orang Islam. Sayangnya mereka telah jauh menyimpang, sehingga sebagian ulama melarang perkawinan muslim dengan ahl kitab. Dan KHI merespon hal itu dalam pasal 40 (c), dilarang perkawinan antara seorang pria beragama Islam dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam; dan sebaliknya pasal 44, dilarang perkawinan antara seorang wanita beragama Islam dengan seorang pria tidak beragama Islam.
—
Kesimpulan
—Pernikahan beda agama ( muslim/-ah dengan non-muslim) haram menikah dengan alasan:
—Dari segi hukum positif, sesuai dengan pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1/1974 tentang Perkawinan.
—Dari segi hukum Islam, sesuai metode “سدّالذريعة “ tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kemurtadan dan kehancuran rumah tangga.
—kaidah “درء المفاسد مقدم على جلب المصالح ”, mencegah mafsadat—kemurtadan, broken home—harus diutamakan daripada upaya islamisasi yg masih samar keberhasilannya.
—Pada prinsipnya Islam mengharamkan perkawinan muslim dengan non-muslim (al-Baqarah 221), sedangkan ijin kawin pria muslim dengan wanita ahl kitab (al-Ma`idah 5) hanyalah dispensasi bersyarat (laki-laki berkualitas iman bagus) karena perkawinan tersebut beresiko tinggi (pindah agama/cerai).
—
—
—
—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s