Poligami dan Perceraian

—Poligami
—Berdasarkan UU No. 1/1974 tentang perkawinan, Hukum Perkawinan Indonesia menganut asas monogami, baik pria maupun wanita (pasal 3 [1]), namun jika dikehendaki dan hukum agama mengijinkannya, suami bisa beristri lebih dari satu, dengan ketentuan memenuhi persyaratan dan diputuskan oleh pengadilan (mengajukan permohonan tertulis pada pengadilan dan nantinya mendapat ijin dari sana, pasal 3 [2], 4 [1-2], dan 5 [1-2])
—Untuk PNS dan yang dipersamakan seperti pejabat pemerintahan desa, ada PP no. 10/1983 tentang ijin perkawinan dan perceraian bagi PNS, tujuannya agar PNS dapat dijadikan teladan sebagai warga negara yang baik  dalam masyarakat, terutama dalam membina rumah tangga. Di samping harus memenuhi UU no.1/1974, juga PNS yang akan cerai dan poligami, harus memperoleh ijin lebih dahulu dari pejabat yang berwenang (pasal 3-4 PP 10/83). Apabila tanpa ijin, dijatuhi hukuman berupa pemberhentian dengan hormat sebagai pegawai negeri tidak atas permintaan sendiri. Jika bercerai atas kehendak suami, maka suami harus menyerahkan 1/3 gaji untuk mantan istri dan 1/3 untuk anak-anaknya. Kalau tidak ada anak, maka ½ gajinya wajib diberikan kepada mantan istrinya. Jika atas kehendak istri, maka istri tidak berhak, kecuali apabilaistri terpaksa meminta cerai karena dimadu (8 [4-5]).
—
Bagaimana dalam Hukum Islam?
—Hukum asal perkawinan, menurut Islam adalah monogami, karena lebih mudah menetralisir sifat/watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Poligami membuat semakin peka dengan perasaan itu sehingga akan mengganggu ketenangan keluarga dan membahayakan keutuhannya.
—Poligami hanya diperbolehkan jika darurat, misalnya istri mandul. Itupun dengan syarat suami benar-benar mampu mencukupi nafkah untuk semua keluarga, harus adil dalam pemberian nafkah lahir-batin (giliran waktu tinggal).
—An-nisa(4): 2-3
—“Dan berikanlah kepada anak-anak  yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka (dengan jalan mencampuradukkannya) kepada hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adail terhadap (hak-hak) wanita yang yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinlah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itulah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”
—Keterangan Ayat
—Ayat 2 mengingatkan kepada wali yang mengelola harta anak yatim, bahwa mereka berdosa besar jika sampai memakan atau menukar harta anak yatim yang baik dengan yang jelek dengan jalan yang tidak sah.
—Ayat 3 mengingatkan para wali anak (pr) yatim yang mau mengawini anak yatim tersebut, untuk beriktikad baik dan adil serta fair; wali wajib memberikan mahar dan hak-hak lainnya kepada yatimah tersebut; tidak boleh mengawininya dengan maksud untuk memeras dan menguras harta yatimah atau menghalang-halangi yatimah nikah dengan orang lain (ini keterangan Aisyah ketika ditanya Urwah ibn al-Zubair mengenai maksud ayat ini). Jika wali khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap yatimah, maka tidak boleh mengawini yatimah yang berada di bawah perwaliannya, tetapi ia dipersilahkan menikahi wanita lain yang ia senangi sampai 4 orang.
—Dalam tafsirnya,Quraish Shihab menjelaskan kebolehan sampai 4 itu ibarat ‘ngluluh’, misalnya anak yang sedang sakit perut merajuk minta makan sambal, Ibunya berkata: silahkan makan semua/minta apapun yang kamu suka, asalkan jangan sambal.
—Maksud ayat 3: memberantas/melarang tradisi zaman jahiliyyah yang tidak manusiawi (wali yatimah mengawininya tanpa memberi mahar dan hak-hak lainnya dan ia bertujuan memakan harta yatimah dg tidak sah dan menghalangi orang lain untuk menikahinya agar ia leluasa memakan hartanya; tradisi lain, banyak istri dengan tidak adil dan tidak manusiawi)
—Hikmah poligami (jika darurat)
1.Untuk mendapatkan keturunan jika istri memang mandul,
2.Menjaga keutuhan keluarga; tidak harus menceraikan istri walaupun istri sakit keras/tidak mampu melayani/menjalankan tugas.
3.Menyelamatkan suami yang hypersex dari zina dan krisis akhlak lainnya.
4.Menyelamatkan wanita dari krisis akhlak, jika jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki.
—Bagaimana dengan Nabi?
1.Kepentingan pendidikan dan pengajaran agama. Banyak istri sebagi sumber informasi ajaran-ajaran Islam,
2.Kepentingan politik mempersatukan suku-suku bangsa Arab dan untuk menarik mereka masuk Islam. Juwairiyah (putri al-Harith kepala suku Bani Musthaliq) dan Shafiyyah (anak tokoh suku Bani Quraidhah dan Nadhir)
3.Kepentingan sosial-kemanusiaan. Menikahi beberapa janda pahlawan Islam yang telah lanjut usia, seperti Saudah binti Zum’ah (suami meninggal setelah kembali dari hijrah Abessinia), Hafshah binti Umar (suami gugur di Badar), Zainab binti Khuzaimah (gugur di Uhud), dan Hindun Ummu Salamah (suami gugur di Uhud). Mereka butuh pelindung jiwa, agama, dan kebutuhan hidup.
—Nabi poligami dengan Motif Nafsu?
—Kalau karena nafsu—seks-tentu sudah sejak muda beliau akan menikahi para gadis dari kaum bangsawan dan dari berbagai suku. Faktanya Nabi memilih janda yang jauh lebih tua. Nabi 25 tahun, Khadijah 40 tahun. Dan selama dengan Khadijah (25 tahun) Nabi tidak menikah dengan siapa pun, bahagia dengan 6 anak. Baru setelah Khadijah wafat (tahun 10 kenabian), beliau menikahi Saudah binti Zum’ah (itupun karena sudah ditawarkan kepada para sahabatnya, tidak ada yang mau)
—Bagaimana dengan Perceraian?
—Islam memandangnya sebagai perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah. Karena perceraian bertentangan dengan tujuan perkawinan, yaitu membentuk rumah tangga yang bahagia untuk selamanya. Cerai juga berdampak negatif terhadap mantan suami-istri dan anak-anak. Maka cerai boleh jika darurat; yakni terjadi syiqaq (kemelut RT yang sangat gawat, sudah diupayakan islah/rekonsiliasi), dan hanya cerailah solusinya.
—Cerai pertama sebagai talaq raj’I (memungkinkan suami merujuk istri dalam masa iddah). Iddah bertujuan untuk cooling period, merenungkan dengan tenang dengan harapan ada niat balik untuk rujuk.
—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s